Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 79


__ADS_3

Lee Daeun, gadis ini berjalan sendirian di pinggir trotoar sambil membawa kantong berisi makanan dan minuman yang dia beli di cafe tadi saat menunggu Jang Hyun Joo. Setelah menunggu lebih dari satu jam, aktris itu malah menyuruhnya untuk datang ke taman.


Jalanan hari itu tidak terlalu ramah di area yang ia lewati. Lee Daeun sedang berjalan menuju panti asuhan dimana sudah hampir satu tahun dia tidak tinggal disana lagi. Dia ingin membawa makanan dan minuman mahal ini untuk anak - anak yang sudah dia anggap saudara disana.


Setidaknya ada 25 anak yang tinggal di sana saat dia keluar dari Panti Asuhan. Semoga jumlahnya masih sama. Dia takut ada yang tidak kebagian.


Jaraknya masih sekitar 20 menit lagi. Padahal, ada bus yang bisa langsung membawa Daeun ke panti asuhan. Tetapi dia malah memilih untuk berjalan sambil memikirkan perkataan Jang Hyun Joo beberapa saat lalu di taman.


“Aku dan Daehyun, kami sedang berkencan.”


Seharusnya Daeun sudah memiliki ekspektasi kalau hubungan mereka cepat atau lambat kemungkinan besar akan mengarah kesana. Dia merasa hal itu adalah hal yang normal meskipun mereka adalah selebriti.


Selagi kedua agensi mereka bisa memberikan tanggapan yang sama dan saling mendukung pada media, tidak akan ada masalah. Jang Hyun Joo bukan selebriti yang bermasalah. Dia memiliki citra yang baik. Bahkan, berkencan dengannya bisa membuat citra Daehyun meningkat.


‘Tapi, kenapa hatiku merasa tidak nyaman mendengarnya? Ha-ha.. Mungkin aku sudah gila. Daehyun adalah selebriti. Aku baru bertemu dan akrab dengannya sekitar dua bulanan ini. Ha-ha.. Jika ada yang mengetahui apa yang aku rasakan, mereka pasti akan tertawa.’, pikir Daeun dalam hati.


Dia memilih berjalan di trotoar karena ingin memikirkan kembali apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia ingin di ujung jalan nanti, dia akan segera sadar dan kembali menjadi Daeun yang semula.


Tanpa terasa perjalanan di trotoar menuju panti asuhan akan segera berhasil. Hanya sekitar jarak 50 meter saja, Daeun bisa melihat gerbang panti asuhan dimana dia tinggal dulu.


“Eh? Lee Daeun. Kau apa kabar?”, seorang petugas panti yang kebetulan sedang membuang sampah di depan mendapati Daeun dengan kantong - kantong besarnya.


“Apa yang kau bawa? Bagaimana keadaanmu? Kenapa tidak mengunjungi kami sering - sering? Aku merasa sangat bersalah saat mengatakan kau tidak bisa tinggal disini lagi. Aku kira kau marah.”, ucap petugas itu.


Mereka yang sudah berusia 18 tahun lebih seharusnya memang sudah tidak boleh tinggal di panti asuhan. Demi keberlangsungan panti, mereka harus sudah bisa mandiri dan hidup di luar. Para pengurus memberikan banyak keringanan pada Lee Daeun karena dia memang sudah sejak lahir tinggal disana. Akhirnya saat usianya hampir menginjak 20, Daeun keluar dari panti asuhan.


“Aku baik. Bagaimana keadaanmu? Aku membawa makanan dan minuman untuk anak - anak. Dimana mereka?”, tanya Daeun sekarang menunjukkan ekspresi bahagia.


Dia sudah berdamai dengan perasaannya dan mencoba untuk kembali menjadi Lee Daeun yang dia kenal.


“Wah.. kau membawa banyak sekali. Kau tidak naik kendaraan? Bukankah kau tahu kalau bisa naik bus kesini. Kenapa tidak menaikinya?”, tanya petugas itu langsung membantu Daeun untuk membawa bawaannya.

__ADS_1


Dia juga sempat celingak celinguk melihat Daeun menggunakan transportasi apa kesini. Dia tidak melihat taksi dan bus lewat.


“Aku memang sedang ingin berjalan - jalan sebentar.”, ucap Daeun kemudian bergerak berjalan ke dalam panti bersama petugas itu.


