
Radja mulai menurunkan emosinya, dia bisa berpikir dengar jerni lagi setelah coba mencerna apa yang asistenya dan juga sahabatnya ucapkan tadi. Radja menarik tangannya dari tangan Reva dan berjalan mendekati Ailin dia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang dengan tangannya memegang tangan istrinya yang sekarang juga sedang menatap ke arah dokter tersebut.
"Bicaralah!" Perintah Radja dengan menatap ke arah dokter itu.
"Nona muda sedang hamil 2 minggu, dan hal itulah yang membuatnya merasa tiba-tiba mual dan juga sering merasakan pusing. Dan ada satu hal lagi yang harus di waspadai di awal kehamilan , harus jaga kondisi dan tidak boleh teralu setres karna itu bisa berakhibat buruk bagi janin yang sedang tumbuh di rahim Nona muda." Jelas dokter tersebut dengan nada suara penuh hati-hati agar tidak sampai menyingung Radja.
Setelah mendengar apa yang dokter itu bicarakan Radja langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat dia tak menyangka jika Ailin sedang hamil dan dirinya akan menjadi seorang ayah. Ailin membalas pelukan Radja dengan air mata mengalir di pipinya dia tak menyangka jika ada kehidupan baru yang sedang berkembang dalam tubuhnya. Karna tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya wanita itu sampai menitihkan air matanya dalam pelukan suaminya itu. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu turut bahagia kecuali Reva.
Wanita itu semakin cemburu setelah mengetahui kabar baik tersebut namun dia masih memaksakan senyuman di wajahnya yang kelihatan garing itu, ya senyuman yang sangat jelas terlihat sedang di buat-buat bahkan Sani terus melirik ke arahnya dengan berdecak kesal, bahkan Pak Ray juga ikut memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu. Hanya Saja Reva yang terus menatap ke arah Radja dan Ailin yang masih berpelukan dirinya tidak menyadari jika sedang ke perhatikan. Reva mulai merasakan dadanya semakin sesak seakan ada yang menganjal di dalam paru-parunya dia tak rela melihat pria yang dia cinta akan hidup bahagia dan memiliki bayi dengan wanita lain.
"Sayang, kau menangis?" Tanya Radja dengan melepaskan pelukannya pada istrinya setelah mendengar isak tangis lirih dari bibir istrinya. Radja menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi Ailin dengan ibu jarinya.
"Aku bahagia, karna akan memiliki bayi dengan mu," Bicara dengan Air mata mengalir semakin deras.
Mengecup puncak kepala AIlin, "Sayang aku juga sangat bahagia, kau tau Mama pasti kaget jika mendengar tentang kabar gembira ini karna sejak dulu dia sudah menginginkan seorang cucu dan kau memberikan apa yang dia inginkan." Radja kembali memeluk tubuh Ailin dengan mengecup pipinya dengan lembut.
Reva semakin terbakar api cemburu melihat Radja sangat menyayangi Ailin bahkan pria itu sampai tidak memperdulikan jika ada Reva di sana. Mata Reva berkaca-kaca dengan mulai mengepalkan jari-jari tangannya dengan kuat. Reva ingin sekali mendorong Ailin sampai wanita itu keguguran namun itu tidak mungkin dia lakukan karna jika dengan begitu maka Radja akan membencinya dan dia akan gagal untuk merebut hati pria itu Reva mulai memutar otaknya dan menrencanakan sesuatu yang jahat untuk Ailin.
Reva berjalan mendekati Radja dengan manyatuhkan giginya menahan emosi yang sedang membakar hatinya, "Ailin, Radja. Selamat akan kehadiran anak kalian dan aku berdoa agar anak yang ada di jalan kandunganmu sehat selalu." Reva bicara dengan menahan emosinya yang seakan mau meledak.
"Aku berdoa agar janin itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" Gumam Reva dalam hati dengan memasang senyum di bibirnya.
"Sayang, siapa wanita ini. Apakah dia sahabatmu?" Tanya Ailin dengan menatap ke arah Radja.
