
Mereka bertiga sedang menikmati
sarapan pagi di meja makan, suasana sangat sepi dalam meja makan itu hingga
hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
Beberapa saat kemudia mulailah Ailin bicara dan membuyarkan kesunyian di dalam
meja makan ''Ma, bolehkan aku kembali masuk kerja?'' Tanya Ailin dengan menatap
ke arah Wenda.
di pagi hari ini.
Menaruh sendok yang
sedang dia pegang setelah mendengar ucapan Ailin barusan, ''Apa kau bosan
tinggal di rumah Mama, Nak?'' Tanya Wenda balik. Mendengar perbincangan Ailin
dan Wenda, Radja langsung menyandarkan punggungnya di kursi.
“Bukan seperti itu Ma, aku ingin melanjutkan mimpiku menjadi desainer.
Apakah boleh?’’ Tanya Ailin dengan wajah memelas.
“Tidak boleh!’’ Radja menyela perbincangan Ailin dan juga Wenda sehingga
kedua wanita itu kini mengalihkan pandangannya ke arah Radja. “aku bisa
memberikan apapun yang kau inginkan tanpa harus kau bersusah payah berkerja
keras!’’
Sebenarnya ucapan Radja ada benarnya karna pria itu adalan CEO dari
perusahaan di mana Ailin berkerja. Namun Ailin ingin mengejak mimpinya sebagai
desainer terkenal karna hasil kerja kerasnya sendiri bukan karna membawa nama
besar suaminya itu.
“Nak, istrimu pasti memiliki alasan sendiri, dan Ailin juga masih sangat
muda biarkan dia mengejar mimpinya tanpa harus membawa nama besar suaminya.’’
“Terserah!’’ Teriak Radja dengan nada suara terdengar begitu jutek.
Radja menyudahi sarapan paginya dan segera masuk ke dalam kamarnya pria
itu terlihat sangat marah karna dia tau jika Ailin akan bertemu dengan Adam di
dalam perusahaannya nanti. Rasa cemburu Radja mulai sulit untuk dia kendalikan
bahkan pria itu tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Radja masuk ke dalam
kamar dan segera mendudukkan tubuhnya di sofa.
Di Dapur.
“Ma, terimakasih karna kau telah membantuku untuk membujuknya.” Ujar
Ailin dengan berdiri dari posisi duduknya.
Ailin berdiri di belakang Wenda dan memeluk wanita itu dengan sangat
lembut. Wenda begitu bahagian dan kini Ailin semakin membuat kehidupan Ailin
__ADS_1
semakin berwarna. Apa lagi jika Ailin sampai memiliki seorang bayi maka Wenda
akan sangat bahagia karna bisa menimang cucunya. Namun Wenda tidak ingin
terlalu memaksakan Ailin hingga wanita itu hanya bisa memendam semuanya dalam
hati.
Setiap malam Wenda selalu berdoa agar Ailin segera hamil anak Radja
dengan begitu keluarga besar itu akan lengkap dengan kehadiran sang pewaris
tahta di tengah-tengah mereka.
Selesai berpelukan dengan Wenda,
Ailin langsung membuatkan salad buah ke sukaan suaminya. Setelah dia selesai
dengan salad di mangkuk dan juga satu cangkir kopi panas. Ailin bergegas
membawa nampan yang ada di atas dapur menuju ke kamarnya. Ailin melihat Radja
sedang sibuk memainkan laptopnya dengan masih duduk di sofa. Kelihatanya Radja
masih marah karna pria itu tak menatap ke datangan Ailin sendikitpun, Ailin
mendudukkan tubuhnya di ruang kosong yang ada di samping suaminya.
Nampan di taruh di atas meja, kopi di taruh persis di samping Radja.
“Sayang, ini aku bawakan salad buah kesukaan kamu. Ayo aku suapi.” Ujar
Ailin dengan menyodorkan satu sendok penuh salad di samping suaminya itu. Namun
Radja masih tak bergeming dari laptopnya. “kalau tidak mau aku makan sendiri,
kelihatanya ini sangat lezat dan aku membuatnya dengan menambahkan bumbu rasa
“Apa yang dia bilang barusan! Dia membuatnya khusus untukku dengan rasa
saying. Dasar wanita bodohh dia mau memakan rasa saying yang sudah dia berikan
untukku.” Radja mulai memikirkan sesuatu yang konyol sekarang.
