
"Benar itu wanita yang dulu sok cantik dan juga centil! Hahaha lihatlah ini memang sangat cocok untuknya karena dia sudah menganggu kehidupan orang lain di masa lalu," Sani bicara dengan nada suara terdengar sangatlah bahagia saat melihat seseorang yang pernah membuat sahabatnya bersedih dan terpuruk dalam waktu yang bisa di bilang cukup lama.
"Biarkan saja Tuhan sedang menghukumnya," imbuh Rena dengan wajah datar.
Rena berjalan mendekati penjual ikan Lee yang sekarang mulai menyadari kehadiran mereka, Rena menundukkan pandangannya dengan kebingungan seolah wanita itu hendak menghindar dari tatapan Sani dan juga tiga orang yang menjadi musuhnya selama ini tapi dia tidak bisa kabur kemanapun karena sudah terlambat.
Kini Sani sudah berdiri tepat di hadapannya, Rena hanya bisa menundukkan kepalanya dengan rasa malu semakin menyelimuti tubuhnya. Semua orang menatap ke arah Adam dan juga Pak Ray, karena bisa di bilang sangat langkah ada orang kaya dan juga tampan yang mau masuk ke pasar tradisional yang terkenal dengan image kotor dan juga bau.
Mungkin jika buka karena Ailin dan juga Sani maka kedua pria tampan itu tak akan pernah masuk ke dalam pasar tradisional itu selama hidupnya. Tapi demi cinta semua akan di lakukan masuk ke dalam pasar yang becek dan juga amis adalah salah satu hal kecil yang di lakukan oleh kedua pria itu.
"Pengumuman semuanya bisa lihat ke sini sebentar!" ucap Sani dengan mencoba mengalihkan perhatian kebanyakan orang yang sedang memilih sayur dan juga ikan untuk melihat ke arahnya saat ini.
Entah lah yang sedang wanita itu rencanakan jika melihat cara Sani melirik ke arah Rena maka itu bukanlah sesuatu yang baik bagi wanita itu. Ailin mencoba menghentikan sahabatnya namun Adam dan juga Pak Ray menahannya.
"Kalian lihat penjual ikan Lele ini adalah wanita yang sangat cantik, karena kecantikannya dia sampai bisa merusak rumah tangga sahabat saya dan lihatlah nasibnya sekarang! Bukannya menjadi istri orang kaya di kota ini malah dia menjadi penjual ikan yang kelihatan kumuh dan juga dekil seperti sekarang," Semua orang saling berbisik\-bisik setelah mengetahui siapa Rena sebenarnya.
Bahkan banyak orang yang secara terang\-terangan mulai memakinya, sebab semua wanita tidak akan pernah suka jika kehidupannya yang bahagia di ganggu begitu saja oleh wanita asing seperti Rena.
Rena hanya bisa tertunduk malu dengan tak berani mengangkat wajahnya menatap kearah semua orang yang sekarang sedang menatapnya sebelah mata.
Ailin segera menarik paksa tangan Sani agar tidak melanjutkan ucapan sahabatnya tadi, Ailin begitu baik hati dia masih tidak tega pada wanita lain padahal dirinya sendiri sudah di sakiti oleh wanita itu sampai kehilangan bayinya.
Itulah Ailin dia tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan juga, Ailin lebih suka membalas kejahatan dengan kebaikan.
"Ailin tunggu," panggil Rena saat wanita itu hendak pergi menjauh dari tempatnya.
Adam, Pak Ray segera berdiri di hadapan Ailin dan juga Sani seolah kedua pria itu mau menghalangi Rena melakukan hal buruk lagi pada Ailin.
"Kalian jangan khawatir dia tidak akan memiliki keberanian sebanyak itu untuk melukai ku di hadapan kalian," ucap Ailin dengan mencoba meyakinkan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Aku mohon biarkan aku bicara dengan Ailin," Pinta Rena dengan wajah memelas.
"Jangan merasa curiga dengan wanita yang sudah tidak berdaya sepertinya," Ailin menimpali kata\-kata tadi. Dengan saling bertatapan Pak Ray dan juga Adam memingirkan tubuhnya.
