
Rintik shower terdengar melegakan malam itu. Daehyun sudah selesai berendam sambil mencari - cari lirik yang pas untuk album terbaru bandnya. Beberapa track musik sudah mendapatkan lirik yang pas, namun entah mengapa, mereka kesulitan untuk mencari lirik yang tepat untuk main track mereka.
Percaya atau tidak, Daehyun dan teman - teman satu bandnya sudah 5x mengganti tema hanya dalam satu bulan ini. Di luar kesibukan aktivitas solo mereka yang dimulai lebih cepat dari perkiraan, mereka harus menyelesaikan album ini setidaknya dalam waktu 3-4 bulan kedepan termasuk syuting MV dan juga aktivitas promosi.
Tidak seperti debut pertama mereka dan beberapa single yang keluar setelahnya, waktu promosi mereka dibatasi dan pihak agensi hanya memilih beberapa stasiun saja. Hal ini karena mereka ingin fokus pada pemasaran off-air dibandingkan dengan on-air.
Mereka memfokuskan pada pagelaran festival - festival dimana mereka bisa bermain sempurna. Bahkan pihak agensi sudah mendapatkan banyak sekali undangan festival akhir tahun dari berbagai kampus dan juga sekolah menengah. Jadwal mereka sudah dipastikan akan sangat padat.
Seperti biasanya setelah berendam di air panas, Daehyun akan melanjutkan ritualnya dengan shower. Dia akan menggunakan sabun dengan wangi yang menyegarkan untuk menenangkan pikirannya.
Drrrrtttt Drrrrtttt
Ponsel Daehyun berbunyi. Dia meninggalkan ponselnya di dekat meja di samping bathub. Sementara saat ini dia sudah masuk ke dalam bilik shower dimana suara dari luar sama sekali tidak kedengaran kecuali suara shower itu sendiri.
__ADS_1
Jika Daehyun menghabiskan waktu sekitar hampir 1 jam 30 menit di dalam bathub, maka dia menghabiskan waktu hingga 30 menit di dalam bilik shower. Dia hanya berharap dia bisa lebih sukses lagi sehingga bisa membeli bilik sauna. Akan sangat menyenangkan dan menyegarkan lagi jika dia bisa menghabiskan waktu di dalam bilik sauna.
“Oh? Siapa?”, tanya Daehyun begitu keluar dari bilik shower.
Ternyata orang yang menghubunginya tadi masih terus menghubunginya kembali. Daehyun melihat nomor ponsel orang itu tidak dikenali oleh ponsel miliknya. Itu berarti Daehyun sama sekali tidak mengenal orang ini.
“Siapa ya?”, tanya Daehyun sendiri.
“Halo?”, tanya Daehyun dengan suara pelan dan penuh tanya.
“Daehyun-shi. Ini aku Hyun Joo.”, ujar orang di seberang telepon.
“Eh? Hyun Joo-shi? Kenapa kau tidak menggunakan nomormu yang biasanya? Apa terjadi sesuatu denganmu?”, Daehyun terdengar sedikit khawatir.
__ADS_1
Jelas - jelas dia meminta bantuan padanya tadi siang. Dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu seperti yang dia prediksi.
“Tidak. Tenang saja, aku baik - baik saja. Aku sedang bersiap - siap untuk makan malam. Kau tahu, managerku mengambil ponselku agar aku bisa fokus untuk bersiap. Tapi dia tidak tahu kalau aku lebih pintar dari siapapun. Aku sudah menyiapkan satu ponsel lagi.”, ujar Hyun Joo terkekeh puas.
“Daehyun-shi, jangan lupa untuk menyimpan nomorku yang ini, ya.”, katanya riang.
“Ha-ha.. Baiklah. AKu kira terjadi sesuatu padamu. Aku jadi khawatir. Syukurlah kau baik - baik saja.”, tutur Daehyun.
Padahal Daehyun mengatakannya melalui telepon genggam, tetapi wajah Hyun Joo malah memerah.
“Kau mengkhawatirkanku?”, tanyanya.
Padahal jelas - jelas barusan Daehyun mengatakan seperti itu. Dia hanya ingin mendengarnya sekali lagi.
__ADS_1