“Kau ini. Kebiasaan lama tidak pernah berubah. Jika kau banyak pikiran, pasti kau akan berjalan kaki. Kenapa? Kau ada masalah? Apakah hidup di luar panti sangat menyulitkanmu? Apa kau tidak ada uang? Kenapa tidak naik taksi saja dan malah menghabiskan uangmu untuk membeli semua ini.”, kata petugas itu seperti sedang mengomeli Daeun.


“Tidak apa - apa.. Aku kan sudah bilang, aku ingin menjernihkan pikiranku. Ahjumma, kau tidak tahu berapa uang yang aku dapatkan sebulan? Aku akan bisa segera pindah ke apartemen yang lebih baik.”, ujar Daeun memamerkan dirinya agar petugas itu tak lagi menaruh rasa khawatir padanya.


“Benarkah? Kalau begitu, aku ingin kau sering - sering kemari membawakan kami makanan.”, ujar petugas itu bercanda dan mereka berdua tertawa.


************


Ting Tong


Sebuah pesan notifikasi muncul di ponsel Daehyun.


“Eh? Apa ini? Aku merasa tidak menggunakan. Ehhhh? Apa - apaan ini? Kapan aku berbelanja di Cafe ini?”, saking terkejutnya, Daehyun bahkan berdiri dari duduknya.


Sekarang, dengan Daehyun berdiri seperti ini, dia malah semakin menarik perhatian orang - orang.


“Yaa.. apa yang sedang kau lakukan?”, tanya Yoon Ji Woo meminta Daehyun segera duduk.


Bukannya mendengar Ji Woo, Daehyun langsung mengambil dompetnya dan memeriksa kartunya.


Kemudian, tak lama sebuah pesan muncul dari Lee Daeun.


Daehyun-shi. Congratulation atas hubungan kencanmu.


Aku mendoakan kalian.


Sebagai bentuk dari berbagi kebahagian, aku menggunakan kartumu untuk mentraktir anak - anak panti asuhan makanan dan minuman dari Cafe terkenal.

__ADS_1


Kau baik hati sekali


“Yaaaaaaaa…. Leeeee Daaaaaeunnnnnnn.”, wajah Daehyun langsung memerah.


“Daehyun-ah… kenapa?”, tanya Jiwoo langsung bertanya.


“Huh… “, Daehyun menaruh ponselnya begitu saja di atas meja karena dia ingin mencoba mendinginkan kepalanya.


“Yaaaaa… Daehyun. Kau, Kau benar - benar?”, tanpa sengaja, Ji Woo membaca isi pesan dari ponsel Daehyun di atas meja.


Dengan cepat dia langsung membalik ponsel tersebut. Saking terkejut, dia langsung melihat ke kiri dan ke kanan. Dia benar - benar tidak bisa menyebut nama orang yang ada di pikirannya sekarang.


“Kang Daehyun! Kau?”, Ji Woo hanya bisa mengatakan hal itu.


Padahal, beberapa saat yang lalu dia masih bertanya - tanya. Di kepalanya, dia hanya berpikir ‘ah yang benar saja.’, tapi dia berbicara seolah - olah bisa menebak dengan benar. Padahal dalam hati, dia juga merasa ragu.


Sekarang, dengan membaca isi pesan milik Daehyun, pertanyaannya selama ini seolah terjawab.


‘Kang Daehyun benar - benar mengencani seseorang.’, begitu kesimpulan yang bisa ditarik oleh Ji Woo.


Sekarang, dia hanya perlu bertanya, apakah orang tersebut adalah orang yang sedang ada di pikirannya sekarang. ‘Jang Hyun Joo.’


“Daehyun, cepat kau habiskan minumanmu dan naik ke mobilku sekarang. Aku benar - benar harus mengetahuinya sekarang, detik ini juga, saat ini juga.”, ucap Ji Woo.


Daehyun hanya bisa memejamkan matanya.


‘Yaa….. Lee Daeun, awas saja kalau kau datang ke lokasi syuting nanti.’, ucap Daehyun dengan wajah sangar.


Daehyun terpaksa harus mengikuti kata - kata Yoon Ji Woo. Dia menghabiskan minumannya karena ingin kepalanya segera dingin. Daehyun mengambil kembali ponsel dan dompetnya kemudian memasukkannya ke dalam celana jeans miliknya.


Sembari mereka keluar dari restoran, berbagai bunyi klik kamera menyertai mereka. Karena fans Triple Kill tergolong sangat niche, sehingga meski mereka terciduk berada di tengah orang - orang, suasana masih terbilang kondusif.

__ADS_1


__ADS_2