
Lee Daeun, gadis ini mondar - mandir di dalam apartemennya. Sesekali dia melihat kembali ke arah komputer miliknya. Kepalanya berpikir dan terus berpikir.
“Ah… bagaimanapun, ini adalah hal yang serius. Wanita itu jelas - jelas mengikuti Daehyun kemanapun dia pergi. Tidak seperti fans yang lain. Kenapa dia harus berpakaian yang aneh setiap kali bertemu dengannya ya. Wanita itu juga tidak mencoba dekat dengan Daehyun tetapi hanya mengamatinya dari jauh.”, Lee Daeun sedang memikirkan apa yang menjadi kecurigaannya saat ini.
Sebelumnya Daeun memeriksa beberapa orang yang ada di sekitar Daehyun atas perintah Bok Man Ahjussi. Dengan adanya pemberitaan tentang selebriti yang baru - baru ini terkena skandal, Bok Man ingin memastikan sekali lagi bahwa Daehyun tidak berada dekat dengan circle berbahaya yang mungkin bisa menjerumuskannya ke dalam skandal.
Daeun tidak menemukan pertemanan yang aneh. Daehyun tidak terlalu banyak hang-out dengan selebriti lainnya kecuali membernya sendiri. Dia beberapa waktu ini sedang dekat dengan Hyunjoo, tetapi Daeun tidak melihat Daehyun mencoba dekat dengan orang - orang di sekitar Hyunjoo.
Setiap kali nongkrong dengan kru drama atau pemotretan, Daehyun lebih banyak terkesan hanya memenuhi panggilan saja. Dia tidak banyak minum. Jika terpaksa harus minum, Daehyun akan memanggil taksi untuk pulang.
Dia bahkan lebih banyak minum jus atau soda dengan alasan dia menyetir sendiri.
“Daehyun-oppa terlihat lebih introvert dibandingkan dengan pencitraannya di mata para fans. Aku kira dia akan menjadi selebriti yang senang nongkrong bersama teman - teman, ke klub, atau bermain hingga larut malam. Dengan persona yang dia tampilkan, bukankah hal wajar jika dia melakukannya”, Daeun berkata - kata dalam hati.
“Tapi dia malah terlihat seperti bocah SMA. Sekolah dan pulang.”
“Ah.. kenapa disaat seperti ini, Bokman Ahjussi dan Seongmin-hyung tidak bisa dihubungi. Sebenarnya mereka bekerja di agensi atau di kantoran. Selalu saja setelah jam 5 tidak pernah bisa dihubungi.
“Daehyun-oppa juga. Aku sudah menghubunginya berkali - kali, kenapa dia tidak menjawabku.”, ujar Daeun frustasi.
“Ini yang terakhir kalinya. Kalau dia tidak menjawab, itu berarti salahnya. Aku mau tidur saja.”, ujar Daeun mencoba untuk menghubungi Daehyun kembali.
“Oh… tersambung. Hyunggggg… kenapa kau tidak mengangkat ponselmu?”, teriak Daeun pada Daehyun.
Mereka terlihat lebih akrab sekarang. Tidak, mungkin Daeun hanya terbawa suasana karena sedang mengkhawatirkan Daehyun.
Sementara itu di seberang sana, Daehyun baru saja sampai di area apartemennya. Dia memutuskan untuk berhenti sebentar di sebuah minimarket sambil memikirkan dan menimbang apakah orang yang mengikutinya di belakang hanya sasaeng biasa atau orang yang berbahaya.
Daehyun belum mau menghubungi polisi, karena dia tidak mau ada keributan dan namanya masuk ke dalam media.
Begitu Daeun menghubunginya dan berteriak, Daehyun langsun menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“Ah… wanita ini semakin kurang aja saja. Ya… kenapa kau berteriak? Dan lagi, kenapa kau terus menghubungiku malam - malam begini. Apa kau suka padaku? Kau ini karyawan, tidak boleh menyimpan perasaan pada sesama pekerja.”, Daehyun terus saja berceloteh dan tidak memberikan ruang untuk Daeun berbicara.
