
“Apa maumu?”, tanya Hyun Joo dengan nada jutek.
“Yaaa.. yaaa.. Kau tidak bisa lebih ramah lagi dengan teman lamamu. Baru saja kita berfoto seperti pasangan yang mesra di pemotretan iklan beberapa hari yang lalu. Sekarang kau sudah kembali ketus padaku.”, kata Hyuk Jae.
“Apa maumu? Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu. Jika tidak ada yang penting, aku akan menutup ponselnya.”, balas Hyun Joo masih dengan nada ketus.
“Tunggu, jangan terburu - buru. Aku tahu kau masih ingin berbicara denganku. Buktinya, kau masih menerima telepon dariku. Kalau kau tidak mau, kau pasti sudah menutupnya.”, ucap Hyuk Jae mengambil kesimpulan sendiri.
Hyun Joo memilih untuk tidak berbicara. Jika dalam hitungan 3 detik pria itu tidak mengatakan hal yang penting, Hyun Joo berencana untuk menutup ponselnya.
“Aku punya pengumuman yang sangat menarik untukmu. Aku akan masuk menjadi pemeran ekstra dalam dramamu.”, kata Hyuk Jae terdengar seperti sedang menjatuhkan bom di telinga Hyun Joo.
“Apa? Bagaimana bisa?”, tanya Hyun Joo speechless.
“Tentu saja bisa. Aku memang sedang memikirkan untuk debut drama karena sepertinya aktor dan aktris lebih menjanjikan. Tidak disangka ternyata semua bisa berjalan jauh lebih cepat dari dugaanku.”, ucap Hyuk Jae tersenyum licik di balik ponselnya.
“Bagaimana mungkin. Kau tidak melakukan sesuatu agar mendapatkan peran itu kan? Seharusnya semua peran sudah final saat pembacaan naskah, tapi aku tidak melihatmu sama sekali.”, kata Hyun Joo heran.
“Tentu saja ada situasi - situasi khusus. Ada pemeran ekstra yang tiba - tiba harus di rawat selama beberapa bulan. Jadi, dia tidak bisa melanjutkan, tidak - tidak, jadi dia tidak bisa mengikuti proses syuting. Karena itu, akulah yang akan menggantikannya. Takdir bukan?”, ucap Hyuk Jae.
Tanpa suara lagi, Hyun Joo dengan cepat menutup teleponnya.
‘Tidak mungkin. Bagaimana bisa pria itu. Dasar baji*gan.’, ucap Hyun Joo berteriak dalam hati.
************
“Daeun, kau sudah mempersiapkan semua kebutuhanku, kan?”, tanya Daehyun sambil duduk menyilangkan kaki seperti bos di kursinya.
Hari ini Daeun datang pagi - pagi sekali untuk mempersiapkan keberangkatan Daehyun syuting di sebuah lokasi taman bermain di pusat kota. Selama dua hari kedepan, mereka akan melanjutkan proses syuting di beberapa tempat di kota.
Daehyun dan Daeun tidak perlu lagi menginap dan bisa pulang pergi dari lokasi syuting dan rumah. Meski begitu, Daehyun tetap ingin Daeun membawa beberapa baju dan juga snack kesukaannya ke lokasi syuting. Hal ini membuat Daeun harus bangun pagi sekali. Proses syuting akan dimulai tepat pukul 8 pagi.
“Lihatlah, sudah semua-kan?”, kata Daehyun memperlihatkan isi tas yang lebih tepat disebut tas olahraga itu pada Daehyun.
“Hm…”, Daehyun memeriksa satu per satu isi tasnya.
“Mana perlengkapan gosok gigi dan juga sabun serta lotionku?”, tanya Daehyun.
“Ini syuting dalam kota. Kau tidak akan memerlukannya, kalau kau ingin bebersih, kau kan tinggal pulang saja.”, protes Daeun.
Sudah berapa kali hal seperti ini terulang. Ini kurang, itu belum masuk dan lain sebagainya.
“Wah.. tingkat kebersihanku denganmu berbeda. Aku ada adegan kiss nanti. Aku harus membawa sikat gigi.”, kata Daehyun berkacak pinggang.
“Eh?”, tanya Daeun terkejut.
__ADS_1
“Kenapa?”, tanya Daehyun tak lama setelahnya.
“Tidak..”, ucap Daeun menundukkan wajahnya.
“Ini bayaran karena sudah menggunakan kartuku tanpa izin. Kau hampir saja membuatku bangkrut. Karna dirimu juga, Ji woo dan yang lainnya akhirnya mengetahui hubungan kami.”, Daehyun mengomel.
Tapi ekspresi wajahnya seperti sedang mengerjai. Sebaliknya, meski Daehyun sedang memiliki tension yang tinggi, Daeun sama sekali tidak terlihat ingin memulai debat dengannya.
Daeun hanya melakukan apa yang diperintahkan pria itu. Pasrah.Melihat itu, Daehyun pun memiliki inisiatif.
“Lee Daeun. Kau ada waktu malam ini setelah syuting?”, tanya Daehyun serius.
“Tidak.”, ucap Daeun singkat namun menampar tension Daehyun yang sudah ingin mengajaknya makan malam bersama.
