Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 107


__ADS_3

Daeun terduduk di sebuah halte yang berada tak jauh dari Gedung stasiun TV dimana acara Ajang Penghargaan Drama dan Film baru berlangsung beberapa jam yang lalu. Disampingnya terletak tas dan beberapa perlengkapan milik Daehyun yang ditinggalkan oleh pria itu begitu saja.


Selama beberapa bulan bekerja di kantor agensi, Daeun sudah beberapa kali dimarahi. Pertama, tugasnya yang merupakan Idol Secret Agent membuat para selebriti merasa Daeun terlalu mencampuri urusan mereka.


Daeun akan menarik para selebriti itu keluar dari zona kesenangan mereka sekaligus menjadi potensi skandal besar. Tak sekali dua kali dia harus rela masuk ke dalam klub yang tidak pernah dia masuki sebelumnya hanya untuk menarik seorang selebriti agensi yang mabuk dan berpotensi menyebabkan skandal.


Sebelum tim agensi lain yang bertugas datang, Daeun adalah tangan pertama yang harus mengatasi hal tersebut.


Pekerjaannya yang mengungkap beberapa transaksi mencurigakan, circle pertemanan yang toxic, dan kegiatan para selebriti membuat tidak sedikit yang membenci Idol Secret Agent termasuk dirinya.


Belum lagi terakhir kali, dia hampir saja dilecehkan oleh Pisbol bahkan dirinya hampir berada dalam bahaya yang lebih besar karena itu. Semua dia lakukan demi mendapatkan kehidupan yang tidak pernah di dapatkan sebelumnya.


Hampir tidak ada yang menerima Daeun karena dia tidak memiliki keluarga. Agensi dan pekerjaan ini adalah satu - satunya harapan Daeun agar bisa mengubah hidupnya. Tinggal dan besar di panti asuhan membuat Daeun menginginkan banyak hal yang sebenarnya hal biasa bagi orang luar.


Sesederhana ingin memiliki tempat tidur sendiri, kursi sendiri, meja makan sendiri, kulkas sendiri, toilet sendiri, memesan makanan sendiri, dan hal lain yang bagi orang lain sudah menjadi rutinitas mereka.


Daeun selalu berbagi dan tidak memiliki ruangnya sendiri sebelum ini. Dan diantara semua kesulitan itu, Daeun merasa hanya Daehyun yang memperlakukannya seperti biasa. Bahkan seperti teman.


Meski Daeun mengomel karena Daehyun seringkali melanggar aturan Bokman Ahjussi, tapi Daeun menikmati kebersamaan yang tidak pernah dia dapatkan.


Sebagai penghuni panti asuhan, Daeun memang mendapatkan kesempatan untuk bersekolah. Tetapi, tidak ada yang mau berteman dengannya karena dia tidak memiliki pengaruh apa - apa.


Daeun tidak pernah merasakan makan di depan minimarket bersama teman. Tidak pernah bermain PC bang bersama sahabat, tidak pernah camping, dan semua itu bisa dia lakukan saat dia bekerja bersama Daehyun.


Kemarahan Daehyun tadi membuat Daeun benar - benar terluka. Tidak, dia kecewa pada dirinya sendiri. Daehyun jelas - jelas sudah memperingatkannya tentang interview. Daehyun tidak ingin menerima interview apapun. Seharusnya, Daeun bisa mengatasi itu dengan baik tapi dia malah mengiyakan dan membiarkan Yura dan manajemen Hyun Joo mengambil alih.


‘Aku tahu aku salah. Tapi bukankah dia juga keterlaluan memarahiku di depan semua orang? Dia bahkan berteriak padaku.’, tetesan air mata masih keluar dari pipi Daeun.


Sedari tadi dia sudah melewatkan banyak sekali bis. Orang - orang yang menunggu bersamanya hanya melihat Daeun dengan ekspresi bingung.


Kring kring kring


Sebuah deringan ponsel berbunyi. Sudah tiga kali sejak tadi namun Daeun tidak mendengarnya. Telinganya masih berfungsi dengan baik. Tapi hati dan pikirannya menolak mendengarkan apapun di sekitarnya. Semua hening. Semua yang ada di sekitarnya hanya bergerak dengan cepat tanpa mengeluarkan suara.


“Agassi, Agassi… “, panggil seseorang di sampingnya.