. "Maafkan aku Ailin karena aku bersalah padamu, aku bahkan tidak di terima melamar di perusahaan dan juga di manapun yang aku datangi bahkan rumahku juga di sita karena hutang yang begitu banyak," Reva berbicara dengan memeluk memeluk kaki Ailin bahkan wanita itu tidak segan duduk di lantai pasar yang kotor dan juga terkena genangan air yang baunya amis dari ikan.
Setelah di usir dari rumah Radja wanita itu langsung mendapatkan karma atas apa yang dia lakukan selama ini karena rumahnya di sita sebab Rena terlilit hutang yang begitu banyak dan dia menjadi gelandangan wanita itu mencoba meminta bantuan ke sana\-kemari namun percuma semua sahabat yang selama ini baik padanya tidak perduli dengan kesedihannya karena semua sahabat dan juga orang yang paling dekat dengan Rena di ancam oleh Radja untuk tidak membantu wanita itu.
Rena bahkan mencoba untuk datang ke rumah mantan kekasihnya namun percuma semua pria yang selama ini selalu saja bermalam dengannya tak mau membukakan pintu rumahnya karena semua lelaki itu tau jika Rena sudah mendapatkan karma atas apa yang dia lakukan selama ini.
. Rena masih memiliki sedikit uang dan dia menyewa rumah yang sangat kecil untuk di tempati sendirian saat wanita itu mulai kehabisan uang ibu kos Rena yang kerjanya sebagai penjual ikan di pasar meminta Rena untuk menjual ikan di pasar tradisional yang bisa di bilang jauh dari kata mewah.
"Aku sudah memaafkan mu Rena, bahkan sebelum kamu minta maaf karena jika aku ingin melupakan masa lalu maka aku harus berusaha melupakan orang yang pernah membuat hatiku terluka," ucap Ailin dengan mencoba menekan rasa sakit yang masih dia rasakan saat ini.
Namun semua itu sudah berlalu dan sekarang semua sudah menjadi masa lalu. Semua orang di pasar tersebut memandang Rena sebelah mata namun Ailin mencoba meredam semua penghuni pasar tradisional itu agar tidak terus menyalahkan Rena walaupun bagaimana akhirnya tetap saja Ailin merasa kasihan karena dirinya juga wanita dan tidak akan pernah sanggup melihat wanita lain di hina dan di permalukan dihadapannya.
"Ailin kau sangat baik hati, semoga kebahagiaan selalu berpihak padamu," Rena bicara' dengan wajah kelihatan begitu tulus.
Wajah cantik yang dulu terlihat kini berubah yang ada hanyalah Rena yang berpenampilan sederhana.
__ADS_1
Ailin melanjutkan lagi perjalanannya untuk membeli banyak macam sayuran seperti wortel, kangkung dan juga banyak aneka macak sayuran dan juga ikan segar lainnya yang Ailin dan juga Sani beli.
Mereka tidak perlu repot untuk membawa belanjaan yang mereka beli di pasar itu karena dua pengawal tampan di kota itu dengan sigap membawakan semua belanjaan kedua wanita itu tanpa mengeluh sedikitpun entah apa yang mereka pikirkan namun jika di lihat dari ekspresi wajah mereka saat ini terlihat dengan sangat jelas jika mereka sedang merasa jijik dengan ikan mentah yang mereka bawah.
Di rumah.
Sani dan Ailin masuk lebih dulu ke rumah yang terlihat sederhana, namun perabotan yang ada di dalam rumah Sani bernilai sangat mahal rumah itu telah di tempati Sani bersamaan dengan Ailin kira\-kira satu tahun lamanya.
"Sayang, bawa belanjaan itu ke dapur ya," ucap Sani pada Pak Ray dengan menoleh sekilas pada pria itu.
"Sayang, kau mau ke mana?" tanya Pak Ray balik.
selama pacaran hampir satu tahun lebih Pak Ray dan juga Sani mulai memangil dengan sebutan itu karena mereka berdua sudah saling cocok bahkan tangal pernikahan pun sudah di tentukan satu bulan dari sekarang.
"Badanku terasa lengket dan aku harus mandi terlebih dahulu," sahut Sani sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamarnya.
__ADS_1
*Harusnya aku yang mandi karena sejak tadi aku sudah ingin membuang semua barang ini namun aku sangat takut melukai hatinya hingga aku hanya bisa menahan keluh\-kesah ini dalam hati saja*. gerutu Oak Ray dalam hati dengan berjalan masuk ke dapur rumah tersebut.