
Daeun mondar - mandir di depan pintu unit apartemen milik Daehyun. Sudah lebih dari 10 menit dia menunggu disini tetapi pria itu tidak kunjung keluar. Padahal, dia berjanji hanya akan menghabiskan 10 menit saja.
Daeun cemas karena perjalanan menuju lokasi pemotretan sudah memakan waktu lebih kurang 30 menit sendiri. Itu juga jika tidak ada drama kemacetan dan pengalihan jalan. Banyak proyek jalan baru dan juga pemeriksaan di beberapa tempat.
Ditambah lagi, jalur yang akan mereka lewati juga memiliki beberapa titik kemacetan. Dia harus memastikan Daehyun sampai disana tepat waktu. Tapi, lihat pria ini, sampai jam segini, dia juga tidak kunjung datang.
Sudah 15 menit lebih berlalu, kesabaran Daeun sudah hilang. Dia memilih untuk menggedor - gedor pintu Daehyun dan membunyikan bel berulang kali. Dia berharap tidak ada tetangga yang komplain padanya.
“Iyaaa… tunggu sebentar. Kau mau menghancurkan apartemenku?”, tanyanya melalui sambungan bel pintu.
“Hah… dia tidak membukakan pintu sama sekali dan hanya membalasku melalui telepon?”, Daeun mengehela nafasnya tidak percaya pada tindakan Daehyun barusan.
“Aku masih mendengarnya. Bukankah kau sendiri yang tidak ingin masuk? Kalau kau masuk, mungkin kau bisa melihat perkembangan persiapanku. Itu pilihanmu sendiri.”, ujar Daehyun tanpa merasa bersalah dan langsung mematikan sambungannya.
Lima menit kemudian, barulah dia muncul dari balik pintu.
“Kalau bukan karena bayaran yang tinggi, aku juga tidak akan menerima pekerjaan untuk menjadi manager sementaramu.”, ujar Daeun blak - blakkan.
__ADS_1
“Heh… baru sebulanan bekerja, kau sudah berani menjawab satu demi satu kata - kataku rupanya.”, ujar Daehyun menyentil kepala Daeun.
“Aw… sakit. Kenapa kau menyentilku. Bagaimana aku tidak bisa akrab jika sebulan saja kau hampir menyebabkan 5 potential skandal.”, kata Daeun sambil melirik ke belakang dimana Daehyun berdiri saat itu.
Perbedaan tinggi diantara keduanya membuat Daeun kesulitan untuk berkomunikasi. Bayangkan, Daun hanya setinggi bahu Daehyun saja.
“Memangnya apa skandal yang bisa terjadi? Kau hanya mengarang saja. Aku bingung kenapa Bok man hyung mempercayai semua spekulasimu.”, ucap Daehyun sambil berjalan menuju pintu lift.
Sebelum Daeun menekan tombol lift, dia sudah lebih dulu menekannya.
“Tapi aku tidak membuat kekacauan. Aku juga tidak begitu mabuk.”, ujarnya membela diri.
“Aku tahu, tapi kamera hampir saja bisa menangkap angle dirimu dan sebuah artikel besar hampir saja terjadi. Kalau sudah skandal, itu bukan potensi lagi namanya.”, Daeun tidak mau kalah.
Mereka seharusnya berhenti di lantai lobby. Namun, lift berhenti dahulu di lantai 4. Seorang wanita hamil bersama dengan satu orang puteranya memasuki lift. Daehyun agak mundur ke belakang.
Dia bersikap biasa saja karena tidak mungkin seorang wanita hamil dan juga anak kecil bisa mengenalinya. Tanpa diduga, anak kecil tadi terus melirik ke belakang. Tak berapa lama, dia menarik lengan ibunya.
__ADS_1
“Oh?”, respon ibunya saat puteranya menarik tangannya pelan.
“Aku kenal dengan paman yang di belakang. Dia artis. Apa aku boleh meminta tanda tangannya?”, tanya anak itu.
Pintu lift terbuka. Ibu hamil tadi belum terlalu merespon ucapan anaknya meski dia sudah mengerti maksudnya.
“Paman yang mana?”, tanya ibunya begitu sampai di luar. Daehyun sudah ingin kabur karena moodnya sedang tidak baik dan sedang tidak ingin memberikan tanda tangan pada siapapun. Bayangkan jika rumor tersebar. Dia tinggal di apartemen ini. Maka, akan banyak orang yang menunggu dan meminta tanda - tangannya.
(Tentunya, ini hanyalah bayangan hiperbola dari Daehyun saja. Dia belum seterkenal itu. Ditambah, kali ini memang kebetulan sekali.)
“Heh.. mau kemana?”, tanya Daeun yang sudah menarik jaket Daehyun.
Sebagai responnya, dia melirik ke arah Daeun dan bertanya apa maksud gadis itu dengan gerakan matanya.
“Kau harus memberikan tanda tangan pada fansmu.”, ujar Daeun sambil tersenyum pada anak kecil tadi.
Daeun segera meminta kertas dan pulpen pada resepsionis dan memberikannya pada Daehyun. Anak kecil itu menunggu dengan tekun sambil tersenyum menunjukkan rasa terima kasihnya pada Daeun.
__ADS_1