Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Hiduplah Demi Aku.


__ADS_3

     Seseorang pria langsung memeluk tubuh Ailin dari belakang dan pria itu menarik kasar serpihan kaca yang hendak Ailin goreskan pada pergelangan tangannya, ya itu adalah Adam yang sedang berusaha menggagalkan rencana bunuh diri Ailin malam hari itu. Setelah mendapat pesan dari Pak Ray, Adam langsung memacu mobilnya menuju rumah Ailin dan nasib baik masih berpihak pada pria itu karena Ailin masih bisa di selamatkan jika saja Adam terlambat datang, mungkin Ailin sudah tiada lagi saat ini.


     “Lepaskan aku Adam, biarkan aku mati saja untuk apa aku hidup dengan menahan rasa sakit seperti ini.” Tangisan wanita itu semakin pecah dan dia berteriak seperti


sedang kehilangan akalnya karena melihat suaminya besok bersanding dengan


wanita lain itu sudah menghancurkan seluruh hidup dan dunianya. Semua sudah


berakhir sejak sang suami mulai jatuh hati pada gadis lain.


     Adam semakin sedih melihat air mata dan raungan hati wanita itu, adam bahkan ikut meneteskan Air matanya karena tidak tahan melihat kesedihan wanita yang masih menghuni relung hatinya itu, mungkin saja tuhan mengambil istri Adam karena ingin


menjadikan pria itu seorang penyelamat bagi kehidupan Ailin  semua yang terjadi pasti akan berakhir dengan bahagia karena tuhan sedang menguji seberapa kuat hati Ailin bisa bertahan dalam cobaan hidupnya.


     “Hiduplah demi aku,” Adam membalikkan tubuh Ailin dan memeluk wanita itu dengan sangat erat seakan dia sedang menjaga sesuatu wanita yang sangat dia sayangi. Ailin


perlahan mulai tenang namun wanita itu masih mengisak. Pak Ray yang berdiri di


depan pintu kamar Ailin segera keluar dari kamar tersebut karena dia tidak tega


melihat apa yang sedang terjadi.


    “Apa maksud dari ucapanmu itu Kak?” Ailin masih kesulitan mencerna apa yang sahabat baiknya itu katakana tadi.


     “Aku akan selalu menjagamu, kau percaya padaku kan?” Tanya Adam balik dengan kedua tangannya mengapit pipi Ailin dengan lembut, dan Ailin hanya bisa menganggukkan pelan kepalanya karena dia dari dulu memang selalu nyaman jika berada di samping


Adam. Sejak awal Adam memang selalu berbuat baik padanya dan tidak pernah


sedikitpun menyakitinya.


     “Sekarang tidurlah, dan berusaha tampil cantik besok dan kita berikan kejutan indah buat kedua mempelai itu,” Adam kembali memeluk tubuh Ailin yang sekarang mulai


terlihat lemas mungkin tenaga wanita itu sudah terkuras habis karena seharian


marah dan juga menahan emosi di dadanya.


     Rumah Sani.

__ADS_1


    Wenda sedang tidur di ranjangnya karena hari memang sudah larut malam, mata wanita paruh baya itu


sangat sulit terpejam malam hari ini padahal biasanya pukul 10.00, malam Wenda


sudah tertidur lelap namun sekarang wanita itu sedang merasa gelisah. Perasaan


yang sangat aneh namun bisa membuat Wenda tidak dapat memejamkan matanya.


Bahkan perasaan itu semakin bertambah gelisah seiring jarum jam yang berputar, Wenda mendudukkan tubuhnya dari posisi tidurnya dan wanita itu mengambil air putih


yang ada di samping nakasnya namun Air itu ternyata sudah habis Wenda beranjak berdiri dari posisi duduknya dan dia segera keluar dari kamarnya dan secara kebetulan Sani juga keluar dari kamarnya.


     “Tante Wenda mau ambil Air juga?” Tanya Sani yang sedang menutup pintu kamarnya dan berjalan mendekati Wenda wanita itu


membawa gelas di tanganya.


       “Mau ambil air minum,” Sani menganggukkan pelan kepalanya. Wenda dan juga Sani berjalan berdua menuju dapur rumah itu.


