Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Panggil Aku Suamimu.


__ADS_3

Ailin terus berontak dalam gendongan Radja. Wanita itu minta turun dari gendongan suaminya karna dia melihat semua pegawai yang ada di sana menatap ke arahnya dengan pandangan sebelah mata.


"Presdir aku mohon turunkan aku," Renggek Ailin menatap ke arah Radja dengan wajah memohon.


"Panggil aku Suamimu." Sahut Radja dengan mengecup bibir wanita yang ada di dalam gendongannya itu.


     Sontak mata semua pegawai yang menyaksikan hal tersebut langsung melotot kaget mereka pasti tak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh Radja barusan, jangankan mereka Ailin sendiri juga tak menyangka akan hal tersebut. Ailin tak mengira jika Radja mengungkapkan hal tersebut dengan cara ekstrem seperti ini. Lihat itu wajah semua pegawai sampai merah padam karna patah hati. Mereka pasti sedang patah hati masal karna melihat pria yang selama ini di incar oleh banyak orang telah menikah dengan Ailin. Wenda dan juga Radja segera membawa Ailin pergi keluar dari perusahaan itu.


Sedangkan di dalam kantor semua pegawai sedang menatap ke arah Ailin dengan mengigit Id card mereka karna merasa kesal dengan kenyataan yang ada. Sedangkan Adam masih memasang wajah datar dan ikut meninggalkan kegaduhan dalam kantor tersebut.


    "Hei kawan berarti anak yang di kandung oleh AIlin adalah anak Pak Radja kan?" Tanya Intan dengan mengigit bibir bawahnya karna menahan kegeramanya.


"Ya tuhan kenapa nasib wanita itu sangat beruntung apa yang telah dia lakukan sampai mendapatkan suami yanga sangat tampan dan juga kaya raya seperti presdir kita." Sahut teman kerja lainnya bersahut-sahutan.


"Bahkan di dalam mimpi saja aku tidak pernah bisa bermimpi makan malam bersama presdir, tapi Ailin malah diam-diam sudah menikah dengannya." Sahut wanita lainnya bersahut-sahutan mereka qibah secara massal.


     Mereka bisa gibah dengan nyaman dan tanpa gangguan sore hari itu karna Pak Ray sudah pulang mengantar Radja tadi sehingga di dalam sana hanya ada wanita yang sibuk bergosip mereka bahkan terus membicarakan Ailin selama perjalanan keluar dari kantor.


Rumah Radja.


     Setelah dari kantor Radja yang sudah tiba di rumahnya segera membawa Ailin masuk ke dalam kamarnya, Wenda menyiapkan makan malam sendirian karna Ailin harus istrihatat di kamarnya kondisi wanita itu masih sangat lemah Radja menaruh tubuh istrinya perlahan di ranjang dengan sangat hati-hati. Ailin yang sedari tadi terus menahan kekesalannya karna Radja memberitahukan akan kenyataan tersebut dan itu membuatnya tak akan bisa berkerja lagi di perusahaan itu.


"Kenapa tadi bilang seperti itu di hadapan banyak orang?" Tanya Ailin dengan menatap ke arah suaminya.

__ADS_1


    "Apa aku harus diam melihat istriku di hina di depan ku sendiri! Aku bahkan ingin menyobek mulut mereka satu-persatu saat menghina dirimu." Radja bicara dengan alis hampir menyatuh dengan tubuh berkobar api.


Ailin hanya diam tanpa membantah apa yang di ucapka oleh suaminya barusan karna apa yang di ucapkan oleh Radja memang benar andaikan Ailin mendengar ada orang yang berbicara buruk tentang suaminya maka wanita itu juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan suaminya. Radja masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Ailin mandi.


     "Sudah aku siapkan air hangat mandilah." Perintah Radja setelah keluar dari kamar mandi.