“Huh, apa yang dia katakan? Aku mencoba menyelamatkannya kenapa dia malah mengatakan aku suka padanya? Hyung, aku bukan suka padamu. Aku hanya ingin mendiskusikan sesuatu.”, jelas Daeun saat akhirnya dia berhasil mendapatkan kesempatan untuk berbicara.
“Sudah, besok saja. Aku sedang sibuk. Kau tidak tahu betapa ingin tidurnya aku saat ini. Oh.,.ya.. Apa kau menghubungi Bokman Ahjussi baru - baru ini?”, tanya Daehyn.
“Tidak bisa besok. Harus hari ini. Kau jangan kaget. Ini menyangkut keselamatanmu. Meskipun untuk saat ini, aku masih 60% yakin.”, kata Daeun.
“Ah.. apa - apaan kau ini. Sudah, besok saja bermain petak umpetnya. Kalau kau menghubungi Seongmin-hyung atau Bokman Ahjussi, segera minta dia untuk menghubungiku.”, kata Daehyun baru akan menutup ponselnya ketika Daeun berteriak.
“AKU CURIGA ADA YANG MENGIKUTIMU?”, teriak Daeun agar Daehyun mau memberikan sedikit perhatian pada apa yang ingin dia diskusikan saat ini.
“Oh? Apa kau bilang?”, tanya Daehyun memastikan apakah yang dia dengar saat ini benar.
“Aku melihat SNS mu. Semua SNS fans, mulai dari video dan foto. Entah mengapa hampir di semua tempat, selalu ada seorang yang aku kira adalah wanita dengan pakaian yang aneh.”, jelas Daeun.
Daehyun mencoba untuk mencerna perkataan Daeun. Persis seperti yang sedang dia takutkan saat ini.
“Tunggu, kenapa kau memeriksaku? Bukankah itu stalking namanya? Aku jadi lebih takut padamu daripada wanita iut.”, ujar Daehyun.
“Kau lupa apa pekerjaanku di kantor agensi? Apa yang harus aku lakukan. Sudahlah jangan bahas itu sekarang. Seseorang mengikutimu. Syukur kalau dia fans, bagaimana kalau tidak?”, ujar Daeun.
“Pertama, dia tidak pernah berada sangat dekat denganmu. Dia selalu memisahkan jarak darimu dan fansmu. Dia akan berdiri di ujung namun selalu tetap masuk frame. Pakaiannya aneh. Di beberapa foto saat musim panas, dia mengenakan mantel plastik seolah saat itu sedang turun hujan. Di tempat lain saat musim dingin, dia mengenakan mantel warna lain tetapi itu bukan mantel hangat. Aku harus memperlihatkannya padamu agar kau percaya.”, lanjut Daeun lagi.
“Bagaimana kalau aku kirimkan beberapa foto padamu.”, tanya Daeun.
“Hm. Coba kirimkan beberapa foto padaku.”, ujar Daehyun yang sudah memberikan sepenuhnya fokus pada Daeun.
Sembari menunggu kiriman foto dari Daeun, Daehyun terus melihat ke belakang. Sepertinya mobil yang mengikutinya tadi sudah tidak ada. Daehyun jadi penasaran apakah jangan - jangan orang itu adalah orang yang sama dengan yang mengikuti Daehyun sejak di tempat pertemuan tadi.
Ting Ting Ting
Ponsel Daehyun berbunyi pertanda pesan yang dikirimkan oleh Daeun masuk ke dalam ponselnya. Daehyun membuka satu persatu foto tersebut. Mulai dari foto fanmeet, foto suasana debut stage di luar gedung, hingga foto - foto performance mereka di sekolah dan festival.
Tidak hanya foto, Daeun juga mengirimkan beberapa video dan benar seperti yang dikatakan Daeun. Jika kita melihat hanya dengan berfokus pada masing - masing foto fans, maka sulit untuk menyadarinya.
Tapi, kalau sejumlah foto di SNS fans yang di tag ke Daehyun dan mencoba menelusuri akun beberapa fans kemudian melihat beberapa foto lain, memang ada seseorang yang selalu ada disana.
“Oh…. bulu kuduk ku jadi berdiri.”, kata Daehyun.
“Oh? Kenapa? Kau mengerti apa yang aku maksud sekarang?”, tanya Daeun.