     Sani berjalan menuju kulkas yang ada di dalam dapur rumah itu, dan segera membawa botol air ke meja makan karena Wenda sedang berada di sana. Wenda sengaja menginap di rumah Sani karena Radja belum mengetahui jika Wenda pura-pura pingsan tempo hari. Wenda sangat menyayangi Ailin sehingga dia lebih memilih membela Ailin dari pada harus mendukung perbuatan salah anaknya itu.  Wenda sebenarnya sangat sedih jika mengingat putranya salah dalam memilih seorang wanita.


setelah bertemu dengan Rena, semua itu berubah bahkan Radja seperti bukan


putranya lagi karena setelah melihat dirinya pingsan waktu di rumah sakit pria


itu masih bisa bermesraan dengan Rena. Jelas terlihat jika Radja sudah tunduk dengan trik licik wanita yang bernama Rena itu.


      Setelah menuangkan Air mineral di gelas Wenda dan juga gelasnya sani segera mendudukkan tubuhnya di meja makan yang ada di dalam dapur itu. Mereka berdua langsung meneguk Air di dalam botol itu bersamaan karena mereka sedang merasakan jika tenggorokannya itu kering karena rasa haus.


     Menaruh gelas yang sekarang sudah kosong ke atas meja makan, “Tante  kenapa aku sangat takut sesuatu terjadi pada


Ailin,” ujar Sani dengan mengerutkan keningnya menatap ne arah Wenda.


   Memasang wajah gelisah sebelum bicara, “Aku juga sangat takut jika Ailin khilaf dan mencoba bunuh diri,” imbuh Wenda dengan menundukkan pandangannya karena merasa


bersedih. “bahakan aku sedari tadi merasa gelisah namun aku tidak mengetahui


apa yang sedang terjadi semoga saja Pak Ray bisa melindungi wanita malang itu,”

__ADS_1


    Wenda sepertinya memiliki ikatan batin terhadap Ailin bahkan saat wanita itu sedang berusaha untuk mengakhiri hidupnya Wenda yang berada jauh darinya seakan bisa merasakan apa yang menatunya itu rasakan. Bahkan Sani juga tak bisa memejamkan matanya saat mengingat jika sahabat baiknya sedang berjuang melawan penderitaan yang


sedang di alami. Wenda dan juga Sani tidak kembali ke kamar mereka lagi, mereka


sedang membicarakan banyak hal untuk mengisi waktu mereka di malam hari itu


karena keduanya masih memikirkan hal yang sama dan itulah yang membuat Wenda


maupun Sani kesulitan tidur.


       Rumah Adam.


      Setelah melihat Ailin tenang Adam pulang ke rumahnya yang berjarak beberapa blok saja dari kediaman wanita itu, Ailin, pria itu sedang merasa gelisah dia bahkan mondar-mandir di depan pintu


rumahnya seperti sedang menunggu sesuatu yang datang, dan benar saja tak lama


sebuah mobil terlihat mulai masuk dari perkarangan rumah Adam dan segera


berhenti tepat di depan pintu rumah itu. Seorang laki-laki yang sedari tadi


sudah Adam tunggu yang tidak lain ialah Pak Ray. Pak Ray menundukkan badanya


saat melihat Adam sedang berjalan menghampirinya dengan langkah kaki


tergesah-gesah.


     “Bagaimana apakah dia masih Tidur?” Tanya Adam dengan menatap penuh rasa khawatir pada Pak Ray.


     “Nona masih tidur, dia tadi sudah minum obet tidur dan besok pagi dia akan bangun, anda tidak perlu khawatir lagi Tuan muda,” sambung Pak Ray mencoba menenagkan rasa khawatir seorang pria yang ada di hadapanya itu.


     “Apakah sudah kau siapkan semuanya?” Tanya Adam dan Pak Ray hanya menjawab anggukan kepala pelan.


Menandakan jika besok aja ada kejutan besar untuk Radja dan calon istri


mudanya itu.


JANGAN LUPA BACA KELANJUTANNYA NOVEL SANG PENAKLUK 2.

__ADS_1


__ADS_2