
“Daehyun-shi, kenapa kau ikut campur. Kalau sampai ada yang mengenalimu, bagaimana? Kau akan dapat masalah.”, bukannya berterima kasih seperti yang diharapkan oleh Daehyun, Daeun justru marah - marah padanya.
“O-oh? Kenapa kau malah marah - marah? Padahal aku membantumu.”, Daehyun ikut berteriak.
Mereka sekarang sedang berhenti di depan sebuah mini market. (Fun Fact: Ini adalah minimarket yang sama, tempat mereka bertemu saat itu.
“Aku bisa menghadapinya sendiri. Lagipula sejak kapan kita begitu akrab sampai bersedia turun dan membantuku?”, Daeun masih mencoba membersihkan celana jeansnya dari kotoran debu.
Dia sempat didorong oleh salah seorang siswi perempuan dan membuat ia jatuh ke jalan.
“Yaa… satu lagi. Kenapa kau terus memanggilku Daehyun-shi, bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’, tunggu.. Maksudku ‘Hyung’. ‘Oppa’ terlalu menggelikan.”. Ujar Daehyun.
“Baiklah ‘hyung’. Kau tidak ingin aku memanggilmu dengan sebutan ‘Daehyun-shi’ karena Jang Hyun Joo, aktris cantik itu memanggilmu dengan panggilan yang sama, kan?”, ujar Daeun masih sibuk membersihkan debu - debu yang menempel di celana jeans-nya.
“Hn.. itu kau tahu.”, balas Daehyun.
“Aku belum terbiasa. “, ucap Daeun. Suaranya sudah mulai lebih pelan sekarang.
“Makanya biasakan. Dari sekarang.”, ujar Daehyun.
“Baiklah … baiklah.. Sekarang kau mau apa? Kenapa berhenti disini?”, tanya Daeun bingung.
“Rumahmu dimana? Tadi kau bilang rumahmu bukan disana, tetapi kau justru sedang menunggu bus untuk menuju rumahmu.”, tanya Daehyun.
“Ah.. oiya, mereka tidak melihat wajahmu kan tadi? Aku khawatir kalau ternyata mereka mengenalimu.”, bukannya menjawab pertanyaan Daehyun barusan, Daeun malah balik melontarkan pertanyaan.
“Tidak. Dia tidak akan mengenaliku. Bagaimana mereka bisa mengenali, kan aku menggunakan topi dan masker. Lagipula, aku juga mengenakan jaket. Sudahlah, sekarang beritahu dimana rumahmu. Aku akan mengantarmu.”, ujar Daeyun.
“Hm.. syukurlah kalau mereka tidak mengenalimu. Untuk sementara waktu, sebaiknya kau jangan menggunakan topi dan masker di sekitar tempat tadi. Setidaknya sampai sebulan. Kalau Seongmin oppa tahu, dia pasti akan mengomeliku.”, kata Daeun.
Lagi - lagi, dia tidak menjawab pertanyaan.
__ADS_1
“Hei..kau ini mendengarku tidak? Aku sudah berkali - kali menanyakan dimana rumahmu tetapi kau tidak kunjung menjawabnya.”, kata Daehyun.
“Kau baru menanyakannya sebanyak dua kali. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih. Kau tidak perlu mengantarku.”, Daeun melepaskan seatbelt nya dan hendak membuka pintu. Tetapi Daehyun belum membuka kuncinya.
Daeun menoleh balik memberikan pandangan seolah menginstrukan pria itu untuk membuka pintu mobil untuknya.
“Dimana rumahmu, aku bilang aku akan mengantarkanmu. Cepatlah. Jangan membuang - buang waktuku. Besok aku masih harus latihan untuk album terbaru kami.”, Daehyun mengenakan kembali seatbeltnya.
Dia juga hendak membantu Daeun untuk mengenakan seatbeltnya saat ruang antara wajah mereka mulai menipis.
Deg.
Daeun langsung memundurkan dirinya setelah mendorong Daehyun.
“Hah… kau sedang memikirkan apa? Memangnya apa yang ingin aku lakukan?. Aku hanya ingin memasangkan seatbelt mu agar kau bisa segera pulang dan tidak banyak bicara lagi. Kau malah mendorongku.”, protes Daehyun.
Wajah Daeun langsung merah. Dia malu telah berpikir yang tidak - tidak. Mana mungkin, Daehyun kan seorang artis. Idol.
“Rumahku di Jalan ………………….. Kau hanya perlu berjalan lurus dan belok kanan di depan lalu kembali lurus sampai bertemu pertigaan. Aku akan turun disana. Apartemen ku tidak jauh dari sana.”, Daeun sudah terlalu gugup. Dia ingin ini segera berakhir.
Lebih baik untuk kali ini, dia membiarkan Daehyun untuk mengantarnya. Lagipula, siapa yang menyangka seorang selebriti seperti Daehyun akan mengantarnya pulang.
“Hm.. lurus, belok kanan, lalu lurus sampai bertemu perempatan. Jangan bilang kalau kau tinggal di apartemen ………………… “, kata Daehyun tiba - tiba excited.
“Oh? Bagaimana kau tahu?”, Daeun heran.
“Ahahaha… takdir seperti apa ini. Itu adalah apartemenku saat aku masih SMA.”, jawab Daehyun. Pandangannya seperti mengenang masa lalu.
“Oh.. kau tidak tinggal bersama keluargamu? Bukankah apartemen di sana lebih seperti studio? Hanya untuk tempat tinggal satu orang.”, tanya Daeun heran.
“Hm.. aku tinggal sendiri sejak aku SMA. Keluargaku memilih untuk pindah ke luar negeri. Tapi aku tidak mau. Jadi, sejak SMA aku sudah tinggal sendiri.”, Daeun memberikan pandangan kagum pada Daehyun. Dia kira pria itu tinggal bersama keluarganya.
__ADS_1
Mereka adalah idol band baru, sehingga tidak banyak informasi yang sudah dirilis oleh agensi. Plus, agensi juga sangat melindungi privasi para artisnya. Bukankah karena hal itu, squad ‘Idol Secret Agent’ seperti Daeun dipekerjakan.
“Kenapa? Kau mendadak kagum padaku setelah tahu kalau aku tinggal sendiri dan sudah mandiri sejak SMA.”, kata Daehyun langsung menyimpulkan ekspresi yang diberikan oleh Daeun.
“Hm.. aku kagum padamu. Tapi tidak sekagum itu.”, kata Daeun. Dia bukan sedang menggoda, tapi memang begitu.
“Oh? Yaaa… saat kau masih dimasakkan omelet oleh orang tuamu, aku sudah memasak omelet ku sendiri. Aku yakin, wanita sepertimu pasti masih diantar ke sekolah, kan?”, ujar Daehyun memberikan penilaian.
Daeun menggeleng.
“Tidak. Aku tidak tinggal dengan orang tuaku. Sudah lama sekali.”, jawab Daeun.
“Oh? Oh? Maaf - maaf.. Aku tidak tahu. Apa mereka sudah tiada?”, tanya Daehyun langsung berhati - hati.
Dia tidak mengira sama sekali kalau orang tua Daeun sudah tidak ada. Dia langsung merasa bersalah sudah mengatakan yang tidak - tidak.
“Hm.. aku tidak tahu mereka. Aku tidak tahu apakah aku lahir dari rahim seorang wanita atau jatuh dari langit. Aku tidak pernah tahu siapa orang tuaku.”, Daeun tersenyum mengatakannya.
Ya. Tersenyum di luar namun menangis di dalam.
“Eh? Apa maksudmu?”, Daehyun menelan ludahnya. Sepertinya dia sudah mengangkat topik sensitif yang seharusnya tidak dia singgung sama sekali.
Daeun mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu.
"Aku juga tidak tahu. Haha.. aku tinggal di panti asuhan sejak aku masih bayi. Mereka tidak menyimpan data orang tuaku karena mereka juga tidak mengetahuinya. Aku ditemukan oleh polisi yang sedang patroli di sekitar perumahan. Tepatnya di pinggir jalan. Tanpa informasi. Tanpa nama. Karena tidak ada yang merasa kehilangan anak, aku dititipkan ke pantu asuhan terdekat. Berharap ada yang mencariku.", kata Daeun bercerita.
"He-he.. ternyata sampai aku lulus SMA dan harus keluar dari panti-pun, tidak ada yang mencariku.", kata Daeun.
"Hem.. maaf, kenapa aku menceritakannya, ya.", kata Daeun menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku yang harusnya meminta maaf. Tidak seharusnya aku menilai seseorang dari kulit luarnya saja. Sekali lagi aku minta maaf.", ucap Daehyun merasa tidak enak.
__ADS_1
"Ah.. tidak apa - apa. Aku senang karena berhasil menceritakannya pada orang lain. Setidaknya mereka mengetahuinya bukan dari gosip. Aku sendiri yang menceritakannya. Terima kasih sudah mendengarnya. Hum.. sudah malam, lebih baik kita pulang.", kata Daeun melihat ke jam tangannya yang menunjukkan waktu sudah sangat larut.