
“Hah? Cuma mengantarkan kunci saja dan kau meminta bayaran?”, kata Daehyun tidak percaya pada apa yang didengarnya.
“Ya sudah kalau tidak mau. Aku akan meletakkannya disini dan pulang. Kau bisa mengambilnya sendiri.”, ujar Daeun tidak mau mengalah.
“Ya.. ya.. Baiklah. Aku tidak memiliki orang lain untuk dimintai tolong. Kau beruntung hari ini. Ya sudah, bawa sekarang. Aku akan membayarmu.”, kata Daehyun.
“Bayar aku dengan tiket VIP di konser yang selanjutnya.”, kata Daeun tanpa rasa malu.
“Hah? Kau melewatkan satu tiket VIP mini konser dan sekarang kau minta lagi?”, tanya Daehyun.
“Kemarin aku benar - benar tidak bisa mengelak karena itu menyangkut hidup dan matiku. Sekarang kedepannya kalau kerjaku bagus, tidak ada alasan untuk aku tidak menonton mini konsermu.”, ujar Daeun.
“Kau sebenarnya penggemarku atau hatersku sih. Ya sudah, terserah kau saja. Sekarang bawa kuncinya segera. Aku sedang buru - buru.”, ujar Daehyun baru saja ingin menutup ponselnya.
“Memangnya kau mau kemana?”, tanya Daeun datar.
“Bertanya lagi, aku anggap perjanjian kita batal.”, ujar Daehyun mengancam.
“Iya, iya.. Galak sekali.”, kata Daeun menutup ponselnya dan segera berjalan menuju tempat yang dikatakan oleh Daehyun.
Untuk kesana, Daeun perlu menaiki lift dua lantai. Sesampainya disana, dia hanya perlu berjalan ke area studio latihan untuk para selebriti senior dan berjalan di area lorong di sebelah kiri untuk menuju parkiran VIP.
Sesampainya disana, Daeun melirik kesana kemari mencari Daehyun.
“Yaa.. Ya.. Daeun. Disini.”, ujarnya dari balik sebuah mobil.
Daeun mengira, hanya ada Daehyun disana. Ternyata ada seseorang lagi yang baru saja berdiri.
‘Oh? Hyun Joo? Bukankah itu Hyun Joo, aktris yang sedang naik daun itu? Ada apa dia kemari.”, kata Daeun bertanya - tanya.
‘Jadi mereka akan pergi berdua? Sejak kapan mereka dekat? Ah.. kenapa aku memikirkan ini. Memangnya apa urusannya denganku.’, Daeun terkejut saat Daehyun menyadarkan dirinya dari lamunannya.
“Melamun terus. Mana kuncinya?”, tanya Daehyun menepuk bahu Daeun.
“Ini. Kau mau kemana?”, tanya Daeun polos.
“Bertanya lagi. Ya sudah, konser Triple Kill mendatang masih sekitar 6 bulanan lagi. Aku akan memberikanmu tiketnya nanti.
Daeun hanya bisa melihat Daehyun masuk ke dalam mobil miliknya, diikuti dengan Hyun Joo. Meski gadis itu mengenakan topi dan menutup mulutnya dengan masker dan skarf, tapi untuk Daeun yang sudah bertemu sebelumnya, dia bisa mengenali Hyun Joo.
__ADS_1
Daehyun menekan klakson sekali kepada Daeun.
“Kau terlihat sangat akrab dengannya.”, kata Hyun Joo mengeluarkan kalimat pertamanya sejak masuk ke dalam mobil Daehyun.
“Siapa? Daeun?”, tanya Daehyun belum menangkap siapa orang yang dimaksud oleh Hyun Joo.
“Hn. Wanita tadi.”, kata Hyun Joo.
“Ah.. dia adalah staff di kantorku. Hm.. mungkin kau belum tahu tapi semua member Triple Kill sangat supel. Kami semua memang akrab dengan staf kami. Jadi mungkin karena itu kau merasa begitu. Hm.. ngomong - ngomong kita mau kemana?”, tanlya Daehyun.
“Taman? Mungkin kita bisa mengobrol disana. Aku ingin tempat yang sepi dimana tidak ada yang mengganggu kita.”, ujar Hyun Joo.
“Hn. Baiklah.”, kata Daehyun.
‘Ada apa dengan Hyun Joo? Kenapa dia mengajakku bertemu diam - diam begini? Ekspresi wajahnya juga terlihat tidak baik.’, pikir Daehyun dalam hati. Namun dia merasa sungkan untuk mengatakannya.
Alhasil Daehyun hanya mengikuti kemana Hyun Joo ingin pergi. Dia khawatir karena wanita itu tidak membawa manager bersamanya.
Dan disinilah mereka. Sebuah taman yang luas dimana banyak orang mulai dari anak - anak hingga dewasa bermain. Ada yang membentang tikar untuk piknik, ada mendirikan tenda, dan ada juga yang di dalam mobil.
