
Mata Radja menatap ke arah Reva sesaat dan dia segera menatap ke arah Ailin yang juga menatapnya.
"Tuan muda, lihatlah itu wajah Nona muda sepertinya pucat, sepertinya dia sedang sakit." Ujar Pak Ray yang berdiri di belakang Radja.
Radja melihat ke arah Ailin dan yang di ucapkan oleh Pak Ray memang benar, wajah istinya terlihat pucat Radja mendudukan tubuhnya dan meeting di mulai. AIlin berdiri dari posisi duduknya hendak menuju ke layar lebar yang ada di hadapanya namun dia berhenti sejenak kepalanya terasa berat dan dia juga merasa perutnya seakan seperti di aduk-aduk. namun Ailin mencoba menahanya sesaat kemudian dia mulai kembali berjalan dan menyelesaikan presentasinya itu dengan baik tanpa kekurangan sedikitpun.
Bahkan orang yang mengikuti meeting siang hari itu banyak yang memuji presentasi Ailin. Hal tersebut semakin membuat Reva geram dia bahkan meminum air mineral yang ada di hadapannya sampai habis. Mungkin Reva merasa dehidrasi karena melihat musuhnya disanjung seperti itu. Ailin tidak memperdulikan tentang semua pujian yang di tunjukkan padanya karna dia hanya menganggap itu semua sebagai bonus dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Reva terus melihatnya tanpa bergeming sedikitpun dia seakan sangat membenci Ailin padahal mereka berdua tidak saling kenal, entah apa yang membuat Reva mau mengikuti meeting mengantikan asisten Papanya pasti wanita itu hanya ingin mengoda suami Ailin saja. Namun Ailin masih belum juga menyadari akan hal tersebut karna saat dia koma di rumah sakit Ailin tidak mengerti tentang pertengkaran antara Adam dan juga Radja karna Reva.
Adam terus menatap ke arah Ailin yang kini sudah kembali duduk di tempatnya semula, Radja mengepalkan jari-jari tangannya saat melihat Adam sedari tadi terus menatap istrinya, bahkan bukan hanya Adam saja yang menatap Ailin, pria yang di dalam ruang meeting itu juga sesekali menatap ke arah istrinya karna Ailin memang sangat cantik hingga sangat muda membuat pria lain tertarik untuk melihat ke cantikannya itu.
Meeting selesai.
"Ailin apakah kau sakit, lihat ini wajahmu pucat sekali ayo aku bawa kau ke dokter?" Tanya Sani dengan mengengam tangan Ailin yang terasa dingin.
__ADS_1
"Tidak papa, mungkin aku kurang istirahat saja," sahut Ailin dengan beranjak berdiri dari posisi duduknya. Sani membantu Ailin berjalan sedangkan Adam menghampiri Ailin.
Radja sedari tadi tak bergeming menatap istrinya ketika dia hendak menghampiri Ailin namun Reva segera mengandeng lengannya dengan bergelayutan manja. Reva mengajak Radja keluar dari ruangan itu karna banyak pegawai di ruang meeting. Radja hanya bisa mengiyakan apa yang di uacapkan Reva. Sebenarnya Radja sangat ingin berada di samping Ailin namun karna wanita itu menginginkan pernikahan merka di rahasiakan jadi Radja hanya bisa menuruti ke inginan istrinya.
"Huwek. . huwek. . " Ailin mulai tak tahan merasakan perutnya yang semakin mual seakan ada yang sedang bermain di dalam perutnya. Sontak semua orang berada di luar ruangan meeting melihat ke arah Ailin bahkan para wanita lainya juga melihat ke arah Ailin. Radja langsung melepaskan kasar tangan Reva yang masih bergelayutan centil di lengannya.
"Hei, apakah Ailin hamil lihat itu wajahnya yang kelihatan polos ternyata hanyalah kedok belakang. kecantikan itu membuatnya dengan mudah bisa mengoda CEO."
"Iya ternyata benar apa yang kita duga selama ini jika dia buka wanita baik-baik." Ucap para wanita itu gibah online di sepanjang Ailin melangkah.
Bahkan tatapan mereka kelihatan semakin membenci Ailin, Reva semakin puas melihat musuhnya di pandang seperti itu. Radja mengepalkan jari-jari tangannya melihat istrinya di pandang seperti itu. Sani masih mencoba membantu Ailin berjalan karna Adam hendak membantunya namun di tolah secara halus oleh Ailin sehingga pria itu hanya bisa diam dengan masih berada di belakang Ailin berjalan.
Adam hendak membopong Ailin namun Radja dengan sigap lebih dulu melakukan hal itu, Radja membawa Ailin masuk ke dalam ruang kerjanya sedangkan Sani masih mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam ruangan presdir. Pak Ray dengan sigap menghubungi dokter priabadi Radja dan juga mengabari Wenda yang sedang berada di rumah. Saat itu Wenda sedang ada pertemuandengan kaum sosialita tapi setelah mendapat kabar Ailin pingsan wnaita itu segera melesat menuju kantor putranya dengan perasaan kebinggungan.
"Hei apakah kalian lihat itu baru pertama kali ini aku melihat Pak Radja sangat perhatian dengan seorang wanita bahkan aku juga melihat rasa khawatir yang terpampang nyata di wajah Pak Ray." Ucap para wanita itu gibah online. Mereka sudah tidak berani gibah secara langsung karna takut jika di maki lagi olehg Pak Ray bisa hancur hidup mereka semua.
__ADS_1
Di ruangan Radja.
Dokter sudah selesai memeriksa Ailin dan dia telihat sangat bahagia jika di lihat dari mimik mukanya pasti kabar baik yang akan dia sampaikan. Namun semua orang di dalam ruangan itu masih saja merasa tegang tak terkecuali Radja.
"Dokter apa yang terjadi pada istriku?" Tanya Radja.
" Selamat," Radja sudah memotong ucapan Dokter itu karna merasa geram.
"Istriku sakit tapi kau malah mengucapkan selamat padaku! Kau sudah bosan hidup ya!" Ancam Radja dengan menarik kerah baju dokter itu.
":Tuan muda, biarka dokter itu jelaskan dulu apa maksud dari uacapannya barusan." Sahut Pak Ray dengan berdiri di samping Radja.
Kau tidak perlu sekasar itu Radja, mana berani dokter itu melakukan hal yang akan membuatmu marah besar. Kau bahkan bertidak berlebihan tidak biasanya kau seperti ini.
"Benar apa yang Pak Ray ucapkan Radja, Dokter pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia sampai bicara selancang itu tadi." Reva bicara dengan nada suara yang lembut seperti di buat-buat.
__ADS_1
Sani terus menatap ke arah Reva dengan geram karn ajelas terlihat jika wanita itu terus mencoba menggoda suami sahabatnya. Bahkan terang-terangan di depan AIlin, Saat sahabatnya sakit dia sengaja mencari cela untuk mendekati Radja sungguh wanita yang tidak tau malu.