Mereka tidak memutuskan sambungan telepon. Telepon itu masih berlangsung saat Daeun mengirimkan foto dan video itu pada Daehyun.
__ADS_1
“Yaa… Lee Daeun. Ayo kita bertemu sekarang.”, ujar Daehyun tiba - tiba.
“Eh? Sekarang? Bukannya kau mau tidur dan meminta bertemu besok?”, tanya Daeun bingung.
Maksud Daeun memberitahukan itu adalah agar Daehyun mulai berhati - hati. Detailnya tidak perlu mereka bahas sekarang. Mereka bisa membahasnya besok.
“Tidak, ayo bertemu sekarang. Aku berubah pikiran.”, ujar Daehyun.
“Tapi sekarang sudah jam 1 malam. Kau mau bertemu aku jam 1 malam dimana? Semua orang sudah tidur.”, kata Daeun.
“Banyak Cafe yang masih buka jam segini. Bahkan kita juga bisa bertemu di Pojangmacha terdekat. Aku akan menjemputmu. Aku ke arah apartemenmu sekarang.Kalau sudah sampai di depan apartemenmu, aku akan menghubungimu kembali.”, kata Daehyun.
“Oh? Oppaa.? Hyung? Daehyun-hyung?”, Daeun mencoba memanggil - manggil Daehyun berkali - kali namun sayang sambungan telepon mereka sudah terlanjur terputus.
“Ah apa yang harus aku lakukan sekarang. Mengikuti kemauannya dan bertemu? Ini sudah jam 1. Bukankah seharusnya aku tidur. Kenapa aku harus bertemu pria malam - malam begini. Tidak Daeun, anggap dia bosmu. Tidak rekan sekantor, tidak, dia adalah klien.”, ujar Daeun kemudian mengambil sweater dan outernya.
Dia bersiap - siap agar nanti pria itu menghubunginya, dia bisa langsung turun ke bawah.
********
“Hem? Jadi bagaimana? Coba jelaskan?”, ujar Daehyun yang duduk dengan santai sambil memakan odeng dan tteokbokki di salah satu pojangmacha terdekat yang bisa dia temukan.
Daeun tak langsung menjawab pertanyaan Daehyun dan hanya melihatnya. Melihat tatapan Daeun, Daehyun mengangkat dagunya seolah bertanya ‘ Ada apa kau melihatku?’.
Daeun mengeluarkan laptopnya dan membukanya di atas meja. Karena tempat yang sempit, Daehyun inisiatif untuk mengambil meja satu lagi. Daeun hanya melihatnya melakukan itu.
“Kau tidak pesan apa - apa? Memangnya kau tidak lapar?”, tanya Daehyun heran melihat Daeun yang belum juga memesan sesuatu.
“Kau kesini mau makan atau mau berdiskusi?”, tanya Daeun.
“Tentu saja keduanya. Untuk apa ke pojangmacha kalau kau tidak memesan sesuatu. Kau mau duduk disini dengan gratis. Kau mau pesan apa?”, tanya Daehyun lagi.
‘Ah.. orang ini. Padahal aku tidak ingin makan snack di malam hari karena aku sedang diet. Tapi tingkahnya malah membuat aku tidak tahan ingin ikut memesan makanan juga.’, ujar Daeun dalam hati.
“Bibi, aku mau 5 odeng, satu toppoki, dan satu ramyun.”, teriak Daeun dengan keras.
“Wah, makanmu banyak juga.”, ujar Daehyun.
“Bukannya kau yang membayar. Lagipula aku pesan karena melihat makananmu sebentar lagi sudah habis. Aku hanya akan makan sedikit.”, kata Daeun.
“Sekarang, perhatikan ini. Aku membandingkan beberapa foto dari fans. Kemudian melihat lagi beberapa event dari SNS beberapa fans yang tidak tag SNS hyung. Kau lihat wanita ini? Dia selalu berada di hampir semua event.”, jelas Daehyun mengulangi lagi penjelasan yang dia berikan di telepon, namun kali ini dengan bukti yang lebih banyak.