Ailin mencoba untuk merayu suaminya agar besok di perbolehkan masuk ke
kantor. Walaupun dia tau jika Radja tidak akan pernah membantah ucapan
ibundanya. Ailin sangat gemas dan dia ingin menggoda suaminya agar sedikit
merasa marah.
“Kau tidak mau ya sudah aku makan sendiri,’’ Ailin hendak memasukkan
satu sendok penuh salad ke dalam mulutnya namun Radja segera mengalihkan
pandanganya menatap Ailin.
“Suapi aku, kan kau buat salad itu dengan cinta mana mungkin kau bisa
memakannya sendiri.” Gerutu Radja dengan menatap Ailin.
Tersenyum tipis, “Sini saya biar aku suapi,” goda Ailin dengan
memasukkan satu sendok salad ke dalam mulutnya.
Hubungan Ailin dan Radja semakin hari semakin membaik saja, lihat itu
__ADS_1
mereka bahkan bergantian menyuapi salad satu sama lain. Radja yang bisanya
kelihatan cukup dingin jika sedang bicara dengan Ailin kini sikap itu tidak
terlihat lagi. Ailin juga memohon agar Radja tetap merahasiakan pernikahan
mereka di hadapan banyak orang awalnya pria itu menolak namun karna Ailin terus
memohon dengan sedikit bumbun cinta yang berjudul rayuan maut. Radja sudah
tidak bisa berkutik lagi dengan apa yang di inginkan istrinya, dengan berat
hati Radja mengiyakan keinginan iastinya.
Rumah Adam.
Adam sedang menikmati satu cangkir
kopi panas dan dia berbicara dengan pengawalnya. Pengawal yang di suruh
memata-matai Ailin memberitahukan jika besok wanita yang dia cintai akan masuk
kembali kerja. Adam sangat bahagia mengetahui hal tersebut dia bahkan terus
tersenyum bahkan Adam memberikan pengawalnya hadiah sangat besar setelah
menyampaikan kabar gembira itu. Setelah pengawalnya pergi senyum terbit di
bibir Adam belum hilang juga.
Pagi Hari.
Sani sangat bahagia karna besok dia akan berkerja lagi dengan sahabatnya
lebih lagi sani tak harus mengerjakan tugas yang biasanya di kerjakan oleh
Ailin. Sani bangun pagi dan dia segera masuk ke dalam kamar
Meja makan rumah Radja.
Ailin sudah cantik dengan baju kerjanya. dan begitu juga dengan Radja. Wenda melihat ke arah anak lelakinya itu yang kelihatan dingin pagi ini. Wenda pun tak segan untuk bertanya pada Ailin.
Menaruh sendok yang sedang dia pegang, "Nak Ailin apa yang terjadi pada suamimu?"
Sebelum menjawab Ailin menghabiskan dulu makanan yang masih ada di mulutnya, "Mas Radja marah Ma, karna aku menolaknya berangkat kerja bersama."
"Jelas aku marah, karna kau lebih memilih berangkat dengan sahabat mu!" Sela Radja judes.
"Jika aku berangkat bersamamu Mas, maka semua orang akan tau jika kita memiliki hubungan kan!" Jawab Ailin dengan suara sedikit keras.
"Biarkan saja mereka tau! Aku tidak perduli." Menjawab dengan nada suara tinggi.
"Tapi aku perduli!" Jawab Ailin dengan tak mau kalah. Wenda menggelengkan pelan kepalanya melihat pertengkaran yang ada di depannya.
"Radja, apa yang Ailin bilang itu benar Nak. Kau harus menghargai keputusan Istrimu toh itu juga sudah menjadi mimpi Ailin sejak lama kau harus mendukungnya." Jelas Wenda menatap ke arah Radja dengan senyum terbit di bibirnya.
"Sesuai dengan apa yang Mama ucapkan." Jawab Radja dengan rahang mulai mengeras.
. Ailin tersenyum puas karna dirinya mendapatkan dukungan penuh dari mertuanya itu. Namun sesosok suara makhluk astral tiba-tiba menyelinap dari telinganya.
"Berani tersenyum lagi! Aku cium kau di depan Mama!" Ancam Radja dengan menarik salah satu senyum di bibirnya.
__ADS_1
Sontak Ailin langsung nyengir dan melanjutkan sarapan paginya.