Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 8


__ADS_3

Flashback ke 10 tahun yang lalu…


“Manajemen ingin membentuk tim khusus untuk menjaga privasi artis nya? Kau yakin mereka benar - benar menjaga privasi kita atau sebenarnya mengekang kebebasan kita?”, tanya Hyunwoo.


Wajahnya nampak serius. Hyunwoo memang dikenal dingin, namun dia gentle dan karismatik. Setidaknya untuk bagian karismatik dinilai oleh penggemarnya sendiri. Sedangkan para member tidak setuju kalau dia disebut punya sifat yang karismatik.


Hyunwoo adalah introvert sejati. Dia tidak suka keramaian selain konser, tidak terbiasa dengan kamera dan dikenal sebagai orang yang hanya akan hangout bersama dengan inner-circle nya, termasuk para member Triple Kill.


Setiap selesai syuting acara, dia menjadi member pertama yang kabur lebih dulu. Dia hampir tidak pernah ikut promosi album terbaru ke idol group lain. Bahkan, awalnya Triple Kill dianggap hanya memiliki 4 member saja.


“Ah.. nampaknya kau benar - benar sedang mendekati seorang model.”, kata Daehyun penasaran namun sudah langsung menarik kesimpulan.


“Kau sendiri, apa benar kau sedang mendekati aktris itu. Tidak sedang menguntit nya?”, tanya Hyunwoo menyindir.


“Hah kau ini yang benar saja. Aku saja tidak tahu siapa aktris yang dari tadi kalian maksud.”, ungkap Daehyun sambil menggaruk - garuk kepala dan mengambil sebotol minuman.


Dia nampak lelah telah menyanyikan 5 lagu sebanyak dua kali sejak tadi.


“Hyung, ini. Kalau kau punya ponsel, kenapa tidak menggunakannya untuk mencari. Aku yakin kau akan berubah pikiran setelah melihatnya.”, ujar Jiwon.


Jiwon lantas memberikan ponselnya yang sudah menampilkan foto Jang Hyun Joo, seorang aktris sebaya mereka yang sedang naik daun.


“Oh.. cantik juga. Kau bilang dia aktris? Dia main di drama apa?”, tanya Daehyun.


“Yah… walaupun aku tidak menonton drama, mungkin aku bisa melihatnya lain kali.”, lanjut Daehyun lagi.


“Dia bermain drama Saeguk. Aku lupa apa judulnya. Dia bukan pemeran utama tetapi kecantikannya bisa menarik perhatian pemirsa.”, jawab Jisu yang sudah selesai mengatur dan membersihkan drumnya.


“`Oh.. Girl in White Dress. Itu judul filmnya.”, teriak Jisu yang sudah memegang kembali ponselnya.


“Ah.. film itu. Kakekku senang sekali menontonnya. Ternyata wanita yang kau kencani bermain di film itu?”, Jiwoo yang sedari tadi sibuk mengirimkan pesan akhirnya ikut mengobrol.

__ADS_1


“Siapa yang mengencani siapa? Aku saja baru tahu wajahnya hari ini. Kalau kau mengatakannya dari mulutmu, besok namaku benar - benar akan tertulis di media.”, balas Daehyun.


“Kenapa? Kau takut penggemarmu akan protes dan merundungi Hyun Joo?”


“Wow.. sudah mulai khawatir.”


“Bukankah kita tadi membicarakan tentang pacar Hyunwoo? Kenapa malah membahas aku?”, kata Daehyun.


“Bukankah kita membahas tentang tim khusus yang akan dibentuk oleh manajemen? Kau yang duluan mengalihkan topik pembicaraan.”, kali ini Hyunwoo protes keras.


“Ah benar sekali. Tadi kita membahas tentang tim khusus yang akan dibentuk oleh manajemen. Lalu, apa?”, Daehyun sama sekali tidak membantu jalannya pembicaraan.


“Kita harus tahu tim yang akan dibentuk benar - benar untuk melindungi privasi kita, atau justru mengekang kebebasan kita.”, balas Hyunwoo.


“Hn.. Tapi, memangnya apa yang bisa mereka lakukan untuk mengekang kebebasan kita?”, lanjut Daehyun.


“Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan. Benar kata Daehyun hyung. Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Memotret kita lalu melaporkannya pada management? Memergoki kita di klub lalu menggiring kita pulang? Menemukan semua wanita yang kita temui dan meminta mereka untuk menjauh?”, ucap Jisu dengan penuh percaya diri.


“Baiklah anak konglomerat. Tapi, apa kau pikir tidak ada yang tahu kalau kau keluar dini hari hanya untuk bermain PC gaming di internet cafe. Kau bahkan membangun komunitas gaming. Kau tidak takut?”, tanya Daehyun dengan nada mengancam tapi bercanda.


“A-ah.. Iya hyung, bagaimana kau bisa menyembunyikan second life mu?”, kali ini Jisu bersemangat untuk menjahili salah satu hyungnya.


“Urus saja wanita - wanitamu.”, balas Jiwoo.


“Sebenarnya setelah menjadi Idol, ada berapa wanita yang kau kencani? Kemarin saat manggung di sebuah festival, aku melihat dua orang datang menanyai manager. Mereka bilang mendapatkan undangan khusus darimu untuk datang ke backstage.”, ujar Daehyun.


“Ah.. yang ada dua wanita sekaligus itu?”, teriak Jiwon.


“Aku lupa kalau aku sudah memberikan undangan pada wanita yang satunya.”, kata Jisu menggaruk - garuk kepalanya.


“Lalu siapa yang memutuskanmu sampai kau menangis semalaman?”, tanya Jiwon.

__ADS_1


“Aku tidak menangis. Aku hanya tidak sadar saja.”, kata Jisu memberikan klarifikasi.


“Lalu kenapa kau tidak pulang? Bukankah karena kau tidak bisa menyetir saat dalam pengaruh alkohol?”, tanya Jiwon.


“Aku tidak mabuk. Aku hanya tidak sadar.”, kata Jisu.


“Tidak sadar?”


“Hm.. aku duduk menulis lagu sampai dini hari dan tidak tahu bagaimana caranya pulang. Jadi aku tidur saja disini.”


“Kau hobi mengarang.”, kata Daehyun tidak percaya.


“Ya sudah, latihan sudah selesai kan? Sampai bertemu besok pagi. Hyung, apa kita harus ke salon dan memakai outfit sponsor? Atau bisa langsung dari rumah.”, teriak Daehyun pada manajer mereka yang sedang menelepon di luar ruangan.


“Sampai berapa kali aku harus mengatakannya. Datang ke salon biasa subuh, kalian harus berdandan dan berangkat sebelum acara festival kampus dimulai. Outfit sponsor. Jadi jangan harap bisa datang terlambat.”, ujar manager tersebut meminggirkan ponselnya sebentar dan menjelaskannya pada Daehyun.


“Ah.. baiklah. Aku pulang dulu.”, kata Daehyun mengambil jaket dan kunci mobilnya.


Daehyun berlari menuju lift dan tanpa sengaja menabrak seseorang. Tabrakannya menyebabkan kertas wanita tersebut tersebar. Daehyun terkejut, begitu pula dengan wanita itu. Akhirnya, Daehyun merasa tidak enak dan membantunya merapikan kembali kertas - kertas yang berjatuhan.


Tanpa sengaja, Daehyun melihat papan nama di sebuah kertas yang kemungkinan besar merupakan CV gadis itu. Tertulis nama Lee Da Eun (이다은) disana. Beberapa detik kemudian, saat pandangan Daehyun mengarah pada nametag yang dipakainya, Daehyun baru sadar namanya juga sama dengan CV tersebut dan lebih jelas. Lee Da Eun (이다은).


“감사 합니다 (kamsahamnida)”, kata gadis itu segera setelah semua berkasnya berhasil terkumpulkan.


Daehyun membalas dengan ikut menunduk. Wanita itu memiliki rambut panjang yang dicat warna hijau namun hanya sebagian kecilnya saja. Wajahnya tidak seperti kebanyakan orang Korea pada umumnya.


Daehyun baru saja ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun ‘Ting’, dia mendengar bunyi pintu lift yang kembali terbuka.


Dia memberikan ekspresi seolah mengatakan ‘permisi, dia duluan’ pada wanita itu. Wanita itu juga membalasnya dengan membungkuk sekali lagi.


Daehyun melirik sebentar ke wanita itu sebelum menaiki lift. Saat lift tertutup, wanita itu giliran berbalik dan kembali menatap lift seolah pria itu (Daehyun) masih ada disana.

__ADS_1


‘Oh.. mimpi apa aku semalam? Itu kan Daehyun. Aku tahu aku mendaftar di agensi yang menaunginya. Tapi, aku tidak menyangka bisa bertemu dia secepat ini. Hah.. apa tadi aku terlihat sekali seperti salah satu penggemarnya, ya? Tidak.. Tidak boleh. Aku tidak boleh terlihat seperti penggemarnya.”, ucap Daeun dalam hati sambil kembali merapikan baju yang dia kenakan karena dia harus melakukan interview langsung.


__ADS_2