
Daeun sedang berjalan - jalan di koridor agensi. Hari ini dia tidak ditugaskan kemana - mana dan hanya memantau aktivitas SNS para selebriti yang dilimpahkan kepadanya termasuk para member Triple Kill.
Daeun baru saja membeli minuman untuk menyegarkan kepalanya karena dia terus saja merasakan kantuk yang luar biasa. Dia telah bekerja selama tiga malam berturut - turut mengantarkan pesanan ayam.
Bayarannya sangat lumayan. Dia bisa membayarkan uang sewa studio selama satu bulan dan dia juga tidak perlu terlalu berhemat makanan sampai seminggu kedepan. Kebetulan minggu depan mereka sudah menerima gaji pertama. Daeun hanya bisa berharap gaji itu bisa memberikannya nafas sedikit di bulan depan tanpa harus menambah beberapa pekerjaan tambahan.
Daeun kembali duduk di kursinya dan membuka laptopnya. Dia sedang membuat catatan untuk SNS para selebriti dan sore ini dia harus mengirimkan beberapa poin yang perlu diperhatikan kepada Bokman Ahjussi.
Sejauh ini, Daehyun belum menemukan hal yang mengkhawatirkan. Hanya saja, ada satu aktor yang memiliki aktivitas sosial media yang mencurigakan. Daehyun menelusuri beberapa komen yang disematkan di akun SNS selebritas lain dan sepertinya mereka sedang memiliki masalah.
Meski dia menyematkan komentar pada akun SNS selebritas lain yang kurang terkenal, namun tetap saja dia merasa khawatir dan merasa ada yang tidak beres disini. Daeun sedang scrolling down semua komentar yang ada sebelum akhirnya matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi.
Daeun tertidur di atas laptopnya yang terus saja mengetikkan beberapa huruf asal di layar laptop nya karena tertimpa.
Tutututututututu. Mood Daehyun sedang sangat baik. Dia berjalan di sepanjang koridor sambil mengenakan celana jeans biru dan kemeja putih. Setelan rapi yang tidak pernah sekalipun dia kenakan kalau sedang latihan di kantor.
“Oh? Bukankah itu Daeun.”, ujar Daehyun menebak - nebak dari postur tubuhnya karena dia hanya bisa melihat dari arah belakang.
Daehyun perlahan mendekat dan kembali memastikan.
“Oh.. benar, ini adalah Daeun. Yaa…. mengapa dia tidur disini? Ya ampun, wanita ini benar - benar.”, setelah mengeluarkan komentar pelan, Daehyun mengambil ponsel di celananya dan memotret Daeun.
Cekrek. Ternyata Daehyun lupa mematikan flash dan suara dari kamera ponsel miliknya. Alhasil Daeun terbangun dan terkejut melihat Daehyun.
Kebetulan kursi di salah satu ruang meeting yang ada di kantor agensi memiliki kursi dengan setting seperti bar. Tinggi kursi tersebut lumayan jika dibandingkan dengan tinggi kaki pada umumnya.
Saking terkejutnya melihat Daehyun yang tiba - tiba ada di hadapannya, Daeun tanpa sengaja mendorong dan memberatkan tubuhnya ke belakang. Alhasil dia hampir saja terjatuh sebelum akhirnya ditangkap dengan cepat oleh Daehyun.
Saat akan menangkap Daeun, yang ada dipikiran Daehyun adalah gerak refleks untuk menangkap tubuh wanita itu. Dia berpikir kekuatan lengannya bisa menangkap gerakan dari Daeun yang hampir terjatuh.
__ADS_1
Ternyata berat badan gadis itu lebih besar dari yang dibayangkan. Ditambah, gerakan refleks Daeun yang takut akan jatuh langsung otomatis menarik apa saja di hadapannya yang bisa ditarik. Dan itu adalah kerah baju Daehyun.
Hasil dari semua itu adalah Daehyun semakin tertarik ke belakang dan Daeun tak mampu menghentikan dirinya yang akan terjatuh. Keduanya lantas terjatuh bersama dengan posisi kaki Daehyun menahan sedikit sebelum tubuh Daeun jatuh mengenai lantai.
“Arghhh…”, ujar Daehyun merintih karena tangannya terkena himpitan tubuh Daeun.
Daeun yang menyadari hal tersebut langsung bangun meski punggungnya masih kesakitan.