Wanita berusia paruh baya itu menepuk bahu Daeun sampai dia tersadar.


“Oh?”, ucap Daeun ketika tersadar ada yang memanggilnya.


“Ponselmu berbunyi. Kau tidak mau mengangkatnya?”, tanya wanita itu.


“Ah.. hn..”, jawab Daeun sambil menghapus air matanya dan mengecek ponselnya.


“Bis nya sudah datang. Aku duluan. Kau tidak mau naik?”, tanya wanita itu kembali.


“Oh.. ya. Aku akan naik.”, balas Daeun kemudian mengambil tas disampingnya dan naik mengikuti wanita itu bersama dengan calon penumpang lainnya.

__ADS_1


“Yeoboseyo.. “, jawab Daeun saat mengangkat ponselnya.


Dia tidak memperhatikan nama yang ada di balik ponsel itu saking tidak fokusnya.


“Lee Daeun?”, panggil orang di seberang sana.


“Oh.. Ne.. Bokman Ahjussi.”, ternyata itu adalah Bokman Ahjussi.


Daun bisa langsung mengenal suaranya.


“Aku dengar dari kru kalau Daehyun memarahimu di ruang tunggu karena sebuah interview.”, Bokman langsung masuk ke inti pembicaraan.


“Ah.. Ne..”, Daeun berusaha menahan tangisnya lagi.


Mengingat kejadian tadi, entah kenapa membuat hatinya sedih.


“Tidak usah kau pikirkan. Mungkin dia sedang sensitif. Kau sudah pulang? Aku dengar Daehyun pergi begitu saja dengan van dan tidak menunggumu. Kau bisa naik taksi dengan kartu kredit perusahaan. Tidak masalah.”, ucap Bokman Ahjussi.


“Sudah.. Aku sudah pulang. Tidak perlu Ahjussi. Aku sudah naik bus. Jaraknya tidak terlalu jauh.”, jelas Daeun.


“Hm.. baiklah kalau begitu. Kau tidak perlu sedih. Besok aku akan bicara pada Daehyun.”, kata Bokman Ahjussi.


“Tidak.. Kejadian hari ini memang kesalahanku. Aku tahu kalau Daehyun tidak menyukai interview seperti ini, tapi aku tidak berhasil mengatasi itu dengan baik.”, terang Daeun kembali.


“Hm.. baiklah kalau kau berpikir seperti itu. Dia terkadang suka berlebihan. Baiklah. Besok tidak ada jadwal syuting kan? Kau istirahatlah.”, kata Bokman Ahjussi lagi.


“Dia sudah dewasa. Aku sudah mengirim orang untuk mengurusnya. Kalau dia melihatmu disana. Mungkin dia akan memarahimu lagi. Sudahlah, kau pulang dan istirahat. Dua hari lagi, kau bisa kembali standby bersama Daehyun untuk melanjutkan syuting dramanya.”, kata Bokman memberikan arahan.


“Hm.. baiklah kalau begitu. Kamsahamnida.”, balas Daeun sebelum menutup ponselnya.


***********


“Halo… Daehyun! Aku tidak bisa membiarkan percakapan kita berakhir begitu saja. Mari kita bertemu untuk berbicara.”, ucap Hyun Joo kembali menghubungi Daehyun yang sudah di perjalanan menuju tempat after party.


“Apa lagi yang harus dibicarakan? Aku kira semua sudah jelas.”, balas Daehyun.


“Tentu saja ada. Aku minta maaf atas sikapku tadi. Temui aku di klub *****.”\, ucap Hyun Joo.


“Kenapa disana? Bukankah acara After Party diadakan di klub ***********.”\, tutur Daehyun mengoreksi.


“Mereka mengubah lokasinya. Kau tidak mendapatkan informasinya?”, tanya Hyun Joo.


“Aneh.. aku tidak mengetahui apapun tentang perubahan lokasi. Apa kau tidak salah?”, tanya Daehyun.


“Tidak. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menghubungi kru drama.”, ucap Hyun Joo.


“Ahjussi\, putar arah ke klub ******.”\, ucap Daehyun memberitahu supir van nya.

__ADS_1


Hyun Joo tersenyum menang di balik ponselnya.


“Kalau begitu. Sampai bertemu disana.”, kata Hyun Joo.


