
Para member Triple Kill tengah berkumpul di markas mereka dini hari. Ya, mereka sudah janjian untuk berkumpul mengenang tempat latihan pertama mereka sebelum debut menjadi artis hari ini.
Tempat ini adalah sebuah Cafe underground yang sedang hits belakangan. Yoon Ji Woo, member terkaya di grup ini sudah menjadi pemilik Cafe. Dia membelinya beberapa tahun yang lalu karena owner jatuh sakit dan harus fokus pada perawatannya.
“Daehyun kemana? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali.”, ujar Hyun Woo.
“Bukankah kau tadi keluar bersamanya, hyung?”, tanya Jisu pada Ji Woo.
“Hn. Kami keluar bersama siang tadi. Kemudian kami langsung berpisah tak lama setelah itu.”, respon Ji Woo.
“Ah.. kalian tahu tidak kalau…”, Ji Woo menghentikan kalimatnya karena baru teringat kalau Daehyun akan mengatakannya langsung pada para member mengenai hubungannya dengan Jang Hyun Joo.
“Oh apa?”, tanya Jisu dan Jiwon bersemangat.
“Tidak. Daehyun nanti yang akan mengatakannya pada kalian.”, balas Ji Woo.
“Wah.. mana bisa begitu. Itu berarti kalian berdua telah merahasiakan sesuatu pada kami. Ah.. Kang Daehyun, yang benar saja. Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya. Dia meminta kita menunggu disini sampai kita beku jadi es?”, Hyun Woo mulai menggerutu.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.”, sang operator yang sedari tadi mendominasi usaha panggilan telepon yang dilakukan oleh Hyun Woo.
“Apa dia lupa besok ada syuting dan akhirnya tidak jadi berkumpul?”, tanya Jisu.
“Jika itu alasannya, dia pasti akan menghubungi kita.”, kata Ji Woo.
“Ngomong - ngomong, apa sih yang akan diumumkan oleh Daehyun-hyung? Ayolah beritahu kami.”, Jisu mengeluarkan aegyo-nya.
“Iya hyung. Apa? Lagipula sudah jam segini dan Daehyun-hyung juga belum datang. Mungkin dia memang tidak bisa datang.”, ucap Ji Won mulai mengikuti usaha yang sama dengan Ji Su.
“Ah… bodoh amat. Aku sudah tidak tahu lagi. Salah sendiri karena dia tidak datang. Padahal kita sudah menunggunya.”, ucap Yoon Ji Woo bersiap - siap untuk mengatakan rahasia yang sedang dia pegang sekarang.
“Iya, begitu hyung. Apa? Apa? Ayo cepatlah katakan.”, Jisu melonjak - lonjak kegirangan menunggu Ji Woo mengatakannya.
Namun pria itu masih ragu untuk mengatakannya. Dia masih terlihat berpikir sebentar.
“Hyung… apa lagi yang kau pikirkan. Ayo beritahu kami.”, Jisu mengeluarkan jurus rayuan mautnya lagi.
“Sebenarnya…”, kata Ji Woo.
“Sebenarnya…”, lanjut Ji Woo.
Untuk beberapa kali dia tidak melanjutkan kalimatnya dan malah mengatakan kata - kata yang sama. Para member jadi greget termasuk Hyun Woo. Namun, karena dia hyung. Dia bisa menyembunyikan keingintahuannya lewat sikap sok cool miliknya.
__ADS_1
“Ah… kalian langsung dengar saja dari Daehyun. Aku tidak ingin membocorkannya dari mulutku. Kau tahu kepribadiannya. DIa mungkin saja akan memerasku nanti.”, kata Yoon Ji Woo.
“Hyung.. Kau kan kaya. Memangnya bagaimana dia akan memerasmu? Dia hanya akan memintamu mentraktirnya ayam goreng dan soda selama sebulan. Itu benar - benar tidak akan mengurangi uang belanjamu sama sekali.”, ujar Ji Woon dengan ekspresi speechless.
“Yaaa… uang itu akan jauh lebih berharga, justru untukku yang punya banyak uang.”, kata Yoon Ji Woo dengan ekspresi lebay.
“Huh… jangan membuatku tertawa.”, balas Hyun Woo.
Kring Kring Kring
“Halo.. Yoon Ji Woo?”, terdengar suara Daehyun dari seberang telepon.
“Oh.. Itukan Daehyun-hyung. Hyunggg… kenapa kau belum juga sampai disini.”, teriak Jisu.
