Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Ailin Mulai Bertindak.


__ADS_3

Tengah malam Ailin membuka matanya perlahan dia melihat infus yang sedang tertangkap di salah satu tangannya, dia menyadari jika sedang di rumah sakit. Matanya mulai menyapu seisi ruangan tersebut dan dia segera menarik tangannya dari genggaman Radja. Ya Radja sejak tadi menunggu Ailin namun dia tertidur sesaat sebelum wanita itu membuka matanya. Sedangkan Pak Ray dan juga Wenda sedang duduk di sofa yang berbeda di dalam ruangan itu.


"Sayang, kau sudah bangun," ujar Radja dan Wenda segera berdiri dari posisi duduknya. Pak Ray langsung berdiri juga dari posisi duduknya kemudian dia menghentikan langkahnya tepat di belakang Radja.


       Ailin diam dengan membuang pandangannya diam sangat geram jika mengingat tentang kejadian di kamar hotel tadi. Wenda mendekati Ailin dan Pak Ray segera memutar rekaman dalam ponselnya dia memberikan ponsel itu pada Wenda.


"Nak, itu semua salah paham cobalah kau lihat vidio ini terlebih dahulu nanti kau pasti tau kebenarannya," ujar Wenda dengan menyodorkan ponsel di hadapan Ailin.


           Ailin menuruti ucapan wanita itu, di dalam rekaman dia melihat bagimana suaminya coba menghindar dari wanita gila yang sedang menggodannya namun Reva begitu gesit di dalam vidio yang Ailin tonton itu. Semua orang menatap Ailin tak terkecuali Pak Ray.   Ailin memberikan ponsel itu kembali pada Radja dengan raut wajah kelihatan merasa bersalah.


Ailin sangat menyesal karena dia tidak percaya dengan apa yang telah di ucapkan oleh suaminya, namun itu sangat wajar terjadi sebagai seorang istri siapapun akan marah dan kecewa setelah melihat adegan seperti itu tepat di hadapan mereka. Ailin sedang hamil muda dan kondisinya masih sangat rentan akan kecemasan yanga menimpa. Bersyukurlah Ailin memiliki mertua yang baik seperti Wenda sehingga dia selalu merasa aman jika berada di dekapan wanita itu.


Ailin mendudukkan tubuhnya dan Wenda membantunya, wanita paruh baya itu sangat menyayanginya bahkan Wenda memeluk Ailin dan dia terus menasehati menantunya agar selalu percaya pada suaminya karena Radja tidak akan pernah berkhianat padanya bahkan Wenda bisa menjamin apa yang dia ucapkan barusan itu adalah benar.


"Mas, maafkan aku. Aku tidak percaya padamu, aku begitu kalut dan seakan terbakar api cemburu saat melihat kau bersama dengannya," ujar Ailin dengan air mata kembali membasahi pipinya.


Wenda dan Pak Ray tidak ingin menganggu keduanya dan mereka segera keluar dari ruangan itu. Kini di ruangan hanya ada Radja dan juga Ailin. Radja memeluk tubuh istrinya dengan sangat lembut dia membelai puncak kepala istrinya kemudian mengecupnya.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku sangat mengerti di mana posisi mu saat itu," bicara dengan wajah masih datar. Tapi mau gimana lagi karena pria itu memang seperti itu ekspresi wajahnya.

__ADS_1


"Terimakasih Mas, tapi bisakah aku menghukum wanita itu jika dia muncul di hadapanku lagi?" jelas Ailin. Dia tidak bisa diam saja ketika melihat suaminya hendak di rebut oleh wanita lain, sebagai seorang istri dan juga calon ibu, jika Ailin terus diam maka dia akan kehilangan suaminya dan bagaimana dengan nasib anaknya nanti.


"Tentu saja boleh, asalkan kau tidak membahayakan Radja junior," sambung pria itu dengan mengusap lembut perut istrinya yang masih kelihtan datar.


         Rumah Adam.


Adam sedang duduk dia menunggu pengawal yang sedari tadi mengawasi hotel di mana Ailin dan juga Radja mengadakan acara. Dia menunggu di ruang utama rumahnya dengan menikmati satu gelas kopi pahit dengan menyandarkan badannya di punggung sofa. Tak lama kemudian datanglah satu pria yang memakai baju serba hitam lengkap dengan kaca mata hitam melekat di wajahnya yang datar itu. Pria tersebut membungkukkan badannya sebelum bicara di hadapan Adam.


"Tuan muda tadi saya melihat Nona Ailin keluar dari hotel pingsan dan di gendong oleh Tuan muda Radja," mendengar akan kabar tersebut Adam segera berdiri kasar dari posisi duduknya dia menatap pengawal itu dengan wajah kelihatan cemas.