“Sepertinya dia sudah mengikutimu sekitar 6 bulan belakangan. Dia mengikutimu dari pertama kau debut. Lalu dia sempat berhenti selama kurang lebih 2-3 bulan dan beberapa minggu ini kembali terlihat mengikutimu. Karena aku tidak bisa menemukannya di foto - foto sekitar 4 bulan yang lalu.”, tambah Daeun lagi.
“Hm… apa kau ada kesempatan melihat mobil yang dia gunakan?”, tanya Daehyun.
“Hm.. aku tidak yakin. Karena hampir semua foto hanya seperti ini. Oh.. ada foto di sekitar kantor agensi dimana di depannya terdapat Cafe. Mungkin diantara mobil yang parkir di sana adalah mobilnya.”, lanjut Daeun lagi.
“Ada dua mobil disana. Mobil berwarna putih dan hitam. Hm.. tunggu, coba aku lihat di momen yang berbeda dan bandingkan platnya. Ah.. tapi foto saja sangat buram dan sulit untuk melihat platnya.”, ujar Daeun setelah mencari - cari beberapa foto yang diambil di area kantor dan melihat ke arah mobil.
Meski mereka bisa mendapatkan mobil berada dalam foto, tetapi tidak mungkin melihat plat nomornya. Karena fokus foto adalah fans. Bukan mobil.
“Tunggu, coba lihat ini. Kau melihatnya? Plat mobil mungkin tertutup, tapi kita aku melihat seperti ada mainan yang menggantung di kaca spion.”, ujar Daehyun.
“Oh, ya ya.. Lumayan terlihat, meski aku tidak bisa mengetahui mainan apa yang menggantung itu. Tetapi setidaknya aku bisa mengetahui ada mainan yang menggantung disitu.”, ujar Daeun mengarahkan pandangannya pada area yang ditunjuk oleh Daehyun.
Saat Daehyun masih menunjuk ke arah itudi layar laptop, Daeun yang terlampau bersemangat juga mengarahkan tangannya ke tempat yang sama. Alhasil jari mereka bersentuhan. Daeun langsung menarik tangannya karena terkejut.
Daehyun tentu saja menyadari hal tersebut.
“O-oh? Apa - apaan kau ini?”, tanya Daehyun.
‘Oh, ini, aku juga menemukan mobil dengan gantungan yang sama di foto ini. Dan ini. Kalau aku bisa menemukan hingga 5 lagi, aku yakin ini mobilnya. Kita bisa menanyakan pada tim keamanan agensi untuk melihat CCTV dan kita bisa mengetahui plat nomornya.
Daehyun memakan odeng yang baru diantarkan dengan santai. Padahal itu adalah odeng yang dipesan oleh Daeun. Daeun hanya menatapnya tidak percaya sebelum akhirnya mencomot toppoki dan mengaduk ramennya.
Setelah dia rasa dingin, Daeun memasukkan satu sendok besar ramyun itu ke dalam mulutnya.
“Sebenarnya, dari kemarin aku merasa ada yang mengikutiku. Kemarin hanya perasaanku saja. Tapi hari ini aku membuktikannya secara langsung.”, ujar Daehyun.
Uhuk uhuk uhuk
Daeun yang sedang memasukkan ramyun ke dalam mulutnya langsung terkejut.
“Hyung, hal penting seperti itu kenapa baru kau katakan sekarang?Bukankah seharusnya kau katakan sejak tadi?”, tanya Daeun tidak percaya.
__ADS_1
“Ya… kau ini wanita atau bukan? Kenapa gaya makanmu begitu?”, tanya Daehyun bingung.
Daeun segera masuk dalam mode anggung.
“AKu hanya heran kenapa kau baru mengatakannya sekarang padahal aku sudah menghubungimu berkali - kali. Kau tahu, hal seperti ini bisa saja sasaeng. Atau bisa saja hal lain yang mungkin bisa membahayakanmu.”, kata Daeun.
“Sudahlah, jangan menakut - nakutiku.”, kata Daehyun tiba - tiba jadi merasa cemas.
“Aku bukan menakut - nakutimu, tetapi memang begitu kenyataannya. Bagaimana kalau sebenarnya ini bukan sasaeng biasa. Jangan - jangan dari tadi kau tidak pulang - pulang karena ini.”, tanya Daeun.