Beberapa detik kemudian Ji Won melanjutkan.
“Diamlah. Kalian berdua berisik.”, kata Ji Woo protes.
“Aku akan cepat. Aku tidak tahu kapan sinyal akan hilang lagi. Maaf aku tidak bisa datang kesana. Lain kali aku akan mentraktir kalian dan mengatakannya. Sekali lagi maaf. Bye.”, kata Daehyun benar - benar sangat singkat bahkan tidak sampai semenit.
“Hyung…..”
“Yaa.. Daehyun.. Sinyal hilang? Memangnya kau sedang ada dimana?”
Semua anggota Triple Kill mengajukan pertanyaan. Sayangnya, sambungan telepon Daehyun sudah terputus dengan cepat.
“Wah… langsung hilang. Memangnya dia dimana? Aku tidak tahu dia ada syuting di tempat terpencil hari ini.”
“Bukankah dia sengaja mengumpulkan kita karena dia tidak ada schedule sama sekali?”
“Apa mungkin schedule mendadak?”, semuanya mengeluarkan pendapat mereka masing - masing.
************
“Kau habis dari mana?”, tanya Daeun yang sudah siap dengan selimut dan penghangatnya.
“Ini.”, Daehyun memberikan sebuah kopi padanya.
“Kau mau langsung tidur?”, tanya Daeun.
“Hn.”, balas Kang Daehyun singkat.
__ADS_1
Daeun melontarkan ekspresi sebal. Tentu saja Daehyun tak melihatnya.
“Walaubagaimanapun, terima kasih untuk hari ini.”, kata Daehyun tak berapa lama selang itu.
Dari bayangan yang dilihat oleh Daeun, Daehyun sudah bersiap - siap untuk tidur. Dia sudah mengibaskan selimutnya.
Daeun menyeruput kopi hangat yang tadi diberikan oleh Daehyun padanya.
“Daehyun-shi.. Kau sudah tidur?”, lama menit berselang setelah itu, Daeun tak lagi mendengarkan ada pergerakan berarti dari dalam tenda tempat Daehyun tidur.
Mendadak dia merasa takut karena di pedesaan, suasana sangat sunyi sampai suara jangkrikpun terdengar. Apalagi dia beradai di bagian depan tenda. Meski tertutup, tetap saja rasanya kurang nyaman.
Tidak ada respon dari Daehyun.
“Daehyun-shi? Hyung? Kau sudah tidur?”, tanya Daeun kembali.
Namun, lagi - lagi tidak ada jawaban dari Daehyun.
‘Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, sih? Apa dia tidak merasa takut tidur di alam liar seperti ini sendirian.’, gumam Daeun.
Tak selang berapa lama dari itu, terdengar suara dari dalam.
“Tidurlah. Semakin malam akan semakin dingin. Lebih baik kau tidur sekarang.”, kata Daehyun di tengah keheningan.
“Cih… ternyata dia belum tidur. Kenapa dia berpura - pura tidak mendengarku.”, protes Daeun. Namun dengan suara yang super kecil.
“Aku bisa mendengarnya. Tidurlah. Kau membuatku kesulitan untuk memejamkan mata. Ribut sekali.Beritahu aku kalau kau kedinginan.”, kata Daehyun kemudian.
“Eh? A-apa kau bilang?”, tanya Daeun kaget dengan perkataan Daehyun barusan.
“Huh.. apa yang kau pikirkan? Bilang kalau kau kedinginan. Aku akan meminta tambahan selimut pada pria tadi. Aku lihat dia punya banyak stok. Kenapa memberikannya hanya satu begini.”, protes Daehyun di sela - sela kalimatnya.
“Ah..aku kira..”, kata Daeun merasa malu.
Dia meletakkan kopi di pinggir dan membaringkan tubuhnya. Anehnya, meski dia berada di dalam tenda, tetapi kasur yang dia tiduri sangat nyaman. Daeun juga merasa selimutnya begitu hangat. Sehingga dia tidak perlu khawatir akan dinginnya malam.
“Selamat tidur…”, ucap Daeun sebelum memejamkan matanya.
Daehyun yang sebenarnya belum tertidur hanya tersenyum. Senyuman yang tidak bisa dilihat oleh Daeun.
Keduanya melewatkan hari yang panjang dan malam yang dingin di alam luar. Ini adalah kali pertama Daehyun camping di tempat asing seperti ini.
__ADS_1
‘Hm.. tidak buruk juga.’, komentarnya dalam hati.