Perjalanan Cinta Seorang Idol

Perjalanan Cinta Seorang Idol
Episode 41


__ADS_3

“Terima kasih untuk tumpangannya. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini.”, kata Daeun berpamitan.


“Aku hanya butuh teman untuk mengobrol. Baiklah.. Sampai bertemu besok.”, kata Daehyun menutup kaca mobilnya.


Daeun melambaikan tangan melihat mobil Daehyun yang sudah melaju dan segera hilang di pembelokan. Meski begitu, Daeun masih menatap ke arah mobil itu pergi.


“Aku baik pada semua orang.”


Kata - kata Daehyun masih terngiang - ngiang di kepalanya.


‘Ah.. apa yang aku pikirkan. Bodoh sekali.’, kata Daeun memukul kepalanya.


“Ah… sakit. Aku memukulnya terlalu keras.”, ujar Daeun cemberut karena kepalanya malah sakit akibat responnya yang di luar dugaan.


“Hei.. kenapa kau memukul kepalamu sendiri?”, kata seorang nenek - nenek yang baru saja keluar dari tangga apartemen (lebih tepat disebut studio karena memang ruangannya kecil).


“Selamat malam, nek. Kenapa membuang sampah malam - malam begini?”, tanya Daeun menyapa nenek itu.


Dia melihatnya membawa sekantong besar sampah. Mungkin hanya sampah kertas dan botol plastik yang tidak berat, tapi Daeun tidak enak membiarkannya membawa kantong besar itu sendirian.


“Sini, aku bantu. Nenek menginap disini lagi? Bukannya dua minggu lalu nenek juga disini?”, tanya Daeun sambil mengambil alih sampah plastik yang dibawa nenek tersebut.


Sang nenek awalnya menolak, namun kemudian dia membiarkan Daeun membantunya.


“Aku khawatir dengan cucuku. Orang tuanya sangat sibuk. Mereka tidak sempat untuk memperhatikan anaknya yang mereka kirim jauh ke kota. Kau sendiri kenapa jam segini baru pulang.”, jawab nenek itu. Sekarang giliran Daeun yang balik ditanya.


“Ah.. aku ada urusan pekerjaan, nek. Tanpa terasa sudah jam segini. Di luar dingin, mari kita masuk ke dalam.”, ujar Daeun yang sudah menarik - narik hidungnya karena cuaca di luar sangat dingin.


“Kau sudah makan? Aku baru datang dan membawa kimchi. Aku juga merebus beberapa ubi yang aku tanam sendiri di rumah. Kau tunggu disini, aku akan membawakannya untukmu.”, ujar nenek itu berhenti di depan pintu unitnya dan meminta Daeun menunggu.

__ADS_1


Dari luar terdengar suara ribut - ribut anak laki - laki, yang kemungkinan adalah cucu sang nenek. Daeun belum pernah bertemu dengannya karena setiap Daeun pergi, anak itu sudah ke sekolah. Sebelum Daeun pulang, anak laki - laki itu sudah pulang. Dia duduk di bangku SMA.


“Nenek tidak perlu repot - repot sebenarnya…”, suara Daeun semakin pelan.


Daeun tak enak menerima makanan dari nenek tadi padahal dia pasti membawa cukup untuk cucunya disini. Tapi, sepertinya kimchi yang dibuat di pedesaan rasanya sangat enak. Daeun belum pernah mencobanya sama sekali.


Lagipula dia juga lapar. Sebenarnya tadi dia ingin berhenti untuk membeli makanan. Siapa sangka Daehyun malah mengantarnya. Dia tidak enak kalau minta berhenti di depan supermarket. Entah kenapa Daeun jadi percaya diri kalau dia mengatakan ingin turun membeli makanan, Daehyun akan menawarkan untuk makan malam bersama.


“Ini.. kau bisa kembalikan tempatnya kapan saja kau mau. Tidak perlu diisi lagi, santai saja. Ini ubinya. Kau rebus di rumah, rasanya sangat manis.”, kata nenek itu memberikan Daeun 5 bonggol ubi berukuran besar.


“Oh? Nek, kau hanya perlu memberikan aku satu saja. Itu sudah cukup untukku. Apalagi ukurannya juga sangat besar. Kau tidak perlu memberikanku sebanyak ini. Kau sudah bersusah payah membawanya kesini.”, kata Daeun tidak enak menerima banyak pemberian nenek itu.


“Tidak apa - apa. Aku senang berbagi denganmu. Aku dengar kau tidak tinggal dengan orang tuamu. Anggap saja itu pemberian dari keluargamu. Anak itu tidak makan ubi. Jadi kau makan saja yang banyak.”, kata nenek itu ramah pada Daeun.


