
Dinginnya malam semakin menusuk ke kulit. Semakin larut, area pemancingan semakin ramai meskipun dingin tak kalah ingin mendominasi malam. Area pemancingan yang cukup besar dipenuhi oleh para pria paruh baya.
Ada yang sendiri, berdua, atau berkelompok. Mereka memasang tenda atau datang dengan tenda dari mobil. Meski ini adalah pedesaan, tetapi mereka yang memancing disini sepertinya berasal dari kota.
“Permisi? Apa kalian ingin menyewa tenda disini? Kami menyediakan penyewaan tenda.”, ucap seorang pria sedang mempromosikan bisnisnya.
Ternyata di samping toko kelontong tradisional, terdapat juga penyewaan tenda. Tulisannya sudah kabur sehingga tak begitu terlihat saat malam.
“Ah.. atau kalian sedang mencari penginapan? Jalan sedikit dari sini ada beberapa rumah warga yang juga menyediakan penginapan malam. Tempatnya sangat nyaman. Kalau beruntung, mereka juga bisa menyediakan makan malam.”, pria yang terlihat berusia 30-an itu terus menawarkan dengan nada ramah.
Dari kejauhan dia melihat Daehyun hanya berdiri di depan mobil. Daeun menyusul tak berapa lama setelahnya namun tak beradi untuk mengambil tempat di samping Daehyun. Dia memilih untuk berdiri di depan pintu.
Dingin memang. Tapi dia merasa aneh kalau berada di dalam mobil sendirian. Disamping itu, dia juga ingin mengetahui ekspresi Daehyun saat ini.
“Untuk saat ini belum. Terima kasih atas tawarannya.”, ucap Daehyun menolak dengan sopan.
Daeun tersenyum saat pria yang tadi menawarkan tenda lewat di depannya. Dia lantas segera beralih pada sebuah mobil yang tampak baru saja datang ke lokasi tersebut. Malam yang sangat panjang untuknya. Menawarkan ke semua pengunjung dengan sopan namun optimis.
Daeun mencoba sedikit demi sedikit mengintip ekspresi wajah Daehyun. Tapi dia tak bisa melihatnya.
‘Kenapa dia sampai berlebihan begini? Aku bahkan belum sempat bertanya darimana dia tahu aku ada disana.’, gumam Daeun frustasi dalam hati.
Bukannya dia tidak berterima kasih pada Daehyun. Hanya saja situasi ini membuat dia bingung.
‘Aku tahu dia sudah menyelamatkanku. Ahhh kalau dipikir - pikir lagi, kakiku masih gemetar.’, pikir Daeun.
‘Apa dia masih marah? Ah.. kenapa tidak langsung pulang saja. Kenapa malah berhenti disini. Apa dia tidak bisa menyetir malam hari. Tunggu, dia tidak ada jadwal syuting, apa?’, Daeun tiba - tiba segera teringat pada jadwal Daehyun.
“Emm…. permisi… Daehyun-shi?”, Daeun perlahan mencoba memanggil Daehyun.
Pria itu sama sekali tidak bergeming. Daeun mengeluarkan suara yang sangat kecil karena dia setakut itu untuk berhadapan dengan Daehyun sekarang.
“Daehyun-shi… apa kita tidak kembali saja sekarang? Bukankah besok kau masih ada jadwal?”, tanya Daeun mencoba untuk berbicara padanya pelan - pelan.
__ADS_1
“Ahjussi… Ahjussi….”, panggil Daehyun tiba - tiba dengan suara keras.
Daeun bahkan sampai terkejut. Alih - alih menjawab atau memberikan respon pada Daeun, Daehyun malah berjalan menghampiri orang yang tadi menawarkan tenda.
“Aku ingin menyewa tenda. Ada yang ukuran besar? Untuk dua orang.”, terang Daehyun.
“Oh… tentu saja.. Mari. Aku akan memasangkannya juga untukmu. Kau ingin memilih spot yang mana?”, pria yang sudah menawarkan ke banyak orang tadi sangat bersemangat karena ada dua orang yang ingin menyewa perlengkapan tenda miliknya.
“Ahjussi, apa kau juga menyediakan bagian dalamnya. Seperti kasur tipis dan selimut. Disini sangat dingin. Aku tidak yakin bisa melewati malam ini dengan baik.”, ungkap Daehyun.
“Oh.. tentu saja.. Tapi.. kau kan tidak perlu selimut. Bukankah kau bersama kekasihmu?”, ujar pria itu menggoda.
“Huh… dia bukan kekasihku. Berikan saja selimut dan penghangatnya. Lagipula, kenapa aku harus memesan dua tenda kalau dia kekasihku.”, ucap Daehyun.
