
Orang itu adalah Wenda, wanita paruh baya yang sudah Ailin anggap sepeti penganti ibu kandungnya dan juga Lani yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya. Wenda datang mengunjungi Ailin karena wanita paruh baya itu ingin mengetahui bagaimana kondisi Ailin
setelah keluar dari rumahnya beberapa waktu yang lalu. Ailin mengajak Wenda
masuk ke dalam rumahnya namun wanita itu ternyata tidak datang sendirian karena
dia datang bersama putranya pria yang sempat membuat Ailin hampir saja bunuh diri.
Ailin menghentikan langkahnya, dia menatap ke arah Radja dengan wajah sendu bahka Ailin kelihatan lebih
tegar dari sebelumya. Ailin mengusap air mata yang masih membasahi kedua
pipinya bahkan wanita itu menghembuskan nafasnya perlahan seolah dia sedang
memantapkan hatinya untuk tidak menangis dan tersakiti lagi oleh orang yang sama.
“Nak, Radja ingin bicara denganmu apakah kami bisa masuk ke dalam?” tanya Wenda dengan wajah kelihatan memohon.
“Baiklah Ma,” sahut Ailin dengan nada suara terdengar sedang terpaksa untuk membiarkan mantan suaminya itu masuk ke dalam, jika mungkin Wenda tidak ikut datang bersama dengan Radja mungkin wanita itu tidak akan pernah membiarkan mantan suaminya itu menemuinya apalagi sampai masuk ke dalam rumah yang dia tempati.
Wenda dan juga Radja segera masuk ke dalam rumah saat Ailin sudah memberinya izin. Wenda dan juga Radja mendudukkan tubuhnya di sofa berwarna hitam yang ada di ruang tamu rumah Sani, sedangkan Ailin melangkah menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Wenda dan juga kopi Hitam dengan sedikit gula kesukaan Radja. Bahkan
Ailin masih mengingat apa yang pernah di sukai suaminya dulu.
Jika saat itu Ailin adalah wanita lain mungkin saja wanita itu sudah mencampurkan racun ke dalam minuman suaminya, namun Ailin bukanlah wanita berhati kriminal seperti itu dia tak akan Setega itu menyakiti hati orang lain walaupun orang tersebut, pernah bahkan terbilang begitu sering menyakitinya.
"Radja, Mama membawa mu kesini untuk meminta maaf padanya! Kamu harus ingat semua ini karena kesalahanmu di masa lalu sempat percaya pada wanita seperti Rena," jelas Wenda mencoba memberikan peringatan keras pada anaknya agar tidak menyakiti Ailin.
Wenda memang tidak memiliki hubungan darah dengan Ailin tapi entah mengapa wanita itu sangat mencintai dan juga menyayangi Ailin selama ini. Mungkin karena kebaikan Ailin di masa lalu sampai sampai dia bertemu dengan Wenda dan sempat menjadi menantunya.
__ADS_1
"Ya, aku ingat Ma," sahut Radja dengan melihat ke arah pintu dapur di mana Ailin berada saat ini.
Kantor Adam.
Pria itu sedang menatap ke layar laptop yang ada di meja kerjanya sedangkan Pak Ray sedang duduk di kursi yang ada dI depan meja kerjanya. Adam memperlakukan Pak Ray seperti seorang sahabat jika tidak ada orang namun jika di hadapan banyak orang
Pak Ray akan bersikap sebagai asisten Adam. Adam mulai mengerutkan keningnya
dengan pandangan masih tak bergeming dari layar laptopnya.
“Tuan muda, apakah saya harus ke sana sekarang?” tanya Pak Ray masih dengan posisi duduk di kursi namun wajah pria itu terlihat sama khawatirnya dengan Adam.
“Biarkan saja asalkan Radja tidak melukai Ailin lagi,” sahut Adam denga melirik sekilas ke arah asisitenya.