“Wah.. benarkah? Aku sangat berterima kasih atas pemberianmu. Lain kali aku akan mencari makanan yang enak untuk mentraktirmu, nek.”, ujar Daeun membungkuk memberikan hormat sambil tersenyum lebar.


Kimchi di tangan kirinya dan ubi di tangan kanannya. Lengkap sudah makan malamnya untuk minggu ini.


“Tidak usah nek. Tidak usah repot - repot. Kenapa nenek cepat sekali kembali? Aku kira nenek akan menghabiskan beberapa hari disini. Besok aku gajian, aku ingin mentraktir nenek.”, kata Daeun mengutarakan niat baiknya.


“Aku harus bersiap untuk masa panen. Pekerjaanku sangat banyak. Lain kali main lah ke pedesaan kami. Ya.”, ajak nenek itu.


“Baiklah nek. Terima kasih.”, Daeun tersenyum lebar.


“Oke.. sudah sana. Istirahat. Jangan lupa masukkan kimchinya ke dalam kulkas.”


“Baik nek.”, Daeun langsung pamit dan berjalan menaiki tangga selanjutnya.


Unit milik Daeun masih berada dua lantai setelah lantai nenek tadi, tepatnya di lantai empat. Salah satu alasan mengapa apartemen ini ditawarkan dengan harga yang sangat murah adalah karena mereka tidak menyediakan lift. Sehingga, Daeun harus naik tangga manual. Masih ada 2 lantai lagi diatasnya.

__ADS_1


Daeun tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia harus tinggal di lantai 6.


‘Kalau gajiku bisa memenuhi aku untuk pindah ke lantai satu, sepertinya aku akan pindah saja.’, pikir Daeun saat melayangkan pandangannya pada sisa anak tangga yang harus dia naiki untuk sampai ke unit apartemennya.


*************


Hyun Joo sudah mendarat di hotel tempat mereka menginap selama proyek pemotretan kira - kira seminggu kedepan. Dia mengenakan hoodie tebal karena cuaca sangat dingin di malam hari. Tidak lupa dirinya mengambil beberapa selca terlebih dahulu dan mempostingnya di social media miliknya.


“Hm..apa aku harus mention Daehyun? Tapi aku hide. Ah tidak - tidak. Aku belum mau ketahuan olehnya.”, ujar Hyun Joo yang hampir saja tag Daehyun.


“Apa yang kau lakukan sendiri disana? Ayo.. kita harus beristirahat dan bersiap untuk briefing outfit dan tema besok pagi.”, ujar Manager Hyun Joo menyadarkan lamunannya.


“Baiklah.”, jawab Hyun Joo tidak bersemangat.


Sebenarnya kalau model prianya bukan orang itu, Hyun Joo akan bersemangat untuk melakukan pemotretan ini. Sayangnya, dia tidak memiliki wewenang untuk mengganti model pria yang sudah dipilih oleh brand tersebut. Terlebih pihak agensinya sudah menandatangani kontrak eksklusif dengan mereka.


Hyun Joo tidak hanya akan melihat wajah pria itu selama seminggu ini tetapi selama masa kontrak eksklusif merek 6 bulan ke depan.


“Apa yang kau lakukan?”, tanya Hyun Joo berteriak saat seorang anak laki - laki mendekatinya di pelataran taman dekat sekolah. 


“Kau Hyun Joo?”, tanya anak laki - laki itu. 


“Bukan. Aku bukan Hyun Joo. Permisi aku ada kelas dan ujian.”, ujarnya berusaha menghindar dari anak laki - laki itu beserta beberapa gerombolannya. 


“Kudengar kau tidak menerima satupun penyataan cinta yang datang padamu. Aku sedang bertaruh dengan teman. Bisakah kau membantuku?”, tanya anak itu pada Hyun Joo. 


“Aku bukan Hyun Joo. Kau salah orang.”, ujar Hyun Joo melangkah ke depan. 


Pagi itu dia mengenakan hoodie sehingga name tag di bajunya tidak terlihat. Namun, dengan kurang ajarnya, anak laki - laki itu tiba - tiba menarik hoodie milik Hyun Joo. Hyun Joo mencoba untuk mengelak namun teman - temannya malah memegang tangannya. Anak laki - laki itu dengan leluasa membuka hoodie milik Hyun Joo. 

__ADS_1


“Kau masih ingin berbohong. Di seragammu tertulis ‘Jang Hyun Joo’. Masih mau mengelak?”, ujarnya pada Hyun Joo. 


“Dasar kurang ajar.  Aku akan melaporkanmu pada guru.”, ancam Hyun Joo dengan sorot mata yang tajam. 


__ADS_2