Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 77


__ADS_3

“Aaah.. tidak.. Badanku remuk semua rasanya.”, teriak Daeun di kasurnya.


Kring kring kring kring


“Aah.. ini masih pagi… kenapa sudah ada yang menghubungiku? Ayolah.. Aku juga manusia yang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Kenapa masih ditelpon?”, Daeun melingkarkan badannya di kasur dan bergerak ke kiri dan ke kanan.


Dia mencoba untuk menghindari bunyi ponsel yang entah berada dimana sekarang.


5 menit… Ponselnya tetap berbunyi terus menerus entah dari siapa. Daeun mencoba untuk bangun dari tidurnya. Dia menampar pipinya sebentar sebelum berusaha untuk sadar dan mencoba menemukan dimana ponselnya.


Matanya mengarah pada seonggok celana jeans yang dia letakkan begitu saja tadi malam di depan pintu kamar mandi.


Sesuai dugaan Daeun, ponselnya memang sudah berada di sana.


“Yeoboseyo, apakah aku berbicara dengan Lee Daeun?”, ucap seorang wanita di seberang telepon.


Daeun mengusap - usap matanya dan memeriksa kembali ponsel yang sedang di teleponnya.


‘Nomor yang tidak dikenal’, tertulis seperti itu di layar ponselnya.


“Aku Jang Hyun Joo.”, ucap wanita itu segera saat sadar kalau sepertinya Daeun kebingungan.


“Ah.. Oh.. Iyaa.. maaf, aku tidak sempat menyimpan nomor ponsel.. Ah.. bukan maksudku..”, Daeun bingung harus menjawab apa.


‘Siapa aku yang bisa mengatakan tidak sempat untuk menyimpan ponselnya. Aku memang tidak ingin menyimpannya. Tidak.. Semua yang aku katakan terdengar salah.’, kata Daeun dalam hati.


“Bisa kita bertemu sebentar?”, ucap Hyun Joo pada Daeun di ponsel.


“Eh?”, Daeun bingung, apa urusan Hyun Joo ingin menemuinya.


Seminggu lalu, meskipun Daeun sudah ditugaskan menjadi manager Daehyun, Daeun tidak bisa memenuhinya karena tiba - tiba Bokman Ahjussi menghubunginya. Dia diminta untuk segera mendapatkan bukti keterlibatan Pisbol Ahjussi di kasino ilegal agar agensi dapat segera membatalkan pembaruan kontrak.

__ADS_1


Akhirnya, Daeun libur sebagai manager Daehyun selama seminggu dan digantikan oleh seorang manager pria yang sebelumnya menemani Yoon Ji Wo, gitaris Triple Kill dalam sebuah reality show berlibur di luar negeri.


Karena proses syuting Reality Show sudah selesai, maka dia ditugaskan sebentar untuk menggantikan Daeun.


“Ya.. bisakah? Hari ini Daehyun tidak ada jadwal syuting, kan?”, tanya Hyun Joo memastikan.


“Ah.. ne..Dimana kita bisa bertemu?”, tanya Daeun pelan.


************


“Hyung, aku tidak yakin lagu ini bisa mengalahkan single debut kita yang pertama. Ayolah, bagaimana kalau kita membuat konsep baru. Aku kira waktunya masih cukup. Masih sekitar 3 bulan lagi, kan?”, kata Jiwon yang merengek pada hyung - hyung nya.


Si jenius musik ini entah mengapa tidak memiliki feeling untuk main song di album mereka. Padahal, proses rekaman sudah selesai, konsep MV sudah rampung, hanya tinggal proses syuting MV nya saja karena menunggu jadwal Daehyun kosong.


“Yaa… kau pertimbangkan Daehyun. Dia sedang syuting drama. Dia tidak punya banyak waktu untuk syuting MV. Sekarang kau ingin mengganti main song-nya. Bagaimana bisa?”, ujar Hyun Woo, gitaris Triple Kill yang sedang memegang gitarnya.


Hari ini, mereka seharusnya membicarakan susunan lagu di album terbaru mereka yang akan rilis dalam waktu tiga bulan lagi. Segera setelah Daehyun menyelesaikan proses syuting dramanya, mereka akan segera comeback.