Ailin beranjak pelan dari ranjang, Radja segera mendekati wanita itu dan memapahnya menuju kamar mandi setelah di dalam kamar mandi Ailin menyuruhnya untuk keluar dari sana namun Radja malah mengunci pintunya dari dalam dan segera membuka kemejanya. Radja tidak rela di suruh keluar dari dalam kamar mandi itu dia ikut mandi bersama dengan Ailin. Ailin sudah menolah hal tersebut namun pria itu berjanji mereka hanya mandi bersama saja dengan berat hati Ailin mengiyakan keinginan suaminya itu dan mereka mandi bersama.


    Di dalam kamar mandi Radja memandikan Ailin dengan penuh cinta, sebenarnya Ailin sangat malu walaupun mereka sudah sering melakukan hal tersebut tapi itu ternyata tak membuat wanita itu merasa terbiasa akan hal tersebut.


"Sayang, kau harus makan yang banyak mulai sekarang supaya bayi kita tumbuh sehat di dalam sini." Ucap Radja dengan mengusap perut Ailin yang masih terlihat datar dengan sabun.


"Ya, akan aku usahakan makan banyak," bicara apa adannya karna perutnya sekarang sering merasa mual jika mencium bau makanan yang tidak dia sukai.


"Baiklah Suamiku." Ucap Ailin dengan berdecak kesal. Mendengar Ailin menyebutnya dengan sebutan suamiku.


"Kau tadi bilang apa? Coba ulangi lagi." Ucap Radja dengan menatap mata Ailin.


"iihhhh. . apaan sih aku tidak mau." Ailin bicara dengan menyalakan kran shower, Ailin mencoba mengelak.


"Jika kau tidak mau mengulangi kata tersebut maka aku akannnn,"


"Suamiku sudah puas sekarang." Ailin lebih pilih aman dari pada dia harus di ajak bercinta di dalam kamar mandi dengan suaminya.

__ADS_1


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan seperti itu, aku sangat menyukainya." Ucap Radja dengan senyum tipis di bibirnya.


Ailin dan Radja segera menyelesaikan ritual mandi mereka sedangkan di dapur Wenda sedang memilih bahan yang sangat segar dan juga berkualitas agar calon cucunya tubuh sehat di rahim Ailin. Selesai mandi Radja segera turun untuk menemui wenda di dapur.


Dapur.


   Radja masuk ke dalam dapur dia mencium bau masakan yang begitu harum, Radja segera mendekati Wenda yang sedang menumis masakan.


    "Ma, sedang masak apa untuk makan malam?" Tanya Radja dengan mengambil sendok dan mencicipi gulai ikan kesukaan Ailin.


    "Kau sudah tau Mama masak apa tapi masih pura-pura tanya," Ledek Wenda dengan mencubit pipi anaknya itu.


    "Hem. . masakan Mama memang sangat lezat pasti Ailin akan suka dengan masakan tersebut." Gumam Radja pelan tapi jelas Wenda bisa mendengarkan ucapan anaknya itu.


    "Tadi waktu Mama mau masuk kantor, Mama melihat Reva keluar dari kantor dengan wajah kelihatan murung dan kesal." Jelas Wenda pada Radja.


    "Ma, Reva ternyata mencintaiku." Bicara dengan wajah kelihatan serius.


     "Apa yang kau bilang barusan itu benar Nak?" Wenda mencoba mematikan apa yang baru saja dia dengar. Radja menganggukkan pelan kepalannya tanda jika Wenda memang tidak salah dengar.


    "Bi, tolong gantika aku memasak gulai ikan ini dan tunggu sebentar lagi akan matang." Perintah Wenda pada pelayan rumahnya.


     Setelah pelayan itu mengantikan posisinya memasak, wenda segera menarik tangan Radja dan mengajaknya berbicara di dalam dapur. Wenda pasti tidak menyangka jika sahabat masa kecil anaknaya itu sampai jatuh hati pada Radja.

__ADS_1


__ADS_2