
“Hyun Joo-ah..”, panggil Daehyun ketika proses syuting hari ini selesai dan Hyun Joo sedang merapikan rambutnya di ruang ganti.
“Ne.. oppa?”, respon Hyun Joo meletakkan sisir yang tadi dia gunakan untuk membantunya menggulung rambut ke atas.
“Ada apa denganmu hari ini?”, tanya Daehyun menunjukkan perhatiannya.
Tidak seperti biasanya, Hyun Joo bersikap sekedarnya hari ini. Dia memang terlihat berinteraksi dengan member Triple Kill yang datang. Namun, hanya sebatas itu saja. Setelah para member Triple Kill pulang, Hyun Joo nampak lebih sering termenung menunggu bagiannya untuk syuting.
Adegan dirinya dengan Daehyun untuk hari ini tidak banyak diambil, sehingga Daehyun bisa dengan mudah memperhatikan Hyun Joo dan sadar jika ada yang berbeda dengan gadis itu hari ini.
“Oh? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Memangnya ada apa denganku hari ini?”, Hyun Joo justru melemparkan pertanyaan itu kembali pada Daehyun.
“Entahlah, aku merasa kau bukan dirimu hari ini. Apa kau ada masalah? Apa aku berbuat kesalahan?”, untuk pertama kalinya, Daehyun yang terkesan sangat cuek menunjukkan perhatiannya.
Biasanya, peran ini selalu diambil oleh Hyun Joo. DIa yang selalu paling sibuk menanyakan keadaan Daehyun. Dia yang paling sibuk menanyakan dimana Daehyun. Dia yang paling ingin menempel pada Daehyun sampai pria itu harus memperingatkannya agar media dan orang - orang di sekitar mereka tidak mencium adanya hubungan spesial antara mereka berdua.
“Ah.. mungkin hanya perasaanmu saja. Aku lelah. Sepertinya aku akan langsung pulang.”, ucap Hyun Joo mengambil tasnya dan berdiri dari kursinya.
“Aku kembali dulu. Sampai bertemu lagi.”, ucap Hyun Joo.
Besok adalah hari acara penghargaan sebuah stasiun televisi swasta. Hyun Joo sudah menjadi orang yang paling sibuk mencari gaun yang cocok karena dia akan tampil bersama Daehyun sebagai pembaca salah satu nominasi penghargaan.
Hyun Joo sangat senang dan sudah ribut menanyakan pendapat Daehyun. Setidaknya sampai dua hari yang lalu. Setelah itu, Hyun Joo nampak tenang. Dia juga tidak sering mengirimkan pesan pada Daehyun dan bahkan saat ini, Hyun Joo tak satu patah kata pun menyinggung tentang malam penghargaan itu.
Sudah jelas ada yang aneh dengan gadis ini. Tetapi, Daehyun juga tak bisa mendesaknya untuk mengatakan apa yang terjadi. Dia sudah mencoba bertanya dan hanya segitu jawaban yang bisa dia dapatkan.
Terlihat jelas wajah heran Daehyun. Pria itu mengkhawatirkan Hyun Joo, kekasihnya.
Sementara di balik ruangan ganti, Daeun yang sedang membereskan perlengkapan Daehyun hanya bisa memandang sendu.
‘Daehyun benar - benar serius dengan Hyun Joo. Tatapannya, kekhawatirannya, perhatiannya.’, ucap Daeun dalam hati.
“Semua sudah siap?”, tanya Daehyun kemudian selepas Hyun Joo pergi dari ruang ganti.
Daeun terdiam. Lamunannya membuatnya lupa dan tidak sadar jika Daehyun sedang berbicara dengannya.
“Daeun… Yaaaaa… Lee Daeun? Daeun-ah!”, Daehyun mencoba memanggilnya beberapa kali.
“Oh?”, Daeun terkejut saat Daehyun sudah menepuk pundaknya.
“Kenapa kau melamun? Sudah siap belum? Aku mau pulang dan istirahat.”, kata Daehyun.
‘Bilang saja kau ingin segera pulang dan memastikan Hyun Joo baik - baik saja.’, respon Daeun yang hanya bisa dia katakan dalam hati.
__ADS_1
“Kenapa? Kau belum makan? Mau makan dulu?”, tanya Daehyun tiba - tiba menawarkan.
“Tidak. Siapa bilang aku lapar. Aku tidak lapar.”, Daeun segera menyangkal.
“Ya sudah. Kau tidak perlu mengatakannya berkali - kali. Kalau tidak lapar, maka fokuslah. Kau melamun terus.”, kata Daehyun mengambil salah satu tas yang dipegang Daeun dan menyandangnya.
Di mobil, perjalanan pulang menuju apartemen Daehyun.
“Hm.. besok kau harus sudah ready ke salon pukul 2 siang. Pukul 4 maksimal outfit akan datang dan kita akan berangkat setidaknya pukul 5 sore.”, jelas Daeun memberikan informasi mengenai jadwal besok.
“Hm.. Hyun Joo di salon yang sama?”, tanya Daehyun.
“Kenapa? Kau mau di salon yang sama?”, tanya Daeun.
