
Pagi Hari.
Ailin sedang membuat sarapan pagi bersama Wenda di dapur di bantu oleh beberapa pelayan rumah itu. Sedangkan Radja masih tidur di dalam kamarnya. Ailin sedang membantu Wenda membersihkan sayuran di meja makan sedangkan beberapa pelayan lainya sibuk mengerjakan tugas mereka.
"Nak, Ailin apakah kondisimu sekarang sudah membaik?" tanya Wenda dengan menatap ke arah Ailin yang juga menatapnya.
"Sudah Ma, seperti yang kau lihat. Aku nanti akan berangkat kerja," sambung Ailin dengan kembali mengupas wortel yang ada di tangannya.
"Kau bisa di rumah dulu, istirahatlah beberapa hari kau tidak lupa kan jika kau sedang mengandung," balas Wenda dengan wajah datar.
"Ma, percayalah padaku. Aku akan menjaga bayi ini sama seperti aku menjaga diriku sendiri. Aku harus memberikan pelajaran pada Reva," Ailin bicara dengan wajah kelihatan memohon.
"Baiklah Nak, jika itu yang kau inginkan maka Mama akan mendukung semuanya asal kau tidak boleh membahayakan nyawa calon cucu Mama," jelas Wenda dengan berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju Wastafel untuk mencuci sayur-sayuran itu.
Aku tidak memiliki keluarga lagi selain Mama Wenda dan juga Radja. Aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut kedua orang yang paling aku sayangi tidak juga Reva ataupun Stella. Mereka bedua sejak awal sudah berniat jahat padaku, pada awalnya aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan mereka namun sekarang aku tak bisa diam lebih lama lagi karena wanita jahat yang bernama Reva itu telah membangunkan macan tidur dari diriku. Dulu aku masih bisa diam di hina dan di tindas seperti itu tapi kini tidak lagi. Aku tidak bisa membiarkan semua orang menghancurkan hidupku sesuka hati mereka kini giliran aku yang membalas semua perlakuan mu padaku Reva.
Aku tidak akan pernah bermaksud membalas semua perlakuanmu jika saja kau tidak sejahat itu padaku, kau merayu suamiku aku masih bisa terima dan masih sanggup untuk bertahan. Tapi kau bertindak lebih jauh lagi dengan menyentuhnya itu membuatku sangatlah murka aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi di depan mataku. Jika yang kau serang adalah fisikku maka aku masih bisa terima tapi yang kau serang adalah hatiku maka aku tidak bisa diam lebih lama lagi. LIhat bagaimana aku akan membalas semua perlakuan mu itu.
_ _ _ _
__ADS_1
Semua masakan telah tersaji di atas meja makan, Ailin segera memanggil Radja di dalam kamarnya. Saat Ailin membuka pintu kamar dia melihat Radja sedang mengancingkan kemejanya yang berwarna putih. Ailin masuk ke dalam kamar itu dan segera menutup pintu nya kembali, Ailin mendekati suaminya dan segera mengambil alih mengancingkan kemeja pria itu, setelah selesai dengan kemeja Ailin mulai meraih dasi yang sudah ada di atas ranjang dengan cekatan Ailin langsung memasangkan dasi itu di leher suaminya. Radja terus menatap Ailin saat wanita itu memasangkan dasi di lehernya.
Jelas saja Radja terus menatap ke arah istrinya yang cantik itu, Ailin kelihatan cantik karena usianya yang masih muda dan juga belia bahkan banyak orang yang mengira Ailin belum menikah sebelum pengumuman kemarin siang di hotel. Sekarang Ailin harus lebih menjaga sikapnya karena dia adalah istri Radja yang merupakan pemilik salah satu perusahaan besar di kota.
"Kau tidak perlu berangkat kerja," ucap Radja dengan memeluk tubuh kurus istrinya.
"Mas, aku harus berkerja aku tidak mau terus merepotkanmu."
Menyentil jidak Ailin keras, "Sadarlah, apa yang kau ucapkan barusan. Aku adalah suamimu mana mungkin kau bisa bicara seperti itu padaku," gerutu Radja dengan melepaskan pelukannya.
"Baiklah aku akan berhenti kerja tapi setelah aku membalas rasa sakit hatiku pada dia," Ailin mencoba bernegosiasi.
ailin hanya diam saat melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu.
Mereka makan di meja tanpa bicara, bahkan di meja makan itu terlihat sepi hingga hanya terdengar dentingan garpu dan juga sendok yang saling bersentuhan, Wenda hanya diam karena dia tau jika kedua anaknya pasti habis bertengkar. Wenda mengetahui hal tersebut bukan karena dia bisa menerawang tapi karena wajah keduanya terlihat di tekuk hal itu lah yang membuat Wenda dengan mudah bisa menebak isi hati keduanya.
Di halama rumah Radja.
Pak Ray sudah menunggu di depan mobil. sesaat kemudian mobil berwarna merah mulai masuk ke dalam gerbang utama rumah Radja. Wajah Pak Ray yang tadinya terlihat datar kini perlahan mulai berubah, bahkan terlihat senyum tipis di bibirnya saat mobil itu semakin berjalan mendekat. Ya Pak Ray bukan gila karena dia tersenyum sendiri tanpa alasan namun karena seseorang yang ada di dalam mobil itu adalah Sani orang yang sempat membuat jantungnya berdetak dengan cepat tanpa sebab.
__ADS_1
"Aku sangat beruntung karena bisa berbincang dengannya sepagi ini, Sani sangat cantik saat mengenakan baju berwarna hitam kulitnya kelihat bercahaya dan juga sangat menyilaukan mata. Oh tidak dia berjalan semakin mendekati diriku aku sangat gugup bagaimana ini apakah aku sudah kelihatan tampan," Pak Ray terus bergumam dalam hati dan dia bahkan sampai berkaca di spion yang ada di mobik tersebut. Pak Ray mengamati wajahnya setiap sisi dia sangat lega karena wajahnya kelihatan tampan sama seperti biasanya dan dia juga merapikan kemeja dan juga jasnya sebelum akhirnya wanita yang sudah membuatnya bucin itu berhenti tepat di hadapannya,
" Pak Ray, pagi," sapa Sani sengan seulas senyum manis di bibirnya. Melihat akan hal tarsebut jantung Pak Ray yang tadinya berdetak normal semakin tidak karuan.
"Di setiap ada kamu mengapa darah ku mengalir, mengalirnya lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala. Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak, berdetaknya lebih kencang seperti genderang yang mau perang," Pak Ray malah bernyanyi lagu Dewa 19 dalam hati yang judulnya "Sedang ingin bercinta."
Pak Ray malah bengong sampai membuat Sani kebingunngan, Sani melambai-lambaikan tangannya di hadapan Pak Ray beberapa kali barulah pria itu bisa bangun dari angan-angan konyolnya barusan.
"Eh, Sani kau datang menjemput Nona muda?" tanya Pak Ray dengan mimik wajah kelihatan canggung.
"Ya, apakah Ailin masih belum keluar dari tadi,"
"Belum, mereka pasti sedang sarapan di dalam," sahut Pak Ray apa adanya dengan detak jantung semakin cepat saat Sani mulai berdiri di sampingnya. Sani menyandarkan punggungnya di mobil dengan jarak yang sangat dekat dengan Pak Ray.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Ailin dengan membuka roti yang sedang dia pegang.
"Belum," Sahut Pak Ray.
Sani memberikan satu bungkus roti ya g masih ada di tas jinjingnya itu. Pak Ray menerima pemberian Sani dan mereka sukses hanya sarapan dengan roti saja pagi hari itu.
__ADS_1