“Hn.”, jawab Daehyun sambil mengambil odeng itu lagi.
‘Kenapa dia mengambil odeng yang aku pesan lagi. Dia memang niat mentraktirku atau tidak sih.”, ujar Daeun heran.
“Kau tidak perlu melihatku begitu. Bibi, tambah odengnya 5 lagi.”, ujar Daehyun berteriak.
Daeun langsung tersenyum.
“Katanya tadi tidak ingin makan. Begitu aku bilang aku yang bayar, kau menatapku tajam hanya karena aku memakan odeng pesananmu.”, komentar Daehyun yang sekarang sudah mencoba mencomot Toppoki milik Daeun.
“Lalu, kau tidak pulang? Bukannya besok kau ada reading?”, tanya Daeun.
“Hn.”, respon Daehyun yang sibuk mengunyah.
“Kenapa kau tidak menghubungi Bokman Ahjussi atau Seongmin oppa?”, tanya Daeun.
“Kalau aku bisa menghubungi mereka, aku juga sudah meminta bantuan mereka dari tadi. Ah.. entah apa yang mereka lakukan sekarang, kenapa mereka tidak menerima panggilanku sama sekali.”, ujar Daehyun frustasi.
“Kenapa melihatku?”, tanya Daeun.
“Aku boleh menumpang di apartemenmu?”, tanya Daehyun.
“E-eh? Lalu aku tidur dimana?”, tanya Daeun bingung.
“Kita tidur bersama.”, kata Daehyun.
Uhuk uhuk uhuk
Daeun tidak percaya apa yang sudah dia dengarkan saat ini. Pria ini sudah gila.
“Bercanda. Aku akan memesankan hotel untukmu. Biarkan aku tinggal di apartemenmu.”, kata Daehyun.
Daeun menggeleng.
“Kita belum kenal lama. Kenapa aku harus meninggalkan apartemenku untukmu. Kau tidur di hotel saja. Hotel kan aman, banyak satpamnya.”, ujar Daeun.
“Apartemen ku juga aman”, protes Daehyun tidak terima.
“Kenapa tidak menginap di rumah salah satu member Triple Kill?”, tanya Daeun.
“Bagaimana kalau setelah itu dia justru mengikuti salah satu member yang lain. AKu tidak mau membahayakan mereka gara - gara aku.”, ujar Daehyun meminum kuah odeng yang sudah habis.
“Oh! Sauna? Bagaimana kalau sauna?”, uja Daeun memberikan ide.
“Aku ini selebriti. Masa tidur di sauna. Kau mau aku menarik perhatian orang - orang dan membuat artikel tentang skandal di sauna?”, tanya Daehyun bingung.
“Hm. Begini saja. Kita ke hotel.”, ujar Daehyun.
Dia akhirnya menemukan ide terakhir. Meskipun ini bukan ide terbaik, tetapi tak ada ide lain lagi.Matanya sudah mengantuk, badannya jua sudah lelah. DIa harus pergi reading besok siang. Itu berarti dia harus beristirahat.
Meskipun mobil penguntitnya sudah tidak terlihat. Siapa yang bisa menjamin kalau ternyata mobil itu kembali mengikutinya.
“Kita?”, tanya Daeun bingung.
“Hm… kau temani aku tidur dihotel.”, kata Daehyun.
“Eh?”, Daeun memastikan pendengarannya sekali lagi.
“Di kamar berbeda. Aku hanya perlu kau ada di kamar dekat dengan kamarku. Kalau bisa memesan kamar yang berseberangan.”, jelas Daehyun.
“Apa bedanya?”, tanya Daeun.
“Dengan begitu, aku tidak sendiri. Kalau ingin keluar, kau harus mengabariku. Kalau aku ingin keluar juga begitu. Kalau Seonmin-hyung atau Bokman Ahjussi berhasil aku hubungi. Baru kau boleh pulang.
“Hm…”, Daeun nampak berpikir sebentar. Namun dia tidak menemukan ada yang tidak baik dari ideini. Lagipula mereka tidur di kamar yang berbeda.
__ADS_1
“Hm.. baiklah.”, ujar Daeun menyetujuinya.