“Yaaa.. Jang Hyun Joo, apa yang mau kau lakukan? Bukankah acara After Partynya tetap di klub yang lama.”, protes Yura.


“Eonni, kau bilang kalau aku ingin bertemu dengan Daehyun tanpa diketahui media, aku harus cerdas? Aku akan menemui Daehyun di klub lain untuk menghindari media. Kau ini, tidak tahu apa - apa.”, kata Hyun Joo.


“Yaa… kau bodoh atau apa? Justru kalau kau bertemu Daehyun di luar acara After Party, itu akan lebih mencurigakan. Kau kan co-star nay di drama yang sedang on-going, jadi tidak masalah kalau kalian terlihat akrab bahkan di acara after party.”, ucap Yura menjelaskan pada Hyun Joo.


“Oh.. apakah begitu?”, mendadak, Hyun Joo mulai meragukan keputusannya.


“Ah.. aku tidak tahu. Aku sudah mengatakan begitu pada Daehyun. Kalau aku bilang aku salah. Justru dia akan menganggapku tukang bohong.”, kata Hyun Joo.


“Huh, memang kenyataannya begitu. Kau sudah membohonginya. Memangnya kenapa kalian bertengkar?”, tanya Yura tiba - tiba.


“Bertengkar? Siapa yang bertengkar. Kami tidak bertengkar.”, Hyun Joo terkejut karena Yura mencium bau - bau pertengkaran mereka.


“Kau pikir, kau bisa menipuku? Tatapan Daehyun padamu berbeda. Interaksi kalian juga aneh.”, kata Yura.


“Aneh dimananya? Menurutku tidak ada yang aneh dengan hubungan kami.”, Hyun Joo tetap saja tidak ingin mengaku.


Dia tahu benar. Kalau dirinya mengaku, Yura pasti akan mengancang - ancang untuk mempengaruhinya agar segera putus dari Daehyun.


“Kalian tidak memberikan tatapan atau senyuman hangat. Caramu memperlakukan Daehyun setelah dia berhasil memenangkan penghargaan juga biasa saja. Bahkan kau terlihat ragu - ragu. Selain itu, sikap Daehyun pada managernya juga berlebihan. Apa - apaan memarahi Daeun sampai sebegitunya.”, kata Yura sambil memicingkan matanya memberikan tatapan curiga pada Hyun Joo.


“Kalau ingin menulis novel, tulis saja sendiri. Jangan melibatkan aku.”, ujar Hyun Joo memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan.


Yura masih memandanginya sambil memakan sepotong sosis yang dia beli di mini market.


“Habiskan saja sosismu.”, kata Hyun Joo.


“Ahjussi, di depan belok kiri. Kau tahu tempatnya kan? Jangan turun di depan klub. Turun di samping mini market seperti biasa.”, ujar Hyun Joo sambil mengenakan perlengkapannya.


************


“Hah… bagaimana aku harus berhadapan dengan Daehyun nanti. Apa dia akan mendiamkanku? Atau dia akan memarahiku lagi? Atau dia akan berpura - pura tidak terjadi apa - apa? Lebih baik pilihan terakhir. Argh… apa yang harus aku lakukan.”, Daeun sampai di apartemennya.


Dia langsung melemparkan tas itu begitu saja di atas sofa dan menjatuhkan tubuhnya di kasur. Pandangannya fokus ke langit - langit kamar sambil sesekali menghela nafas.


Setelah lebih kurang 5 menit dia memperhatikan langit - langit, Daeun bangun dan membuka jendela kamarnya. Ini alasan kenapa dia menyewa apartemen ini. Selain berada di kawasan yang lebih aman, Daeun juga menyukai beberapa posisi jendela yang langsung mengarah pada hutan kota.


Sayangnya, apartemen ini belum memiliki balkon yang memadai. Semua apartemen dengan balkon yang mumpuni sudah dia tanyai. Semuanya mahal. Dengan gaji per bulannya sekarang, Daeun hanya mampu menyewa apartemen yang satu ini. Tapi, dia sudah bersyukur ketimbang harus menyewa studio. Perlahan dia merasa bisa semakin dekat dengan mimpinya.


Tetapi, seiring dengan itu, stress yang ia peroleh juga semakin tinggi. Lagi - lagi dia kembali memikirkan kemarahannya Daehyun tadi padanya.


**********

__ADS_1


__ADS_2