
Malam hari Sani hendak menyandarkan punggungnya di ranjang namun bel rumahnya berbunyi. Dengan berdecak kesal Sani bangun dari tidurnya dan turun membukakan pintu dengan masih mengunakan piyama tidurnya. Dia tinggal di rumah sendirian rumah itu terlihat sederhana namun juga sangat senjuk permandangannya karna ada taman mini di depan halaman rumah itu. Sani melihat mobil yang biasanya di gunakan oleh Pak Ray dan benar saja pria itu segera turun dari mobil setelah melihat Sani keluar dari rumah.
"Hei jantung bodoh kenapa kau selalu berdetak seperti ini jika sedang melihat wanita itu. Apakah aku jatuh cinta padanya tapi itu tidak mungkin, tapi jika tidak jatuh cinta kenapa jantung ku sampai berdetak semakin cepat saat wanita itu mendekatiku." Gumam Pak Ray dalam hati dengan bengong melihat ke arah Sani yang kini sudah berdiri di hadapannya. namun apak Ray malah belum menyadarinya.
"Hei. . Pak Ray. . Pak Ray." Pangil Sani dengan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah pria itu.
Menggelengkan pelan kepalannya karna dia sudah menyadari jika Sani telah berdiri di hadapannya. "Eh, iya kau sudah di sini ternyata." Pak Ray bicara dengan tersenyum garing karna merasa gugup.
Sani mengajak pria itu duduk di meja panjang yang berwarna coktal dan letaknya tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri, pak Ray sangat gugup saat dia dan juga Sani duduk dengan jarak yang sangat dekat hal itu membuatnya salah tingkah. Sani menanyakan kenapa Pak Ray sampai mencarinya tengah malam seperti ini karna hal itu baru kali pertama terjadi. Pak Ray mungkin rindu padanya sehingga mencari alasan untuk bisa bertemu dengan Sani. Mungkin seperti itu.
__ADS_1
Malam hari itu udara sangat dingin dan angin malam memainkan rambut panjang Sani hingga rambut itu terbang manja mengikuti hembusan angin malam, Sani yang sedang mengunakan piyama tidur mulai merasakan kedinginan Pak Ray yang mengetahui tentang hal tersebut segera melepas kemejanya dan menutupkan kemeja itu pada pundah Sani agar wanita itu tidak merasa kedinginan. Tanpa menolak niat baik pria yang ada di sampingnya itu Sani justru tersenyum lembut padanya dengan mengucapkan terimakasih.
"Ada masalah apa sampai anda datang larut malam menemui saya?" Tanya Sani dengan menoleh ke arah pria di sampingnya itu.
"Eh, begini Reva menginap di Hotel Mariot dan aku menaruh beberapa pengawal di sana untuk mengetahui setiap gerakan wanita itu. Dia ngamuk seharian karna mengetahui Ailin hamil anak Tuan muda. Aku juga menaruh cctv di setiap sudut kamar wanita itu." Jelas Pak Ray dengan menatap lurus ke depan.
"Ya tuhan jantungku berdetak semakin cepat saat dia memegang tanganku," Pak Ray bergumam dalam hati dengan menyeka peluh di jidatnya. Padahal udara malam itu sangat dingin tapi Pak Ray mengeluarkan keringat akhibat rasa bucin yang dia rasakan.
Sani segera melepaskan peganggan tangannya saat menyadari jika dia telah memegang tangan Pak Ray. Mereka merencanakan sesuatu pada Reva. Reva pasti tidak pernah menyangka jika semua orang sudah waspadah terhadapnya tentu saja kecuali Ailin. Wanita itu sedang hamil dan dia tidak boleh memikirkan sesuatu yang berat dan karna sebab itu Ailin tidak di beritahukan akan rencana mereka semua. Bahkan Wenda juga ikut terlibat di dalam rencana ini. Wenda mnyuruh Radja merencanakan semua siasat mereka tanpa harus menyentuh Reva karna Wenda juga menyayangi wanita itu.
__ADS_1
Rumah Adam.
Adam tertidur dengan posisi duduk di bar mini yang semalam dia tempati. Dia tidur dengan masih memegang satu botol bir di tangannya dan lima botol lainya tergeletak kosong dia atas meja itu. Karna banyak minum Adam sampai tak sadarkan diri dan tertidur di sana semalaman.
Tiba-tiba Bel pintu depan berbunyi pelayan rumah Adam segera keluar dari sana dan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Reva dan wanita itu memaksa masuk ke dalam rumah menemui Adam padahal pembantu rumah itu sudah melarangnya dan memberitahukan kondisi majikannya yang sedang tidak sadarkan diri karna pengaruh alkohol yang sangat banyak. Namun karna Reva terus bersih keras akhirnya pelayan itu mengiyakan keinginan Reva. Reva berjalan menuju bar mini di dalam rumah setelah sampai di sana, Reva menarik salah satu senyumannya dan berjalan mendekati Adam, pelayan yang tadi mengantar Reva masuk ke dalam rumah dia suruh pergi dan meningalkan dirinya dan juga Adam berdua saja.
"Hahaha kondisimu bahkan sama menyedihkannya denganku Adam, kau mencintai Ailin dan aku mencintai Radja kita berdua akan memisahkan ke dua orang itu dengan bantuan Mamaku." Ujar Reva lirih dengan mendudukkan tubuhnya di kursi kosong samping Adam yang masih juga belum sadar.
SETELAH BACA JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL AUTHOR YANG LAIN YA, CARANYA GAMPANG BANGET KOK. KALIAN TINGGAL KETIK NAMA KHAIRIN NISA DI BERANDA PENCARIAN. NAHH NANTI DI SANA KALIAN BISA BACA SEMUA NOVEL KHAIRIN NISA. TERIMAKASIH
__ADS_1