
Radja bergegas menghampiri dokter tersebut dengan wajah semakin panik, "Apa yang terjadi pada istriku? Katakan!" Teriak Radja pada dokter tersebut yang mulai tak sabar karna melihat raut wajah dokter tersebut yang membuat jantung Radja berdegup sangatlah kencang.
Sani, Adam dan Radja tak hentinya menatap kearah dokter tersebut dengan raut wajah kelihatan panik.
"Nona Ailin koma, dia terlalu banyak mengeluarkan darah dari kepalanya. Jika saja tadi dia tidak cepat ditangani dokter, maka dia mungkin tidak bisa tertolong lagi." Ucap dokter tersebut dengan menunjukkan wajah merasa bersalah karna tidak bisa melakukan yang lebih dari itu.
"Apa maksudmu dia koma, hah? Kau dokter cepat bangunkan dia!" Radja meraih kera baju dokter tersebut dengan mata berkaca-kaca wajahnya kelihatan sangat frustasi.
"Maafkan saya Tuan. Saya sudah melakukan yang bisa saya lakukan jika sampai satu Minggu Nona Ailin tidak bangun juga mungkin dia akan,"
__ADS_1
"Jaga ucapamu Atau aku akan merobek mulutmu!" Radja semakin tidak bisa mengontrol emosinya lagi saat mengetahui akan kenyataan ini.
.
Dokter tersebut hanya bisa menundukkan wajahnya karna takut dengan amarah Radja, setelah melihat isyarat tangan Adam dokter tersebut segera pergi dari hadapan mereka bertiga. Radja terduduk dilantai rumah sakit itu, mata Sani berkaca-kaca melihat Ailin yang tertidur di ranjang dingin rumah sakit itu. Sani melihat beberapa alat yang tertancap di tubuh sahabat baiknya itu dan pastilah alat itu akan menyakiti Ailin, Sani terus melihat Ailin dari balik kaca.
Adam membantu Radja mendudukkan tubuhnya di kursi, tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Radja namun kristal bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya itu sudah cukup mengartikan semua rasa kecewa dan sedih yang kini sedang dia rasakan.
"Kau suruh aku sabar, lihatlah istriku sedang tidak sadarkan diri dia sedang bertarung menghadapi maut." Teriak Radja pada Adam karna rasa bersalah yang kini semakin bertahta dihatinya.
__ADS_1
"Radja tetaplah yakin bahwa Ailin akan sembuh kita masih punya waktu satu Minggu."
"Bagaimana jika dia tidak bangun juga?" Radja bicara sembari menaruh kedua sikunya di lutut dan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
"Yakinlah dia akan bangun, Ailin wanita yang sangat kuat kau tidak boleh meremehkannya seperti itu kan." Ujar Adam sembari beranjak berdiri menghampiri Sani yang masih menatap Ailin dari balik kaca.
Radja memejamkan matanya rasa takut kini semakin jelas menusuk jantungnya, mendengar apa yang dokter tadi ucapkan seketika jantung Radja seakan berhenti berdetak dia sekarang baru bisa merasakan cinta ya pada Ailin. Entah sejak kapan cinta itu bertahta dihatinya namun yang dia tau saat ini adalah hanya ingin mengutarakan isi hatinya pada orang yang dia sayangi. Tapi itu sudah terlambat karna istrinya sedang koma entah dalam waktu berapa lama wanita itu akan bisa bertahan karna luka di kepalanya.
Radja mulai berdiri dari posisi duduknya, melihat Radja akan masuk kedalam ruangan Ailin. Sani dan Adam segera mengeser tubuhnya menjauhi pintu agar Radja bisa menjenguk istrinya itu.
__ADS_1
"Bersabarlah kami akan menunggumu di luar." Ucap Adam sebelum Radja masuk ke ruang Ailin. Radja tak menjawab dia hanya menatap lurus kedepan dengan mata menatap kearah ranjang pasien.