“Tidak. Hanya bertanya saja.”, ucap Daehyun kembali memainkan ponselnya.
“Tidak di salon yang sama. Hyun Joo akan di salon yang biasa dia gunakan. Kemudian kita akan bertemu di butik. Dari sana barulah berangkat bersama menggunakan van yang sudah di berikan oleh tim produksi.”, jelas Daeun lagi.
“Kau? Kau ada dimana saat itu?”, tanya Daehyun.
“Aku dan Yura unni akan berada di van yang berbeda. Dua orang stylist dan make up artist yang akan menemani kalian di dalam van untuk memastikan penampilan kalian berdua tetap paripurna.”, terang Daeun.
“Aku tanya. Kau ada dimana?”, ulang Daehyun lagi.
Padahal, Daehyun mulai tidak terbiasa jika Daeun tidak berada dalam jarak pandangnya. Karena itu pria tersebut terus memastikan dimana keberadaan Daeun.
“Kau tidak naik di van yang sama?”, tanya Daehyun lagi semakin menjurus.
“Hn. Aku menaiki van yang berbeda dan tiba lebih dulu untuk mengatur persiapan di red carpet dan ruang tunggu. Ah.. Daehyun-oppa, apa aku boleh ke kursi penonton saat kau tidak di ruang tunggu? Aku benar - benar ingin melihat para artis dari jarak dekat.”, kata Daeun memohon.
“Tidak.”, Daehyun menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.
“Eh? Kau tidak sedang bercanda, kan? Kenapa tidak boleh. Bukan kah biasanya kau tidak mempermasalahkan itu.”, ucap Daeun heran.
“Sekarang masalah. Kau managerku, kan? Jadi, kau harus standby dimana saja aku mungkin memerlukanmu. Jangan berharap datang di kursi penonton.”, ucap Daehyun dengan jelas.
“Cih.. pelit sekali. Padahal dia hanya membaca satu nominasi saja.”, sindir Daeun dengan nada yang datar.
“Aku mendengarmu.”, ucap Daehyun.
“Aku memang sengaja mengatakannya agar kau mendengarku.”, kata Daeun memalingkan wajahnya.
“Kau akan mengganggu orang - orang kalau duduk di kursi penonton.”, Daehyun memperjelas alasannya.
__ADS_1
“Siapa? Siapa yang terganggu? Bukankah kursi penonton memang untuk diduduki? Aku kira banyak yang kosong saat acara berlangsung. Kenapa aku tidak boleh mendudukinya?”, tanya Daeun.
“Tidak.”, kata Daehyun kembali.
Daeun tidak membalas dan hanya melihat ke jendela sambil mengunyah snak miliknya.
“Apa itu? Aku minta.”, kata Daehyun ingin mengambil snack itu dari tangan Daeun.
“Tidak.”, kata Daeun tak kalah tegas menyerupai respon Daehyun tadi.
“Aku mintaa.”, kata Daehyun menarik lengan Daeun.
Pria itu mencoba mengambilnya.
“Apa - apaan kau ini. Syuting sudah selesai, berarti aku bukan managermu. Besok baru kau bisa memerintahku kembali.”, jelas Daeun.
“Kau masih di mobil ini, berarti kau masih managerku.”, kata Daehyun tak mau kalah.
“Ya sudah.. Ahjussi.. Akiu turun disini.”, kata Daeun dengan nada jutek.
“Eh? Ahjussi.. Jangan dengarkan dia. Kau mau turun di jalanan seperti ini?”, tanya Daehyun memarahi Daeun yang jelas sedang ngambek.
Mereka tengah melewati jembatan panjang melewati sungai. Siapa yang mau turun di tempat seperti ini.
“Turunkan aku.”, kata Daeun lebih keras lagi.
“Kau gila. Ini di jembatan. Kau mau jalan sampai ujung?”, tanya Daehyun.
“Iya.”, ucap Daeun tegas.
“Kau marah? Ngambek karena aku tidak mengizinkanmu untuk duduk di kursi penonton?”, tanya Daehyun.
“Turunkan aku!.”, Daeun tetap pada pendapatnya.
“Ahjussi.”, perintah Daehyun dan akhirnya mobil van mereka berhenti di pinggir sekali.
Daeun sedikit terkejut dan menelan ludahnya. Dia kira kalau dia ngeyel satu kali lagi, Daehyun tetap tidak akan mengizinkannya. Dia hanya perlu ngambek sampai titik itu saja. Tapi, dia salah, Daehyun malah mengikutinya dan meminta supir van mereka berhenti.
Perlahan Daeun turun. Dengan ragu - ragu sebenarnya. Di kepalanya, dia sudah berpikir kalau dia harus melewati jembatan ini sendirian. Bisa - bisa dia akan sampai besok pagi. Ditambah, bisa saja dia bertemu dengan orang yang sedang mabuk di jalan ini.
‘Bagaimana ini.’, kata Daeun dalam hati.
Ternyata, segera setelah Daeun turun dari mobil, Daehyun ikut turun bersamanya. Daeun langsung melirik kebingungan ke belakang. Bingung apa maksud Daehyun.
__ADS_1