"Aku lupa memperkenalkannya padamu sayang. dia Reva sahabat masa kecilku beberapa tahun yang lalu keluarganya pindah ke luar kota dan baru tadi dia kembali ke indonesia dan mengikuti meeting." Jelas Radja dengan melingkarkan tangannya di pingang istrinya.
__ADS_1
Melihat akan hal itu Reva semakin tak kuasa menahan kecemburuannya, wajahnya seakan sedang di telan api cemburu yang begitu membuat tubuhnya sampai merasa gerah. Pak Ray terus memperhatikan Reva. Asisten itu sudah bisa menebak sorot mata Reva saat menatap Ailin penuh dengan kebencian yang dalam, entah bagaimana dengan Radja karna pria itu masih bersikap wajar setiap menjawab ucapan Reva tadi.
"Perkenalkan aku Reva, sahabat baik suamimu." Ujar Reva dengan mengulurkan tangannya.
"Aku Ailin. Hei kita tadi sudah bertemu di tempat meeting kan pantas saja sejak tadi kau terus menatapku." Balas Ailin bicara apa adanya.
"Ya, kau benar." Menjawab sekenanya saja. "Radja, Ailin. Aku pamit pulang dulu ya karna masih ada hal yang harus ku selesaikan." .
"Ya hati-hati di jalan Reva." Sahut Ailin dengan senyum tipis di bibirnya.
Selesai bicara Reva langsung keluar dari ruangan itu. Sani mendekati Ailin dan mengucapkan selamat atas kehamilannya itu. Pak Ray juga mengucapkan selamat pada majikanya, selesai bicara Oak Ray segera mengikuti Sani keluar ruangan setelah melihat isyarat tangan Sani, yang menyuruhnya untuk mengikutinya. Pak Ray menganggukkan kepalanya pelan tanda jika dia tidak merasa keberatan dengan permintaan Sani barusan.
"Ada apa?" Tanya Pak Ray dengan menatap ke arah Sani.
Pak Ray terpingkal-pingkal setelah mendengar Sani memanggil Reva dengan sebutan itu, "Maksudmu Nona Reva!"
"Jelas dia siapa lagi." Bicara dengan nada suara terdengar kesal. "dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada Ailin, aku takut jika sahabatku sampai terluka karna kecemburuannya." bicara dengan mengerutkan keningnya.
"Kau tenang saja hal semacam itu tak akan terjadi karna aku akan menjaga Nona muda, dan janin yang ada di kandungannya." Ucapan Pak Ray membuat Sani merasa lega.
__ADS_1
Selesai bicara Sani pamit masuk kembali ke dalam ruangan mereka. Sedang di sepanjang jalan para wanita sedang menatapnya dengan wajah Kephoo dengan apa yang Sani bicara dengan Pak Ray dan juga pasti mereka sangat ingin tau kenapa Presdir mereka sampai begitu perhatian pada Ailin.
Di Lobby.
Reva baru saja menuruni eskalator dan dia berjalan dengan sangat cepat, dengan menggertak gigitan dengan kuat karena kekesalannya yang tidak bisa di bendung lagi. sampai dia tak melihat jika Wenda sedang berjalan ke arahnya dengan wajah kelihatan gelisah. Jelas Wenda merasa gelisah karna dia memikirkan tentang Ailin yang pingsan tadi setelah meeting selesai.
"Reva!" Sapa Wenda dengan berjalan ke arah wanita itu. Reva langsung melihat ke arah wanita yang memangilnya tadi.
"Mama!" Panggil balas Reva dengan mempercepat jalannya kemudian mereka berdua saling berpelukan.
Ya Reva sejak kecil seperti Putri Wenda sendiri dan dia sudah terbiasa memanggil Wenda dengan sebutan yang sama dengan Radja. Wenda juga sangat menyayangi Reva karna waktu kecil anak itu sering sekali bermain di rumahnya bersama dengan Radja. Namun saat Reva pindah ke luar negri Wenda merasakan kesepian hingga akhirnya Ailin muncul dan mengobati kesepian dalam dirinya itu.
SETELAH BACA JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL BARU KHAIRIN NISA YANG BERJUDUL. "MARRIED WITH MY ENEMY."
ITU IG KHAIRIN NISA YA. JANGAN LUPA DI IKUTIN YA.
__ADS_1