Daehyun menghentikan mobilnya disini. Mereka tetap berada di dalam mobil dan memilih untuk tidak keluar karena khawatir ada yang memotret. Meski karir Daehyun baru merangkak tetapi tempat - tempat seperti ini adalah tempat yang riskan orang mengenalinya. Triple Kill adalah band yang paling sering diundang untuk menghadiri festival.
Masih hening. Hyun Joo melihat keluar jendela. Daehyun tidak inisiatif bertanya dan hanya diam menunggu gadis itu memulai pembicaraan.
“Aku bertengkar dengan agensi dan managerku.”, kata Hyun Joo mulai membuka suaranya.
“Hm? Kenapa bisa begitu?”, Daehyun yang tadi melihat lurus kedepan kemudian menoleh ke arah Hyun Joo.
“Ada tawaran modelling yang datang padaku. Mirip seperti pemotretan yang kita lakukan untuk outfit hiking. Hanya saja aku tidak menyukai model pria nya.”, tutur Hyun Joo.
“Oh?”, Daehyun masih terlihat bingung.
Ketika tawaran modelling masuk, bukankah memang kita tidak punya pilihan memilih model yang kita suka? Seperti itu kira - kira yang ada di kepala Daehyun. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus profesional dan melanjutkannya.
“Dia adalah seniorku saat di sekolah menengah. Aku tidak menyukainya karena dia berandalan. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia masuk ke dunia modelling. Dia bersikap baik di depan tetapi dia mendekatiku dengan cara tidak baik di belakang. Aku berusaha menyampaikannya pada agensi dan managerku tapi mereka malah tidak menghiraukanku.”, kata Hyun Joo kembali menjelaskan.
“Ah.. berapa lama proses pemotretannya? Mungkin kau bisa meminta managermu untuk terus bersamamu sehingga pria itu tidak bisa mendekatimu lagi. Bagaimana?”, tanya Daehyun mencoba memberikan saran.
“Dia menganggapku berlebihan. Dia mengira aku bersikap begitu karena aku memang ingin mengganti model pria-nya. Padahal aku tidak pernah bertengkar dengannya sebelumnya. Tapi perkataannya membuatku merasa buruk. Aku tidak meminta untuk mengganti modelnya, tetapi aku hanya ingin dia memastikan model itu tidak menggangguku.”, ujar Hyun Joo.
__ADS_1
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Berapa lama proses pemotretannya?”, tanya Daehyun.
“Tiga hari di beberapa tempat yang berbeda di luar kota. Aku harus menginap dan managerku tidak bisa mengikutiku setiap waktu. Hah…”, kata Hyun Joo menghela nafas.
Kring kring kring. Ponsel Daehyun berbunyi.
“Sebentar aku mengangkat ponselku dulu.”, ujar Daehyun menekan tombol terima pada ponselnya.
“Oh.. hyung.”, sapa Daehyun.
Orang yang menghubunginya adalah managernya sendiri, Seongmin-hyung.
“Yaaaaa kau membawa lari Hyun Joo?”, teriak Seongmin.. Tanpa mengucapkan kalimat pembuka, dia langsung saja berteriak keras.
“Oh? Shiiiiii…. Daeun. Kenapa?”, tanya Daehyun menjawab dengan lantang.
“Yaa.. managernya datang kesini dan meminta kau mengembalikan Hyun Joo, kalau tidak dia akan mengatakannya pada press.”, ujar Seongmin.
“Haaa? Kenapa seserius itu? Pertama, aku tidak membawanya lari meski dia memang benar bersamaku. Kedua, aku akan membawanya pulang setelah aku membujuknya.”, kata Daehyun menjelaskan.
Sadar bahwa dirinyalah yang sedang dibicarakan, Hyun Joo langsung menoleh.
“Siapa?”, tanyanya dengan nada khawatir.
“Seongmin-hyung. Sepertinya managermu sudah ada di kantor agensiku untuk menjemputmu.”, kata Daehyun.
“Bagaimana ini, aku benar - benar tidak ingin pergi.”, ujar Hyun Joo panik.
“Memangnya kau akan berangkat pemotretan hari ini?”, tanya Daehyun kaget.
Mendengar pertanyaan Daehyun, Hyun Joo mengangguk.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi. Hyun Joo -shi, mereka mengira aku telah menculikmu. Aku tidak masalah, hanya saja Seongmin-hyung, aku malas mendengarnya mengomel.”, kata Daehyun berusaha untuk menempatkan dirinya pro pada Hyun Joo agar dirinya mau pulang.
“Oke baiklah.. Syuting hanya tiga hari di luar kota. Tips dariku, usahakan untuk tidak bertemu dengannya di luar proses pemotretan. Jangan membalas teleponnya atau meladeni ajakannya. Kau cukup keluar dari kamarmu ketika manager ada disana. Dan tetap berada bersama dengan staf lainnya. Jika dia masih mencoba mengganggumu, kau bisa menghubungiku.”, ujar Daehyun memberikan saran.
“Benarkah?”, tanya Hyun Joo memastikan.
Sepertinya gadis itu hanya fokus pada perkataan Daehyun yang terakhir.
__ADS_1