“Aku tidak masalah. Kita hanya perlu rekaman satu kali lagi. Biarkan tim produksi mendiskusikan kembali konsep MV dengan lagu baru. Aku juga masih belum yakin dengan lagu yang akan kita pilih untuk lagu utama. Semuanya bagus. Hanya saja.. Tidak spesial.”, Daehyun yang berdiri di atas meja menggeleng - gelengkan kepalanya sambil memainkan pulpen di jarinya.


“Benarkan hyung… aku juga merasa begitu. Kalau begitu selesai, kan? Jadwal paling sibuk adalah Daehyun. Kalau dia menyetujui, berarti kita tinggal ciptakan satu lagu lagi. Bagaimana?”, ujar Ji Won langsung bersemangat.


“Ya.. Ya… Daehyun.. Kau kira aku adikmu?”, Daehyun memukul kepala Ji Won lembut menggunakan pulpennya.


“Ah.. maafkan aku. Aku hanya terlalu bersemangat sampai lupa untuk menambahkan kata ‘hyung’.”, ucap Ji Won memberikan alasan.


‘Padahal, kadang aku lupa dia itu hyung atau bukan.’, bathin Ji Won dalam hati.


“Baiklah.. Yaaa.. Yoon Ji Woo, kau bisa mengatakannya pada Pilsung Daepyonim?”, tanya Hyun Woo melirik pada anggota paling tajir diantara mereka.


Sebagai salah satu anggota konglomerat, kekayaan Ji Woo sudah pasti lebih besar dibandingkan Pilsung Daepyo selaku CEO agensi mereka. Sehingga, apapun hal - hal yang ingin mereka putuskan sendiri, mereka pasti akan meminta Ji Woo untuk mengatakannya pada CEO mereka.

__ADS_1


Jika Ji Woo sudah berbicara, tidak akan ada yang bisa menyanggahnya.


“Pembicaraan serius selesai.. Yaa.. Daehyun? Kau benar berkencan dengan Hyun Joo?”, tanya Yoon Ji Woo.


Sebagai anggota yang lahir di tahun yang sama, Yoon Ji Woo bisa berbicara lebih blak - blak-an pada Daehyun dibandingkan dengan member lainnya.


“Huh,, darimana kau mendengarnya. Bokman hyung belum memanggilku. Itu berarti belum ada potensi skandal dengan Hyun Joo yang ditemukan oleh para anggota Idol Secret Agent.”, balas Daehyun kembali memainkan pulpen di jarinya.


“Itu berarti sebenarnya kalian sudah ada hubungan, tapi belum tercium?”, tanya Ji su polos.


“Yaaa… hubungan apa? Aku dan dia sama - sama bermain di drama yang sama sebagai pemeran utama. Tidak lebih dari itu.”, balas Daehyun.


“Yaaa… sebelum kita terikat kontrak dengan agensi, kita adalah sahabat. Kau akan terus menyembunyikannya?”, tanya Ji Woo lagi.


Daehyun terdiam sebentar.


************


Sebuah Cafe di pinggir Mall yang juga berdekatan dengan jalur masuk kereta menjadi tempat yang cocok untuk bertemu. Apalagi, tempatnya tidak terlalu strategis. Jauh dari stasiun televisi ataupun kantor - kantor media.


Tidak seperti pada umumnya, Daeun yang diajak untuk bertemu justru sudah tiba lebih dulu. Sementara Hyun Joo masih belum terlihat batang hidungnya. Daeun memilih untuk memesan minuman terlebih dahulu daripada dia harus menunggu di luar.


“Dia tahu aku hanya pekerja biasa. Kenapa dia malah memilih bertemu di tempat seperti ini? Lihatlah, ini harganya sangat mahal. Padahal hanya minuman seperti ini saja.”, komentar Daeun tentunya dengan suara kecil di mejanya.


Sudah 15 menit yang lalu dia menerima buku menu, tetapi dia masih belum juga menentukan pilihan.


“Dengan minum satu gelas disini, aku bisa makan dengan menu lengkap selama satu hari. Aku bahkan bisa membuat satu kudapan yang bisa aku simpan selama seminggu.”, protes Daeun lagi.


Dia mencoba melirik ke arah pintu, berharap semoga Hyun Joo segera datang. Tetapi nihil. Gadis itu masih belum terlihat.


‘Apa aku pesan saja? Toh, nanti dia kan akan datang. Pasti dia yang akan bayar.’, pikir Daeun.

__ADS_1


__ADS_2