
Selesai mengambilkan nasi Radja langsung mendudukkan tubuhnya di samping Ailin. Wenda sudah mulai makan lebih dulu namun mata wanita itu masih terus menatap ke arah Radja dan Ailin yang masih merasa canggung. Ya sikap Radja tadi membuat Ailin salah mengartikan hingga wanita itu tidak berselera makan sekarang dan di samping itu juga kepala Ailin mulai terasa pusing karna dia terus memikirkan keadaan Lani yang masih dalam keadaan koma.
''Jangan sentuh makanan itu!'' Teriak Radja dengan sedikit membentak. Ailin langsung menelan saliva ya saat mendapatkan peringatan dari suaminya itu.
Ailin memang tidak berselera makan namun wanita itu tetap memaksakan dirinya untuk makan, karna Ailin tau jika Wenda sudah bersusah payah menyiapkan semua makanan ini untuknya jadi mana mungkin wanita itu bersikap jahat dengan tidak menyentuh makanan yang sudah di masak oleh mertuanya itu. Namun ucapan Radja saat ini membuat Ailin sedikit merasa kesal karna dia malah tak menghargai ibunya sedikit pun. Sedangkan Wenda masih diam dia menatap ke arah menantunya itu yang saling beradu pandang.
Radja mulai mengambil piring yang berisikan lauk-pauk itu di hadapan istrinya, ''Biar aku yang suapi saja!'' Bicara dengan nada perintah buka dengan nada suara memohon.
Hahaha lihat itu pria kurang romantis itu lagi-lagi mengucapkan hal yang kurang wajar apakah menurut kalian kata-kata saya benar. Lihat ini mata Ailin membulat seketika saat mendengar apa yang suaminya itu ucapkan. Wanita itu pasti tak menyangka jika suaminya terus mengucapkan rayuan yang membuatnya semakin geram. Kamu harus sabar Ailin, tidak semua pria itu jago merayu contohnya suami mu ini. Bahkan Wenda mulai kelihatan kesal karna ucapan anaknya itu.
''Ayo buka mulutmu!'' ungkap Rarda dengan menyodorkan satu sendok makanan di hadapan istrinya itu. Tanpa membantah wanita itu membuka mulutnya dengan wajah di tekuk.
__ADS_1
''Disuruh makan ya makan saja! Dari pada aku harus berdebat dengannya karna aku paling malas bertengkar apa lagi dengan pria jahat dan tak punya perasaan sepetinya. Aku baru saja keluar dari rumah sakit tapi jika dia merawatku dengan cara seperti ini aku bisa masuk rumah sakit jiwa tidak lama lagi.'' Gerutu Ailin dalam hati dengan mengunyah makanan yang ada di mulutnya itu. Bahkan Ailin tidak bisa merasakan rasa dari masakan Wenda itu, melihat cara Radja dalam menyuapinya itu membuat rasa makanan itu terasa hambar di lidahnya.
Menyatuhkan alisnya saat menatap Radja yang hendak menyuapi Ailin untuk yang kedua kalinya, ''RAdja!''
''Ya, Ma.'' Menatap ke arah Wenda.
''Tidak bisakah kau bersikap sedikit romantis pada istrimu itu.'' Bicara dengan setengah membentak.
Bi Cindy menahan tawa di bibirnya saat mendengar apa yang Radja ucapkan itu. Tuh kan ternyata benar pria itu tak tau caranya bersikap romantis. Semua wanita akan menyangka sedang di siksa jika cara romantis seperti yang pria itu tunjukkan.
''Kau ini,'' bicara dengan mengertakkan giginya. ''cobalah bicara dengan sedikit romantis lagi. Jika kau tak ingin istrimu lari kepelukan pria lain.'' Wenda sengaja menakut-nakuti anaknya itu agar Radja bisa belajar lebih menghargai dan menyayangi istrinya.
__ADS_1
''Aku sudah kenyang,'' bicara sembari mengelengkan pelan kepalanya karna dia sudah merasa perutnya sudah terisi penuh makanan.
''Ayo habiskan kurang sedikit lagi,'' Bicara dengan nada suara terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
''Tapi aku sudah kenyang,'' renggek Ailin dengan manja.
''Baiklah, tunggu aku selesai makan dan nanti kita akan naik bersama.'' Pinta Radja sembari mulai melahap makanan yang ada di piringnya.
Wenda sangat bahagia karna rumah yang dulu terlihat sunyi dan sepi kini mulai ramai dan seperti biasanya. wanita paruh baya itu mulai menginginkan seorang cucu namun dia masih belum berani menggungkapkan apa yang ada di dalam benaknya itu.
JANGAN LUPA MAMPIR JUGA DI NOVEL BARU KHAIRIN YANG BERJUDUL ''MERRY MY ENEMY.''
__ADS_1