
“Apa kau tidak apa - apa?”, tanya Daeun dengan canggung pada Daehyun yang sedang menempelkan telur ke atas kepalanya.
“Wah.. kau beruntung melukaiku saat aku sedang terkena skandal, jadi kau tidak perlu khawatir apakah aku ada syuting besok dan apakah aku harus menjaga penampilanku atau tidak.”, ucap Daehyun dengan nada sarkas.
“Maafkan aku. Lagipula, siapa di dunia ini yang membiarkan kamarnya seperti kandang marsupilami seperti itu? Kau tidak tahu namanya bersih - bersih?”, tanya Daeun tak kalah sarkas dibandingkan dengan Daehyun.
“Yaaaa… kamarku bersih. Hanya saja berantakan, aku mengakuinya.”, ucap Daehyun membela diri.
“Terserah kau saja. Yang jelas kamarmu sudah menjadi tempat paling berbahaya untukku di rumah ini.”, kata Daeun mengambil duduk di sofa setelah sebelumnya mengambil telur yang tadi digunakan Daehyun dan meletakkannya kembali ke dalam kulkas.
“Kenapa? Kau takut dengan baju - bajuku yang jatuh berantakan, atau…”, ucap Daehyun mulai usil.
Ini pertama kalinya dia usil dengan topik seperti ini.
“Maksudmu? Aku mengatakan kamarmu berbahaya karena kau menaruh baju dan celana sembarangan. Berhubung semua harga outfitmu mahal, dia jadi sangat licin dan bisa membuat orang mati terbunuh dengan mudah, di kamarmu.”, balas Daeun dengan menambahkan hiperbola pada kalimatnya.
“Kau yakin tidak sedang memikirkan hal yang lain saat berada di kamarku? Aku tadi mendengar suara jantungmu berdegup dengan sangat kencang.”, ujar Daehyun tersenyum menggoda.
“Justru aku yang bisa mendengar suara jantungmu yang berdebar dengan sangat kencang. Jangan mengada - ada.”, ucap Daeun.
“Bukankah itu suara degup jantungmu? Kau yakin tidak salah?”, kata Daehyun lagi.
“Permisi, sepertinya kau terlalu banyak makan ramyun.”, ucap Daeun.
“Ya.. berhubung sekarang kita tidak sedang melakukan apa - apa. Hanya aku dan kau berdua disini…”, Daehyun belum lagi menyelesaikan kalimatnya tetapi Daeun sudah memberikan sorot mata bingung dan khawatir dengan kalimat Daehyun selanjutnya.
“Apa? Apa yang coba kau bicarakan?”, tanya Daeun mengambil langkah mundur.
“Tuhkan, kau memikirkan hal yang tidak - tidak. Memangnya aku ingin mengatakan apa, sampai wajahmu pucat begitu?”, tanya Daehyun.
“Tidak. Tidak ada kok. Aku tidak sedang memikirkan apa - apa.”, ucap Daeun.
“Aku cuma mau bilang. Kau tidak tertarik padaku? Lihat saja, ada berapa banyak orang di luar sana yang membayangkan bisa berada di posisimu sekarang? Berdua dengan seorang ‘Kang Dae Hyun’.”, tutur Daehyun dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Dia bahkan menyilangkan kakinya dan merentangkan lengannya hanya untuk mengatakan hal tersebut.
“Benar. Kau sepertinya kebanyakan makan MSG.”, kata Daeun.
“Kau mau kemana?”, tanya Daehyun saat melihat Daeun mengambil tasnya dan bergerak menuju pintu keluar.
“Aku rasa pekerjaanku hari ini sudah selesai. Aku masih harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa laporan.”, balas Daeun.
“Laporan apa? Memangnya kau anggota kepolisian? Harus membuat laporan segala?”, ucap Daeun.
“Agar perusahaan tidak menerima kerugian lebih besar lagi, lebih baik sekarang aku bekerja keras untuk menemukan potential skandal artis agar bisa ditanggulangi sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan sepertmu. Dan lagi, aku juga harus menemukan banyak bukti yang diminta oleh Bokman dan Pilsung Daepyo agar bisa menurunkan sentimen netizen padamu. Kita tidak punya waktu untuk berleha - leha seperti sekarang ini.”, ujar Daeun.
“Ajak aku ke kantor.”, kata Daehyun.
“Kau mau diserbu wartawan? Aku mau pulang.”
“Tunggu… enak saja main pulang. Kau bisa keluar dengan bebas. Kenapa aku tidak. Ajak aku ke apartemenmu.”, kata Daehyun mengeluarkan ide gila.
“Apa? Untuk apa?”
“Apartemenku sempit.”
“Kalau begitu kau disini saja. Kau mau bikin laporan? Kau bisa menggunakan kursi dan meja makan.”, ucap Daehyun.
“Kenapa aku harus menghabiskan seharian bersamamu?”
“Kau kan managerku. Kau tidak takut aku stress lalu melakukan hal yang tidak - tidak?”, kata Daehyun mencoba mengambil simpati Daehyun.
“Tadinya aku khawatir. Tapi melihatmu se santai ini menghadapi bom atom skandal yang begitu besar, aku sudah tidak khawatir lagi.”, ungkap Daeun.
“Orang bilang, mereka yang tersenyum di luar sebenarnya menangis di dalam. Siapa yang bisa tahu kalau sebenarnya di dalam hati aku sangat tersiksa. Kau tahu? Kau bisa melihat isi hatiku?”, tanya Daehyun.
‘Apa - apaan Kang Daehyun. Aku kira dia introvert dan dingin, kenapa sekarang dia jadi banyak bicara.’, ucap Daeun di dalam hati karena bingung.
__ADS_1
“Daeun-ah.. Kau yakin akan meninggalkan aku sendirian?’, ucap Daehyun dengan nada memelas.
Daeun bergerak satu langkah dan Daehyun langsung kembali mendekat lagi.
“Daeun-ah…”, ucapnya segera.
“Baiklah - baiklah. Tapi, aku akan segera pulang begitu matahari terbenam.”, ucap Daeun segera.
“Aku akan mengantarmu, tenang saja.”, ucap Daehyun penuh percaya diri.
“Kau sudah lupa kata Pilsung Daepyo-nim?”, ucap Daeun.
“Ah.. baiklah… aku akan tetap disini. Hanya jika kau membelikan barang - barang yang aku inginkan.”
“Apa?”, Daeun meletakkan kembali tasnya.
“Aku ingin membunuh waktu dengan menonton semua film yang tidak bisa aku tonton selama aku punya banyak aktivitas latihan, syuting, manggung, dan lainnya. Jadi, aku butuh pop corn.”, ucap Daehyun duduk kembali dengan santai di atas sofanya.
“Hanya itu saja?”
“Kopi. Burger.”
“Kau benar - benar berencana ingin hiatus? Bagaimana kalau kau gendut?”
“Baiklah, aku tarik burger, tapi aku ingin es krim.”
“Aku lihat ada di kulkasmu.”
“Ah benarkah? Hyun Joo mengisi banyak makanan juga.”
“Apa lagi?”
“Hm.. bola basket.”
__ADS_1
“Kau ingin bermain bola basket di rumah?”
“Memangnya tidak boleh?”, protes Daehyun.