Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Merasa sedih


__ADS_3

Ailin menutup pintu itu tanpa menoleh sedikitpun pada Radja. Ailin berjalan menuruni anak tangga rumahnya. Tanpa terasa air mata jatuh menetes perlahan membasahi kedua pipinya. Air mata itu menunjukkan bahwa Ailin sangat terluka saat meninggalkan Radja berdua dengan Keren didalam kamar yang sama, tapi apalah daya Ailin hanya bisa menuruti keinginan suaminya karna Ailin sadar akan posisinya saat ini.


Dia memang menikah dengan Radja namun itu hanyalah kesepakatan saja diantara mereka kelak jika waktunya tiba Ailin akan pergi meninggalkan Radja.


Ailin tak menyangka jika seiring berjalannya waktu dirinya telah jatuh cinta pada orang yang salah namun apalah daya karna cinta tidak bisa memilih akan di berikan pada siap saja.


Ailin berjalan menuju dapur dan dia segera mendudukkan tubuhnya didapur sembari membuatkan bubur untuk Keren. Air mata Ailin masih membasahi pipinya Ailin sudah mencoba menghentikan air matanya namun tetap saja tidak bisa dia lakukan air mata itu jatuh sendiri tanpa dia pinta.


"Kau sedang apa?" Tanya Radja dari balik punggung Ailin. Setelah mendengar suara Radja sontak Ailin langsung mengusap air matanya agar Radja tak mengerti akan kesedihannya.


"Aku membuatkan bubur untuk Keren!" Jawab Ailin dengan tak menoleh.


"Aku baru akan menyuruhmu membuatkan bubur untuknya." Jelas Radja sembari beralih disamping Ailin. Namun pandangan Ailin masih tak bergeming menatap kearah bubur yang sedari tadi sedang dia aduk-aduk agar bubur tersebut berubah menjadi lembut.


"Ya aku tau." Jawab Ailin pelan.

__ADS_1


"Apa kau sudah makan?" Tanya Radja.


"Aku tidak berselera makan!"


"Kenapa, apa karna aku tidak percaya padamu? Jadi selera makan mu hilang!"


"Ya!" Jawab Ailin singkat sembari berjalan mengambil mangkuk yang tadi dia taruh di atas meja. Ailin segera menuangkan bubur yang dia masak tadi kedalam mangkuk tersebut.


"Keren kekasihku! Mana mungkin aku percaya padamu." Tandas Radja sembari mendudukkan tubuhnya di kursi.


Kenyataan itu memang berbanding terbalik dengan kenyataan yang Ailin rasakan namun apalah daya Ailin harus melakukannya agar dia tidak semakin tersakiti dengan rasa cintanya pada Radja.


Setelah mendengar ucapan Ailin wajah Radja berubah menjadi dingin. "Pergilah dan berikan sarapan itu pada Keren di pasti sudah bangun sekarang."


"Baiklah sayang!" Ucap Ailin sembari mengecup pipi Radja dan dia segera membawa nampan yang berisikan satu mangkuk bubur yang di buatnya tadi dan satu gelas air putih.

__ADS_1


Ailin memantapkan hatinya agar dia tak sampai terlihat lemah di hadapan Radja dan Keren. Sungguh kasihan nasib Ailin dia bahkan harus menghabiskan masa mudanya dengan cara yang menyedihkan seperti ini, entah sampai kapan Ailin akan bertahan dengan kondisinya saat ini.


Ailin narik nafasnya beberapa kali saat dia sudah sampai didepan kamar tamu.


Tentu saja Ailin harus memantapkan hatinya sebelum membuka pintu tersebut karna didalamnya terdapat setan yang bernama pelakor sedang menghuni kamar tamu tersebut. Dengan perlahan Ailin mulai membuka pintu itu matanya langsung tertuju ke arah ranjang. Dilihatnya Keren sedang duduk dengan wajah kelihatan lebih segar dari sebelumnya dia sudah mengenakan baju seksi lengkap dengan riasan di wajahnya Ailin berjalan mendekati Keren dan dia segera menaruh nampan yang ada ditangannya keatas meja.


"Keren kau sudah bangun?"


"Apakah matamu sudah buta! pakai bertanya segala," Jawab keren dengan judes sembari masih sibuk memainkan ponselnya.


"Di mana calon suamiku?" imbuh Keren mencoba memancing emosi Ailin.


"Oh, maksud anda suami saya! Dia sedang menikmati sarapan pagi di meja makan."


Haha Ailin memang paling pintar memancing emosi Keren terlihat wajah Keren mulai berubah menjadi merah padam bagikan tomat. Keren berdiri kasar dari ranjang dan dia dia meraih bubur panas yang Ailin bawa tadi.

__ADS_1


"Apa yang mau kau lakukan dengan bubur itu? Huaaaaaaa!"


__ADS_2