Daeun tak mendengar percakapan mereka karena Daehyun dan pria itu berada jauh dari Daeun yang masih setia berdiri di depan mobil Daehyun.
Dia ingin mengikuti tapi dia cukup takut untuk mendekat pada Daehyun sekarang. Dia juga pasti akan kembali.
Daehyun kemudian mengikuti pria itu untuk mengambil tendannya.
Lagi - lagi Daehyun tidak menjawab. Dia diam seribu bahasa.
‘Hah.. apa dia ingin menyiksaku? Apa aku transparan?’, Daeun mengomel dalam hati.
Daripada tertinggal di mobil, Daeun memilih untuk mengikuti Daehyun yang berjalan ke arah rumah di samping toko kelontong.
“Ah… maafkan aku.. Sepertinya hanya tinggal satu.”, kata pria itu tiba - tiba membuat Daehyun terkejut.
“Huh? Bukannya tadi kau menawarkannya pada banyak orang? Aku kira kau punya banyak.”, protes Daehyun.
“Lihatlah.. Hyang menawarkan tidak hanya aku sendiri, tetapi juga ada anakku, istri, dan adikku.”, ucap pria itu.
“Mana aku tahu kalau ternyata mereka sudah berhasil menawarkan banyak pada pengunjung.”, pria itu hanya bisa memberikan alasan yang membuat Daehyun geleng - geleng kepala.
__ADS_1
“Daehyun-shi.. Kau ingin menginap disini? Di dalam tenda? Kenapa tiba - tiba? Random sekali. Bukankah seharusnya kita pulang saja sekarang?”, ucap Daeun menarik sedikit lengan baju Daehyun.
“Berkat dirimu, aku lupa mengisi bensin mobilku.”, ucap Daehyun akhirnya mengatakannya.
“Huh? Kau bercanda. Ahjussi, pasti di sekitar sini ada yang menjual bensin, kan?”, tanya Daeun.
Pria itu menggeleng.
“Hanya ada sekitar 5 km dari sini? Dan itu juga sudah tutup jam segini. Kau bisa kesana besok pagi jam 10.”, ucap pria itu.
“Eh?”, Daeun terheran - heran dibuatnya.
“Ahjussi, ya sudah, aku sewa satu tenda itu. Tapi aku ingin ada dua kasur dan selimut yang cukup. Apa disini boleh membuat api unggun?”, tanya Daehyun.
“Hm.. aku akan membuatkan penghangat di depan tenda kalian. Namun ada biaya tambahannya.”, ujar pria itu tersenyum.
“Tenang saja. Tidak masalah.”, kata Daehyun.
Pria itu dengan sigap dibantu oleh adiknya membawa perlengkapan kemah itu ke spot yang ditunjuk oleh Daehyun.
Spot yang sekiranya tidak terlalu dekat dengan kolam,. Tidak terlalu banyak pohon untuk menghindari nyamuk, dan tempat paling tinggi karena takut hujan.
Area pemancingan ini sudah memiliki tatakan tenda yang rapi sehingga pria itu bisa dengan mudah memasangnya. Tak sampai setengah jam, semua sudah selesai. Dia hanya perlu menyalakan penghangat dan juga sebuah api unggun di depan tenda untuk membantu menghangatkan.
“Daehyun-shi, kau tidak berpikir kita akan tidur berdua di dalam, kan?”, tanya Daeun pelan - pelan, memastikan kedua pria yang sedang mengatur mesin penghangat tidak mendengarnya.
“Huh… kau pikir aku gila? Ada yang di luar dan di dalam. Aku sudah meminta dua kasur dan penghangat serta selimut yang cukup, kau tidak usah khawatir.”, jelas Daehyun.
“Jangan begitu. Kau adalah selebriti, besok kau harus syuting. Bagaimana kalau kau sakit. Biar aku saja yang di luar.”, ujar Daeun segera saat Daehyun merapikan tempat tidur yang ada di bagian luar.
“Memang kau di luar? Kenapa? Kau kira, kau yang tidur di dalam? Maaf, aku paling tidak bisa terkena angin malam apa lagi nyamuk.”, kata Daehyun.
Bagian luar tenda sebenarnya bisa dibilang masih menjadi bagian tenda. Di luar tenda utama, tetap ada penutupnya yang berbentuk seperti kelambu. Daeun tak sepenuhnya di luar, tetapi dia juga tidak berada di satu ruang dengan Daeun. Ada penutup pintu ruang utama yang memisahkan mereka.
__ADS_1
“Aaa.. ha-ha.”, Daeun tersenyum kikuk karena sudah terlalu percaya diri.