
Seminggu berlalu sejak peristiwa menegangkan yang terjadi pada Daeun malam itu. Berkat kesigapan Daehyun mengetahui situasi, Daeun berhasil terlepas dari Pisbol, seorang Gagman yang ternyata memiliki kehidupan berbeda dari yang dia perlihatkan di televisi.
Dia memasuki masa jaya - jayanya beberapa tahun silam. Produk iklan, reality show, tawaran pemotretan, brand ambassador, hingga cameo di drama dan film sempat digelutinya. Dari sana, dia memperoleh pendapatan yang besar.
Pisbol terbawa dalam gemerlap pendapatannya dan tidak segan - segan untuk mentraktir siapa saja yang sedang dekat dengannya. Bahkan saat pemain - pemain baru banyak berdatangan ke industri hiburan, Pisbol masih mempertahankan sifat royalnya.
Hingga suatu waktu dia sadar bahwa dia tak memiliki banyak pendapatan seperti dulu. Seseorang memperkenalkannya pada kasino ilegal yang beroperasi di tempat yang berbeda setiap waktunya.
Bokman mencium hal seperti ini dan menugaskan tim yang baru saja dia bentuk untuk menyelidiki. Namun, Pisbol mulai mencium tindakan Bokman dan menghindar dengan baik. Oleh karena itu, dirinya mengutus Daeun yang juga notabene menjadi manager sementara Daehyun.
Bukan tanpa alasan. Dengan begitu, Pisbol tidak akan mengetahui keberadaan Daeun sama sekali. Namun, malam itu dugaannya salah. Bermodalkan informasi Daeun, ternyata satu gedung itu sudah disewa oleh pemilik kasino sehingga penyamaran Daeun langsung ketahuan.
Curiga dengan tugas yang diberikan pada Daeun, Daehyun langsung menanyakannya pada Bokman dan berhasil mendapatkan lokasinya karena Bokman memasang alat pelacak pada ponsel Pisbol.
Alhasil, keesokan harinya, Bokman langsung memanggil Pisbol dan segera mengakhiri kontrak mereka yang tinggal beberapa bulan lagi. Pilsung Daepyo-nim juga sudah menyetujuinya.
Beruntung, pria itu tidak mengetahui siapa pria yang masuk dan menyelamatkan Daeun. Nama Daehyun sama sekali tidak akan terpikirkan oleh Pisbol. Dia hanya berpikir bahwa mungkin orang itu adalah orang suruhan Bokman.
Daeun mendapatkan bayaran yang dijanjikan. Dia juga mendapatkan libur selama satu minggu sebelum kembali ditugaskan menjadi manager sementara Daehyun. Bahkan, Bokman memberikan Daeun pekerjaan untuk menjadi asisten Daehyun sampai syuting drama selesai.
“Akhirnyaaa…… hah… apartemen yang aku inginkan bisa aku dapatkan juga…..”, kata Daeun dengan ekspresi senang.
Dia berbaring di lantai apartemen dan memejamkan matanya. Hari ini adalah hari dimana dia menandatangani kontrak penyewaan apartemen. Uang deposito yang dia butuhkan berhasil terkumpul dan Daeun tidak ingin menundanya lagi.
Dibandingkan tinggal di apartemen yang seperti studio tanpa sirkulasi udara yang mumpuni, Daeun sangat menyukai apartemen yang ini. Meskipun, tidak terlalu besar, tetapi setidaknya dia memiliki 1 kamar sendiri, satu set dapur, satu kamar mandi, balkon, ruang tamu, dan satu ruangan penyimpanan.
Serta yang paling penting adalah, Daeun mendapatkan sirkulasi udara yang mumpuni karena apartemen ini dilengkapi dengan beberapa jendela.
“Hah.. disaat seperti ini, aku harus memutar lagi.”, ucap Daeun membuka ponselnya dan memutar salah satu lagu milik Triple Kill.
Setelah menaruh ponselnya di samping kanan, Daeun kembali menyibak - nyibakkan kakinya sambil berbaring.
__ADS_1
Kring kring kring kring
Saat asyik menikmati lantai apartemen barunya, ponsel Daeun berdering. Telepon darI Daehyun.
“Hm? Kenapa dia menghubungiku? Bukankah dia sedang syuting hari ini?”, ucap Daeun bingung.
“Yeoboseyo!”, sapa Daeun saat teleponnya sudah tersambung.
“Yaaaaaaa… Lee Daeun. Kapan kau kembali bekerja?”, tanya Daehyun sambil berteriak.
Sampai - sampai, Daeun harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Masih dua hari lagi. Ada apa?”, tanya Daeun.
