
"Hukum kekasihmu itu dengan sangat kejam, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perlakuannya kepada putriku! Beri dia hukuman yang lebih menakutkan dari pada kematian hingga dia lebih memilih mati dari pada hidup." Ucap Wenda sembari membelai pipi Ailin yang kelihatan pucat. Hati Wenda seakan tergores pisau yang tajam melihat Ailin terbaring menyedihkan seperti ini.
Wenda adalah orang yang sombong dan kejam namun dia bersikap sangat baik pada Ailin karna kejadian waktu di pinggir jalan itu. Hati Wenda semakin menyayangi Ailin setelah melihat begitu besarnya pengorbanan Ailin pada Lani. Tidak banyak wanita yang mau merelakan masa mudanya demi mencari uang tanpa kenal lelah seperti Ailin. Tanpa disadari Wenda semakin hari semakin lama, semakin menyayangi Ailin dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah dia mengetahui jika Radja menikahi Ailin, rasa sayang Wenda semakin menjadi-jadi pada Ailin.
Wenda dan Radja keluar dari ruangan Ailin dengan raut wajah kelihatan bersedih. Tak lama kemudian Adam terlihat berlarian menghampiri Radja dan Wenda yang masih berdiri didepan pintu ruangan Ailin.
Adam kini sudah berhenti didepan Radja dengan nafas tersengal-sengal.
"Adam ada apa?" Tanya Radja sembari menatap Adam dengan intens.
"Aku mau memberitahukan kenyataan tentang Ailin padamu!" Ucap Adam dengan nafas tersengal-sengal dia masih mencoba mengatur nafasnya dan detak jantungnya terlihat tak beraturan karna berlarian saat masuk kerumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Dia sudah mengetahui semuanya!" Sahut Wenda dengan menatap Adam. Wenda sudah bisa menebak dari raut wajah Adam walaupun pria itu belum mengutarakan apa yang hendak dia sampaikan.
"Benarkah," Adam terlihat kaget karna Adam belum mengerti jika Wenda sudah mengenal Ailin jauh sebelum Radja dan Adam mengenal wanita itu.
Mereka bertiga duduk di bangku panjang yang ada didepan ruangan Ailin. Dan Radja menceritakan semua kejadian yang Wenda ceritakan padanya. Adam sangat kaget mendengar sebuah kenyataan yang sangat kebetulan seperti itu namun inilah yang dinamakan takdir dan hanya tuhan yang tau akhirnya akan seperti apa namun aku berharap Ailin akan mendapatkan kebahagiaan yang memang seharusnya pantas dia dapatkan.
"Ma, bisakah kau tunjukkan ruangan di mana Bibi Ailin di rawat?"
Radja mengekor dibelakang Wenda, hingga akhirnya wanita itu berhenti disalah satu ruangan yang terlihat sederhana. Wenda masuk lebih dulu kedalam ruangan tersebut, Radja masih mengekor dibelakangnya.
Kini mereka sudah ada didalam ruang tersebut, Lani masih terbaring dengan kondisi tak kalah menyedihkan dari Ailin, hati Radja seakan bergemuruh. Dia tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri karna tak menyelidiki dulu karna sebab apa Ailin sampai mau menikahinya.
__ADS_1
"Ma, bisakah kau tinggalkan aku di sini sendirian," Ucap Radja dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu!" Sahut Wenda dan segera keluar dari ruangan tersebut. Wenda tak menunggu Radja, wanita itu langsung balik keruangan Ailin.
Radja kini sudah duduk di kursi yang ada didekat ranjang Lani. Mata Radja tak bergeming menatap wanita paruh baya yang bertubuh sangatlah kurus namun masih terlihat cantik di usianya sekarang. Mata Radja menatap setiap sudut ruangan tersebut dengan hati yang sangat sedih. Ruangan yang terlihat sempit karna ruangan tersebut adalah kelas ekonomi. Ya Ailin hanya mampu menyewa ruangan tersebut karna biaya berobat Lani sudah sangatlah mahal hingga Ailin tak jarang Ailin harus menelan ludahnya jika melihat barang yang dia inginkan.
Radja tak bisa mengendalikan rasa bersalah yang kini semakin merasuk ke setiap pembuluh darahnya, hingga tanpa pria itu sadari sendiri kristal bening yang tadi sudah menghiasi matanya itu mulai jatuh menetes perlahan membasahi pipinya. Radja kini mulai memegangi tangan Lani yang terlihat dingin.
"Perkenalkan Bi Lani, namaku Radja aku adalah suami Ailin. Apakah dia pernah menceritakan tentang aku padamu? Aku harap itu hal yang baik mengenai aku. Walaupun aku tau dengan sangatlah jelas jika tidak ada hal yang akan membuatnya berkata jika sikapku sangat baik padanya, tapi entah mengapa aku masih mengharapkan akan hal bodoh Tersebut." Radja bicara dengan bibir bergetar. "Bi, aku minta maaf karna tidak bisa menjaga Ailin, namun mulai dari hari ini tidak akan pernah aku biarkan ada orang yang berani menyentuhnya apa lagi membuatnya meneteskan air mata, bahkan tidak aku sendiri. Andaikan aku tau semua ini dari awal, aku akan sangat menghargainya dan menyayanginya karna aku tidak salah memilih istri sebaik dirinya."
Pria itu kini mulai berdiri dari posisi duduknya dan keluar dari ruangan tersebut. Setelah Radja keluar dari ruangan tersebut dia langsung mengeluarkan ponselnya yang dia taruh di sakunya. Entah siapa orang yang sedang Radja hubungin saat itu.
__ADS_1