“Kenapa? Memangnya kau punya kerjaan apa lagi selain menemaniku syuting?”, tanya Daehyun tidak percaya.
“Banyak. Karena itu, kalau kau mau jalan - jalan atau makan, ajak saja kekasihmu.”, ucap Daeun kemudian menutup kembali tas itu setelah Daehyun memastikannya sudah oke.
“Kami belum go-public. Aku tidak bisa mengajaknya kencan di tempat sembarangan. Lagi pula, siapa yang ingin mengajakmu jalan - jalan. Pede sekali.”, ucap Daehyun mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin dia katakan.
“Sudah jam 6.30. Ayo kita berangkat sekarang. Sebagai aktor baru, kau harus menunjukkan sopan santunmu dengan datang lebih awal ke lokasi syuting.”, ucap Daeun mengingatkan.
Dia segera membuka pintu dan berjalan keluar. Daehyun hanya bisa mengikuti. Daeun melirik sebentar ke arah unit apartemen Hyun Joo.
“Aku tidak bertanya.”, balas Daeun kemudian berjalan ke lift.
“Cih.. padahal dia melihat ke arah unit apartemen milik Hyun Joo.”, ucap Daehyun.
**************
Proses syuting bisa selesai lebih cepat dari biasanya hari ini. Semua tokoh bekerja keras dan nampak serius. Mereka bisa mengambil adegan tanpa harus melalui take yang panjang. Alhasil proses syuting selesai dua jam dari perkiraan.
“Semuanya sudah bekerja keras. Terima kasih.”
“Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.”
Daehyun pun ikut mengucapkan sambil membungkuk pada semua staff yang sudah bekerja keras hari itu. Syuting adegan berjalan dengan lancar. Segera setelah syuting selesai, Daehyun langsung celingak - celinguk mencari managernya.
“Kau melihat Daeun?”, tanyanya pada salah seorang staf.
“Ng? Tadi dia disini, mungkin dia sedang di toilet.”, jawab salah satu staf tersebut.
“Daehyun-shi. 수고하셨습니다 (sugo hasyeotseumnida).”, Hyun Joo ikut menghampiri.
Pengambilan adegan untuk Hyun Joo sudah selesai sekitar 10 menit sebelum Daehyun.
__ADS_1
“Kau juga.”, ucap Daehyun tersenyum simpul.
‘Mau makan malam bersama?’, tanya Hyun Joo namun dengan menggunakan kode karena tidak boleh ada yang mengetahui hubungan mereka.
Segera setelah tertangkap memberikan kode itu, Kim Yura, manager Hyun Joo langsung memukul pantatnya dari belakang.
“Aaa… sakit.”, ujar Hyun Joo dan melihat ternyata yang memukulnya adalah managernya sendiri.
“Sakitt.”, protes Hyun Joo kesal.
“Jaga sikapmu. Kau mau membuat semua orang disini mengetahuinya?”, kata Yura.
“Hn.”, jawab Hyun Joo sekenanya.
“Dasar wanita gila.”, ucap Yura menyeret Hyun Joo masuk ke dalam mobilnya.
Daehyun tersenyum dan melambaikan tangannya. Adegan tersebut sempat di potret oleh beberapa kamera yang ternyata sedang memantau pergerakan mereka dari kejauhan.
“Kau mencari Daeun? Itu dia disana.”, ucap seorang staf yang mengetahui Daehyun sedang mencari managernya.
“Ah.. terima kasih.”, jawab Daehyun langsung berlari menghampiri Daeun.
“Kemana saja? Bukannya harus standby saat aku sudah selesai?”, protes Daehyun.
“Aku sedang berbicara dengan writer-nim untuk memastikan sesuatu yang diminta oleh Bokman Ahjussi.”, balas Daeun datar.
“Apa?”, tanya Daehyun penasaran.
“Bukan tentangmu. Lagipula sudah selesai.”, Daeun tersenyum pada writer-nim yang juga pergi meninggalkan mereka.
“Daehyun-shi. Kau sudah selesai? Bokman Ahjussi berpesan agar kau langsung pulang dan beristirahat. Besok aku akan menjemputmu pagi - pagi.”, kata Daeun.
“Kau tidak pulang bersamaku?”, tanya-nya lagi.
“Aku masih ada urusan. Ada supir di van. Dia sudah tiba. Kau tidak bawa mobil hari ini, kan? Kau bisa pulang bersamanya. Jangan keluyuran.”, ucap Daeun.
“Ah.. kau tidak memanggilku hyung lagi? Aku lebih tua darimu.”, tiba - tiba, Daehyun protes akan hal random.
Padahal, sejak kemarin mereka sudah terbiasa untuk berbicara informal seperti ini. Kening Daeun langsung mengkerut bingung.
“수고하세요 (sugohaesseoyeo), Daehyun-oppa.”, ucap Daeun kemudian membungkuk dan pergi.
“Waaa… dia semakin aneh belakangan ini. Benarkan?”, Daehyun berbicara pada supirnya yang baru datang dan menunggu.
Dia hanya tersenyum.
__ADS_1