
Kini Ailin sedang di dalam mobil dengan Wenda mereka duduk di kursi belakang, sedangkan Radja duduk di kursi depan dengan pengawalnya. Mereka sedang menuju ke rumah Wenda. Ya untuk sementara Ailin akan tinggal di rumah Wenda sampai kondisi wanita itu benar-benar sembuh. Pak Ray tidak ikut ke rumah Wenda karna pria itu harus mengurus Keren. Ya wanita itu masih tinggal di gubuk yang sama selama satu bulan bahkan kini kondisinya sangat menyedihkan. Entah wanita itu sudah mengakui rasa bersalahnya atau belum.
Rumah Wenda.
Setelah mobil itu berhenti persis di halaman rumah mewah dan super megah itu, Ailin dan Wenda langsung turun dari mobil, beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan menantu rumah itu dengan senyum ramah yang tersungging dari bibir mereka. Ailin masuk ke dalam rumah tersebut di bantu oleh Radja. Ya Wenda sengaja membiarkan kedua orang itu agar tidak berselisih paham lagi sebagai orang tua Wenda merasa jika dia harus menyatuhkan dua hati yang sedang ada di sampingnya itu, Radja memeluk bahu Ailin dengan lembut karna wanita itu masih sangatlah lemah. Mata Ailin menyapu seisi rumah tersebut dengan terkagum-kagum rumah yang desainnya sangat elegan dan di penuhi dengan perabotan yang tidaklah murah pastinya, Wenda hanya tersenyum tipis melihat wajah Ailin kala itu.
''Sayang, kalian pasti sangat lelahkan, Radja, bawa istrimu masuk ke dalam kamar mu!'' Perintah Wenda sembari membelai lembur rambut Ailin yang terurai rapi.
Tanpa Menjawab Radja hanya menganggukkan pelan kepalannya kemudian pria tersebut langsung membawa Ailin menaiki anak tangga rumahnya, tanpa meminta ijin Radja langsung menaruh wanita itu dalam gendongannya.
''Hei, apa yang kau lakukan Radja, aku bisa jatuh cepat turunkan aku!'' Teriak Ailin memberontak.Wenda tersenyum bahagia melihat sikap Radja yang tiba-tiba seperti itu. Ailin sangat kaget dengan perlakuan suaminya itu hingga jantungnya berdegup sangat kencang sekarang.
''Diamlah! Jika kau terus bergerak kita akan jatuh berdua, apa kau mau masuk rumah sakit lagi?'' Goda Radja sembari terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumahnya.
Ailin langsung diam seribu bahasa dia merasakan ngilu saat mengingat dirinya tertancap banyak alat medis di tubuhnya bahkan rasa sakit yang beberapa waktu lalu pernah ia rasakan kini mulai terasa kembali, Radja memang paling hebat jika membungkam mulut seseorang dengan kata-kata super manis seperti itu. Ailin saja sampau dia seketika.
__ADS_1
Cklekk!
Pintu kamar Radja sudah terbuka, pria itu langsung masuk ke dalam kamarnya dan menaruh istrinya di ranjang yang ada di tengah kamar tersebut, Radja kemudian menutup pintu kamar tersebut. Ailin menatap ke setiap sudut kamar tersebut, alangkah terkejutnya dia melihat fotonya saat sedang bersama Radja, dan foto dirinya saat bersama Lani ada di dinding kamar tersebut. Ya beberapa waktu yang lalu Radja yang menyuruh Pak Ray untuk melakukannya itu untuk menyambut kedatangan Ailin ke rumah tersebut. Radja sedikit demi sedikit mulai menunjukkan perhatiannya pada wanita itu.
Mata Ailin langsung membulat seketika, dia berdiri pelan dari ranjang dan berjalan menuju dinding yang terdapat fotonya itu. Radja tersenyum lembut sembari berjalan menghampiri Ailin yang masih diam mematung di depan bingkai foto itu.
''istriku, apa kau menyukainya?'' Tanya Radja sembari memeluk tubuh wanita itu dari belakang sembari mengecup lembut pipinya yang di poles make up tipis.
''Terima kasih karna kau sudah mau menaruh fotoku dan Bi Lani dalam kamar mu,'' Bicara dengan menatap ke arah foto Lani yang sedang memeluknya penuh kasih sayang. Eh, tunggu ini untuk pertama kalinya dia menyebutku dengan panggilan istri! Apakah dia sudah mengakui aku sebagai istrinya atau itu hanya perasaanku saja, ya benar dia bahkan tidak menghukum wanita itu karna telah melukai aku sampai seperti ini, pria ini bersikap baik padaku karna Mama Wenda yang memintanya ya pasti seperti itu.
''Hei sayang, kenapa kamu menangis?'' Tanya Radja sembari membalik tubuh Alin hingga kini mereka saling berhadapan.
''Aku takut jika Bi lani tidak bangun lagi, lalu bagaimana denganku? Aku tidak mempunyai siapapun selain dirinya.'' Air mata mulai jatuh membasahi pipinya lagi dan lagi, air mata itu mengalir tanpa hentinya terus membasahi pipi putihnya bahkan tangisannya terdengar semakin memilukan. Untuk pertama kalinya Radja merasakan rasa sakit yang sangat hebat di bagian dadanya saat melihat Air mata Ailin jatuh semakin deras. Pria itu memeluk tubuh istrinya dengan lembut dan mengajaknya duduk di sisi ranjang.
''Dengarkan apa yang aku ucapkan, aku kan selalu ada di sisimu kau bisa bersandar padaku,'' Bicara dengan mengusap pelan air mata di kedua pipi Ailin bergantian. Baru kali ini Radja melihat kesedihan yang terpancar jelas dari wajah istrinya itu.
__ADS_1
Selama ini Ailin selalu menutupi kesedihannya namun entah mengapa untuk pertama kalinya wanita itu menunjukkan rasa sedih dan putus asa yang sedang di alami di hadapan suaminya itu. Ailin hanya diam tak menjawab ucapan suaminya itu karna menurut wanita itu, Radja hanya sedang mencoba menghiburnya saja agar tidak merasakan sedih terlalu lama.
SETELAH BACA JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE YANG BANYAK YA SUPAYA SAYA LEBIH SEMAKIN SEMANGAT LAGI UNTUK UPDATE TERATUR.
SERTA TINGALKAN JUGA KRITIK DAN SARAN KALIAN AGAR SAYA BISA MENULIS NOVEL YANG ;EBIH BAGUS LAGI. JIKA KRITIK DAN JUGA SARAN MASIH DALAM BATAS WAJAR DAN SOPAN MAKA SAYA SANGAT MENGAPRESISI. SATU BOCORAN YA, KHAIRIN PALING SUKA DENGAN KOMENTAR YANG MENJELASKAN TENTANG PERASAAN KALIAN SETELAH MEMBACA NOVEL INI ITU INSPIRASI TERBESAR SAYA.
KLIK AKUN MANGATOON SAYA DAN IKUTI SETIAP KARYA SAYA YANG LAINYA JUGA YA, TERIMAKASIH.
__ADS_1