Pengawal yang memakai baju serba hitam tadi mengeluarkan foto dari balik jas hitamnya, dia memberikan foto tersebut pada Adam.


"Lanjutkan!" Pria itu bicara dengan mengenggam tangannya dengan kuat.


"Kenapa diam! Lanjutkan." Teriak pria itu dengan suara lantang.


     "Nona Reva kelihatan berantakan, dan saya juga sudah meneliti tentang apa yang terjadi di dalam kamar," pengawal itu menyodorkan rekaman yang terjadi di dalam ruangan itu tadi.


     Setelah melihat isyarat tangan Adam, pengawal itu segera pergi dari hadapannya. Adam membanting gelas yag sedang berada di hadapannya sampai pecahan gelas itu berserakan di lantai, pelayan segera membereskan kekacauan yang di akhibatkan oleh majikannya. Sedangkan Adam keluar dari rumah dia membanting pintu dengan sangat keras, dan masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


       Dengan sekejap mobil itu melaju dengan kecepatan penuh dan meneroboh jalan yang terlihat sepi pada malam hari itu, selama di dalam mobil Adam tak henti merasa cemas sekaligus geram dengan apa yang Reva dan Stella lakukan. Adam semakin mempercepat laju kendaraanya merajai jalanan yang kelihatan sepi, semua debu berterbangan di tengah jalanan itu saat mobil Adam dengan kencang menyapu jalanan. Udara malam hari ini kelihatan dingin karena cuaca sedang mendung bahkan Ac di dalam mobil Adam juga menyala, tapi pria itu seakan sedang kepanasan bahkan dia juga sampai mengeluarkan keringat karena merasa gerah dengan api yang semakin berkobar dalam hatinya.


      Adam sangat murka melihat Reva dan Stella berniat jahat pada wanita yang dia cintai, sebenarnya tidak jadi masalah jika Reva mendengarkan apa yang dia ucapkan tadi pagi, tapi yang terjadi malah sebaliknya, Reva bersekokol dengan Stella untuk memisahkan Ailin dengan suaminya. Harusnya Adam bahagia karena dengan begitu dia bisa menikah dan juga dekat dengan Ailin. Tapi menurut Adam asalkan Ailin bahagia tidak perdui dengan siapapun itu maka Adam juga akan mendukungnya.


       Hotel.


     Radja langsung memarkir mobilnya dan dia menuju ke kamar di mana Reva dan Stella menginap. Karena terburu-buru Adam sampai menabrak seorang wanita hingga wanita itu hampir saja jatuh dan mereka saling berhadapan. Ternyata yang dia tabrak adalah wanita yang sangat ingin dia temui di malam itu. Ya itu adalah Reva biang malah pada malam hari ini.


    "Reva! Apa yang sudah kau lakukan pada Ailin itu salah," maki Adam dengan nada suara setengah membentak. Bahkan tangan pria itu kembali terkepal dengan begitu kuat membentuk sebuah tinju.


Andaikan Reva buka seorang wanita, maka pria itu akan mudah menghabisinya.


      "Kau buka tuhan, Adam. Kau tidak bisa menghakimi aku seperi ini hanya karena wanita yang baru saja datang dalam kehidupan kalian," Reva bicara dengan nada suara tak kalah tingginya. Bahkan wanita itu tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan pada Ailin tadi, sungguh wanita yang berhati iblis dan tidak tau malu sedikitpun.


      "Hahaha! Inikah yang di ajarkan oleh Nyonya Stella," sindir Adam dengan tawa garing menyeringai dari bibirnya itu.


    "Jangan ikut campur urusanku Adam, apa yang Mamaku ajarkan padaku itu bukan urusanmu." Tangan wanita itu mulai mengepal dan menatap Adam dengan alis hampir menyatuh.


      "Lihat saja, jika kau berani melukai Ailin lagi. Akan aku pastikan jika usaha keluarga Stella akan lenyap dari dunia bisnis untuk selamanya! Kau tau kan, jika perusahaan ku dan Radja berkerja sama maka sebesar apapun nama perusahaan itu akan kami gulingkan dengan sangat mudah. Apa lagi usaha Papamu yang hampir bangrut itu."

__ADS_1


    Setelah bicara Adam berbalik arah dan meningkatkan Reva yang sedang teriak seperti orang gila.


BACA KELANJUTANNYA BESOK YA. DAN AILIN AKAN MENJADI WANITA YANG KUAT DAN MEMBERIKAN PELAJARAN PADA REVA.


__ADS_2