“Oh? Kau tidak apa - apa? Apa kau baik - baik saja? Sini aku lihat dulu. Kau tidak apa - apa? Ah… kenapa kau tidak membiarkannya saja.”, ujar Daeun merasa bersalah.
“Hm? Maksudmu membiarkanmu terjatuh dan membuatku dalam masalah karena tidak gentle membantu seorang wanita?”, ujar Daehyun perlahan bangun dibantu oleh Daeun.
“Apa itu sakit?”, tanya Daeun saat melihat Daehyun merintih sambil memegang telapak tangannya yang terkena himpitan.
“Tidak apa - apa.”, jawab Daehyun meski sebenarnya tangannya masih sakit.
“Apanya yang tidak apa - apa. Lenganmu sepertinya merah. Aku bisa dimarahi Seongmin-hyung kalau tanganmu sampai terluka. Apa kita tidak perlu ke rumah sakit?”, tanya Daeun panik.
Dia memang masih kesakitan dengan tangannya. Tetapi dia juga merasa tidak nyaman melihat Daeun yang sibuk dan panik.
“Aku ambilkan kompres saja. Sebentar, di ruang meeting satu lagi pasti ada kotak P3K. Kau tunggu disini.”, kata Daeun langsung melesat ke ruang sebelahnya.
Area lorong ini memang lebih banyak digunakan untuk ruang meeting para manajer dengan artis, para manager dengan staff, para staff dengan agensi, dan sebagainya. Sehingga, selain ruangan yang digunakan oleh Daeun saat ini, terdapat beberapa ruangan lainnya.
Para trainee biasanya juga melakukan evaluasi di dalam ruangan ini.
“Ini, aku membawakan compress. Aku sudah mengisinya dengan balok es. Coba tempelkan di tanganmu.”, kata Daeun memberikan kompresan itu pada Daehyun.
“Kau memintaku mengompres ini sendiri?”, kata Daehyun.
__ADS_1
“Bukankah tanganmu yang sakit hanya satu. Kau bisa menggunakan tangan yang satu lagi untuk mengompres.”, jawab Daeun.
“Tapi tanganku yang satu lagi tidak terbiasa untuk meletakkan kompres. Aku terluka di tangan kanan dan aku tidak bisa menggunakan tangan kiriku sebaik menggunakan tangan kanan.”, tutur Daehyun.
‘Ah.. cerewer sekali pria ini. Kalau bukan karena dia sudah menolongku. Aku tidak akan membantunya menaruh kompresan ini.’, kata Daeun dalam hati.
Beberapa orang trainee lewat. Mereka melihat interaksi antara Daehyun dan Daeun. Namun, karena mereka hanya mengenal Daehyun, maka perhatian mereka lebih banyak pada Daehyun.
“Wuah.. ada Daehyun-oppa.”, ujar salah seorang trainee.
“Oh? Dia dengan siapa?”
“Tidak tahu. Ah aku sangat menyukai penampilannya. Dia juga jago rap..,”
“Kalian tahu, sebentar lagi dia akan muncul di drama. Aku pernah mendengarnya dari Bokman Ahjussi.”
“Benarkah? Daehyun-oppa main drama? Siapa pemeran wanitanya? Apa genrenya? Apakah ada adegan romantis?”
“Ah.. aku ingin segera menontonnya.”
“Kau tahu tempo hari aku ketinggalan kartu untuk naik kendaraan umum. Kemudian Daehyun hyung membantuku untuk meminjamnya pada seorang staff. Dia baik sekali.”
“Benarkah? Apa kau berkenalan dengannya?”
“Tidak. Dia langsung bertanya karena aku terlihat kebingungan. Tapi, kami tidak saling memperkenalkan diri.”
“Ah tidak. Sayang sekali. Seharusnya kau berkenalan dengannya supaya dia bisa mengingatmu.”
“Mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur gugup di depannya. Bayangnya, aku sudah fans dengannya sejak dia masih di SMA.”
__ADS_1
“SMA? Kau satu SMA dengannya.”
“Triple Kill berawal dari band SMA yang diorbitkan. Mereka tidak melewati masa trainee seperti kita. Saat mereka masih belum terkenal, mereka sering tampil di tempat - tempat umum. Bahkan sampai sekarang masih ada beritanya.”