‘Pria ini, kenapa selalu saja berteriak padaku. Padahal kalau dengan Hyun Joo saja, dia bersikap sangat manis.’, omel Daeun dalam hati.
“Bisakah kau masuk sekarang saja? Pria ini ingin membunuhku. Aku tidak cocok dengannya.”, setelah berteriak keras, sekarang Daehyun merengek.
“Eh?”, Daeun kebingungan.
Daeun tertawa terbahak - bahak. Namun, dia tidak ingin membiarkan Daehyun mendengarnya.
“Masih dua hari lagi. Bertahanlah.”, ucap Daeun lalu menutup ponselnya.
Waktu bekerja dengan Daehyun masih dua hari lagi. Dia tidak boleh menghancurkan mood Daeun hari ini.
*************
Syuting sudah selesai sekitar satu jam yang lalu. Saat ini masih pukul 8 malam. Hyun Joo memilih untuk menyelinap ke dalam mobil Daehyun. Dia mengatakan Yura unni sudah menyetujuinya. Hyun Joo memaksa untuk nge-date malam ini.
Sejak pertama kali mereka memutuskan untuk berpacaran, Daehyun belum pernah mengajak Hyun Joo nge-date sama sekali. Mereka hanya berbicara secukupnya di telepon dan menghabiskan waktu bersama selama syuting.
__ADS_1
“Daehyun-shi.. Kau punya target untuk menikah?”, tanya Hyun Joo random.
Diantara semua tempat untuk berpacaran, mereka memilih di bioskop outdoor. Dimana orang - orang menonton dari mobil mereka masing - masing. Dengan begitu, tidak ada orang yang tahu kalau mereka berdua sedang berpacaran.
“Eh? Menikah? Hm.. aku tidak pernah memikirkannya. Mungkin aku belum tertarik untuk itu. Kenapa kau menanyakannya?”, tanya Daehyun santai memakan pop cornnya.
“Kenapa jawabanmu dingin sekali?”, protes Hyun Joo.
Bukan itu jawaban yang diharapkan oleh Hyun Joo keluar dari mulut Daehyun. Meski dia tidak tertarik, setidaknya pria itu mempertimbangkan tentang pernikahan kedepannya. Tapi, dia seolah - olah tidak memikirkan masa depan dari hubungan mereka.
“Jangan bilang kau berharap pacaran kita ini akan berakhir dengan pernikahan? Bukan, kan?”, tanya Daehyun.
“Ah… haha.. Ten-tentu saja tidak. Bukan.. Bukan begitu.”, jawab Hyun Joo.
Dia takut Daehyun menilainya terlalu konservatif. Akhirnya Hyun Joo bersikap seolah - olah dia tidak terlalu memikirkannya. Padahal, dia sangat berharap hubungan mereka bisa bergerak ke arah yang lebih serius.
Meski usia mereka masih terbilang muda. Jika tidak sekarang, setidaknya nanti. Setidaknya, Daehyun memiliki proyeksi itu dalam pikirannya. Tapi, sepertinya belum.
‘Apa mungkin karena dia belum tertarik padaku? Tidak mungkin, jika dia tidak tertarik, tidak mungkin dia menerimanya. Tapi, aku dulu yang menyatakan perasaan. Bukan dia. Jangan - jangan dia hanya tidak enak atau berniat memanfaatkanku. Tidak.. Daehyun bukanlah orang yang seperti itu.’, Hyun Joo berperang dengan pendapatnya sendiri.
“Daehyun-shi… ah bukan.. Daehyun-Oppa?”, ucap Hyun Joo perlahan mengubah nama panggilannya.
Sepertinya, Hyun Joo sama sekali tidak tertarik dengan apa yang sedang tertulis di layar proyektor besar di depannya. Dia hanya peduli pada Daehyun sekarang.
Hyun Joo menatap Daehyun dan mencoba untuk mendekat padanya. Jika Daehyun juga memikirkan hal yang sama sekarang dengannya, Hyun Joo menantikan sebuah ciuman dari pria itu.
Hyun Joo semakin mendekatkan bibirnya, namun kemudian Daehyun memalingkan wajahnya kembali ke layar bioskop sehingga tujuan Hyun Joo untuk bisa berciuman dengan Daehyun gagal. Hyun Joo terdiam sebentar sebelum kemudian kembali pada posisi semula.
Malu, itulah hal yang ada di pikiran Hyun Joo sekarang.
Kring kring kring kring
__ADS_1
Telepon Daehyun yang kebetulan terletak di depannya berbunyi. Hyun Joo bisa melihat nama ‘Lee Daeun’ tertulis di layar ponselnya.
Ekspresi Hyun Joo seketika langsung berubah.