Adam sempat menyuruh Pak Ray untuk menaruh beberapa kamera cctv di ruang tamu dan juga dapur si rumah Sani agar Adam bisa memantau Ailin karena pria itu terus saja merasa khawatir jika tidak bisa melihat Ailin sehari saja. Dan tujuan kamera itu di letakkan di rumah Sani agar bisa
melihat jika suatu saat Ailin berencana bunuh diri lagi bahkan diam-diam Adam
juga menaruh beberapa pengawal di depan rumah Sani untuk membantu jika suatu
saat terjadi kejadian yang tidak di inginkan terjadi pada Ailin.
Adam bahkan siap merasa terluka jikalau sampai suatu hari Ailin mengambil keputusan kembali untuk berumah tangga dengan Radja, Adam akan melepaskan Ailin dengan berat hati karena bagi adam asalkan wanita yag dia cintai bahagia entah dengan siapa saja
itu maka baginya tidaklah jadi masalah. Dari dulu hingga sekarang yang terpenting bagi Adam ialah melihat ornazg yang dia cintai merasa bahagia walaupun dirinya sendiri harus terluka karena mengambil keputusan itu.
Rumah Sani.
Ailin keluar dari dapur dengan membawa nampan berwarna coklat yang terbuat dari kayu, dia menaruh satu gelas teh hangat di hadapan Wenda dan menaruh kopi hitam di hadapan Radja, setelah itu Ailin mendudukkan tubuhnya di ruang kosong di samping Wenda.
Radja terus memperhatikan wajah Ailin namun wanita itu tidak sedikitpun menatap balik ke arah Radja, Ailin mulai membuang semua kebenciannya pada pria yang kini duduk di sofa yang tepat berada di depannya. Jika Ailin ingin bahagia maka satu\-satunya jalan dirinya harus bisa memaafkan orang yang sempat menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Ailin bagaimana kabarmu akhir\-akhir ini nak?" tanya Wenda dengan mengengam kedua tangan Ailin.
"Kabar ku baik Ma seperti yang kau lihat sekarang," sambung Ailin. "bagaimana dengan kabar Mama sendiri? Mana tidak lupa minum obat kan?" tanya Ailin balik dengan mengamati wajah Wenda dari dekat.
Ailin melihat kerutan di wajah Wenda mulai terlihat dan juga tubuh wanita itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu, hal itu membuat Ailin merasa khawatir dan merasa bersedih sebab dirinya tidak bisa merawat Wenda lagi.
Karena tidak mungkin jika Ailin akan akan tinggal di rumah Radja untuk merawat wanita paruh baya yang sudah menyayanginya itu, sebab dirinya bukan lagi menantu dari keluarga tersebut.
"Mama mungkin akan hidup tidak lama lagi Nak, tapi Mama sangat ingin melihatmu bahagia walaupun itu tidak dengan putraku."
"Ma, tidak bisakah kau meminta Ailin untuk kembali lagi padaku," wajah Radja kelihatan memelas saat mengucapkan kata\-kata itu.
"Nak, Mama pernah memberikan padamu satu kesempatan tapi kau sia\-siakan!" Suara Wenda mulai terdengar seperti suatu peringatan keras untuk putranya.
Hati Wenda sangat hancur dan juga sedih saat dirinya mengucapkan hal tersebut pada putranya bahkan air mata mulai mengenang di pelupuk matanya, bahkan bibir wanita itu bergetar saat ini mungkin karena dirinya menahan rasa sakit di dadanya karena ikut merasakan penyesalan yang di alami oleh putranya saat ini.
Hati seorang wanita ibarat sebuah kaca, jika kaca tersebut terlalu kasar saat merawatnya maka akan pecah menjadi serpihan dan tidak akan mungkin bisa kembali utuh seperti sedia kala, namun jika kaca tersebut tidak pernah di rawat maka akan kelihatan kusam dan juga tidak indah di pandang. Namun jika kaca tersebut di rawat dengan baik maka akan bisa terjaga dengan baik.
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE CERITA KHAIRIN NISA YANG BERJUDUL SANG PENAKLUK 2. . IKUTI AKUN MANGATOON KHAIRIN DAN JUGA FOLLOW IG KHAIRIN\_JUNIOR . . MAKA SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH.