
Jang Hyun Joo menutup teleponnya dengan perasaan senang. Seolah - olah, seperti ada kembang api yang sedang menyala di kepalanya. Kalimat - kalimat yang diucapkan Daehyun hari ini terdengar manis di telinganya. Padahal, di telinga orang lain sepertinya biasa - biasa saja.
“Kau berbicara dengan siapa?”, tanya seorang pria secara tiba - tiba di belakangnya.
Jang Hyun Joo yang mengangkat kakinya ke atas meja rias terkejut dan tanpa sengaja hampir terjatuh.
Hyuk Jae. Pria yang baru saja mengejutkannya berada tepat di belakangnya. Hyun Joo terlihat panik.
‘Sejak kapan dia ada disitu? Dia tidak mendengar percakapanku barusan, kan?’, ucap Hyun Joo dalam hati.
Dia masih belum menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Hyuk Jae.
“Sejak kapan kau ada disana? Kenapa seperti penguntit, masuk tidak bilang - bilang terlebih dahulu?”, alih - alih bersikap lemah lembut, Hyun Joo langsung mencecar Hyuk Jae dengan banyak pertanyaan.
Hyun Joo sudah berusaha senatural mungkin. Namun, tetap ada nada bergetar di suaranya karena gugup dan takut. Ya, dia takut pria itu mendengar percakapannya dan lantas ikut campur dalam urusannya. Kapal belum berlayar, bisa - bisa Hyuk Jae sudah menghancurkannya lebih dulu.
“Kenapa? Kau takut aku mendengar pembicaraanmu?”, dengan nada menantang, Hyuk Jae tanpa segan langsung to the point pada Hyun Joo.
“Kau menguping pembicaraanku?”, Hyun Joo tidak terima.
“Anggap saja begitu. Kau mau mengatakan dengan siapa kau baru saja berbicara?”, tanya Hyuk Jae kembali ke pertanyaan awal.
‘Sepertinya dia tidak benar - benar menguping pembicaraanku dengan Daehyun. Dan, aku yakin dia juga belum tahu aku sedang berbicara dengan Daehyun, vokalis Triple Kill. Dia hanya berpura - pura. Ya, kalau tidak, mana mungkin dia bertanya seperti itu.’, pikir Hyun Joo dalam hati.
Dia begitu yakin dengan dugaannya. Karenanya, Hyun Joo lebih percaya diri.
“Untuk apa aku mengatakannya padamu. Itu sama sekali bukan urusanmu. Jika kau tidak ada kepentingan, lebih baik kau keluar saja.”, kata Hyun Joo mengusir Hyuk Jae dari sana.
“Heh… kau lupa ini ruang ganti kita berdua. Kenapa kau mengusirku?”, ucap Hyuk Jae memegang dagu Hyun Joo. Dia bahkan tidak segan - segan mendongakkannya sedikit keatas.
__ADS_1
“Kita mulai pemotretannya 10 menit lagi. Aku akan merapikan rambut keduanya. Kau atur lagi make-upnya.. Aku harap bagian ini langsung selesai. Kita harus pindah dua area hari ini….”, sayup - sayup terdengar obrolan para kru yang membuat Hyuk Jae melepaskan pegangan pada dagu Hyun Joo.
Hyun Joo melayangkan tatapan tajam dan marah pada Hyuk Jae.
“Oh… kalian berdua sudah disini. Aku mengira kami harus memanggil kalian dulu. Baiklah, kalau begitu kita bisa lebih cepat. Di luar sudah mulai sedikit mendung. Pencahayaan akan kurang bagus beberapa jam lagi. Kita harus bergegas.”, ucapnya pada keduanya.
Hyun Joo mengubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum saat para kru itu sudah memasuki area ruang ganti. Di sisi lain, Hyuk Jae langsung menunjukkan sikap profesionalitasnya sesaat setelah sebelumnya melayangkan senyuman licik pada Hyun Joo.
Seolah mengatakan, ‘tunggu saja permainannya nanti. Aku belum memulainya sama sekali.’.
Hyun Joo langsung mengirimkan pesan pada managernya agar terus menempel padanya seperti lem. Dia tidak ingin Hyuk Jae si licik ini mencuri kesempatan saat mereka berdua tengah lengah.
************
“Kalian berdua ada hubungan apa?”, tanya Daeun di lorong saat perjalanan kembali ke area pemotretan.
“Kenapa kau ingin tahu?”, Daehyun membalas dengan santai.
Daehyun merasa dasi itu memberikan ketidaknyamanan padanya. Sehingga, tadi dia lepas sebentar. Beberapa kali dia mencoba memasangnya tetapi tetap tidak bisa.
“Kau kenapa?”, tanya Daeun melihat Daehyun yang tidak fokus menjawab pertanyaannya.
Saat dilihat, ternyata pria itu sedang sibuk dan kesulitan memasang dasi di lehernya.
“Hah.. kenapa tidak mengatakan dari tadi kalau kau tidak bisa memasang dasi. Kenapa menyusahkan dirimu sendiri? Bukannya aku adalah managermu? Walaupun hanya hari ini saja.”, ujar Daeun berhenti sekaligus menghadang langkah Daehyun agar pria itu juga ikut berhenti.
“Aku bisa. Siapa bilang aku tidak bisa memasangnya. Aku hanya sambil berjalan saja. Kau tidak tahu betapa sulitnya memasang dasi sambil berjalan?”, kata Daehyun tidak mau kalah.
“Benarkah? Sepertinya siapapun yang bisa memasang dasi juga tidak masalah memasangnya sambil berjalan. Aku yakin, bahkan beberapa orang juga bisa memasangnya sambil berlari.”, kata Daeun dengan nada menantang.
__ADS_1
“Siapa yang bisa melakukannya? Kau kira ini lomba berlari.”, Daehyun tidak menerimanya.
“Sini, biar aku bantu. Kita harus sudah kembali 10 menit lagi. Kalau kau bersikeras memasang dasi, kita akan sampai disana besok pagi.”, Daeun melepaskan kedua tangan Daehyun yang masih menempel pada dasi.
“Ehem – ehem..”, Daehyun tiba - tiba langsung mundur sedikit.
“Jangan mundur, aku jadi kesulitan. Kau berdiri tegap saja. Sebentar lagi akan selesai.”, kata Daeun santai serasa tanpa beban.
‘Kenapa denganku. Sadar Daehyun, dia hanya bocah tengil yang sedang memasangkan dasimu. Tidak, dia hanya manager sementara. Ah.. mungkin efek selesai berbicara dengan Hyun Joo. Aku jadi merasa aneh.’, ujar Daehyun dalam hati.
“Sudah. Cepat, kan. Kenapa kau harus bersikeras memasangnya sendiri.”, kata Daeun menepuk - nepuk dan memberikan gestur seperti membersihkan noda kotor di baju Daehyun. Padahal baju itu baru, tentu saja tidak ada noda sama sekali.
Daeun langsung berjalan maju.
“Ayo.. kau mau fotografer dan penanggung jawab memarahimu?”, teriak Daeun dari jarak beberapa meter.
“Heh.. kenapa dia bisa sesantai itu setelah memasangkan dasi dan menepuk - nepuk dada seorang pria. Apa aku yang berlebihan disini?”, ucap Daehyund dengan suara pelan.
Mau tidak mau dia harus mengikuti Daeun dari belakang.
Sesampainya di lokasi pemotretan, Daehyun langsung memakai outer selanjutnya dan mengambil posisi. Pria ini memang bertalenta. Begitu masuk area pemotretan, ekspresi wajahnya langsung berubah menjiwai busana yang sedang dia kenakan.
Sementara itu, Daeun melenggang pergi ke toilet.
“Hah… hah..hah… apa yang sudah aku lakukan? Kenapa jantungku jadi berdetak? Ha-ha.. Apa aku sudah gila? Apa semua fans merasakan hal yang sama denganku? Tapi kenapa jantungku juga ikut berdebar. Tunggu pipiku memerah?”, kata Daeun kaget saat melihat ke cermin.
Sebelum bergabung dengan perusahaan agensi milik Daehyun, dia memang sudah sering melihat Triple Kill manggung di beberapa acara sekolah dan juga di jalanan. Saat itu mereka belum bernaung di bawah agensi.
Daeun selalu melihat mereka dari kejauhan. Dia dulu sering mengenakan jaket dan terus menutup sebagian wajahnya dengan syal atau scarf. Tidak banyak yang ingin berteman dengannya karena dia berasal dari panti asuhan. Sehingga, setiap pulang sekolah, dia pasti menyempatkan diri untuk menonton mereka.
__ADS_1
Awalnya, dia tidak benar - benar memperhatikan masing - masing dari mereka terutama vokalis. Dia hanya kagum dengan suara, melodi, dan lagu yang mereka bawakan.