Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Aku Tidak Berselera Makan.


__ADS_3

     Ailin mengoyangkan pelan kepalanya seolah dia sedang membangunkan diri dari


lamunanya, Ailin melihat Adam sedang berdiri di depannya pria itu begitu tampan


saat mengenakan kemeja berwarna putih polos dengan celana hitam melekat


sempurna pada tubuhnya. Wajah pria itu yang sedang merasa khawatir bisa dengan


muda di lihat oleh Ailin, dan wanita itu juga mengetahui jika dirinya lah yang


membuat kehawatiran di hati Adam saat ini.


     “Kak Adam, aku kira kau juga sudah melupakanku sama seperti dia,” suara Ailin pecah oleh tangisanya, Ailin memeluk tubuh Adam dengan begitu erat seolah wanita itu


sedang meluapkan emosi dan bercampur kerinduanya pada pria itu.


      Adam baru menyadari jika keputusanya salah untuk tidak menemui Ailin selama satu minggu karena kenyataanya wanita itu


malah berpikir jika Adam sudzha melupakan dirinya karena tidak datang mengunjunginya selama satu minggu ini bahakan Adam juga tidak menghubunginya melalui pesan WHATSAPP. Adam membalas pelukan wanita yang selama ini selalu dia rindukan itu.


     “Apa maksud dari ucapanmu? Aku begitu merindukanmu sampai tiap malam aku merasa kesulitan untuk memejamkan mata karena bayang-bayangmu seakan menari-nari dalam pikiranku,” ucap Adam dengan melepaskan pelukan wanita itu kemudian dia menyeka air mata yang masih membanjiri pipi Ailin.


       Setelah selesai bicara Adam langsung membawa Ailin duudk di meja makan yang ada di dalam rumah tersebut, rumah yang sangat sederhana dengan dinding bercat Pink itu terlihat sejuk dan indah. Sani memang menyukai warna Pink dan juga rumah kecil itu tertata dengan rapi karena Sani setiap hari membersihkannya. Meja makan yang bisanya terlihat sepi kini ramai karena kehadiran Adam dan juga Pak Ray di sana. Seperti biasa Ailin tidak mau menyentuh makananya dia hanya duduk seperti patung dengan menatap lurus ke depan kekosongan sedang menyelimuti hatinya saat ini.


       “Ailin makanlah, aku membawakan ayam bakar kesukaan mu yang berada di toko ujung jalan rumah Sani,” sejak dulu jika Ailin tidak berselera makan maka wanita itu akan


membeli ikan bakar di dekat rumah sani.


    Tidak ada yang istimewa dari tempat penjual ikan bakar itu karena itu bukan restoran melainkan penjual kaki lima di pinggir jalan namun rasa ikan bakar dari tempat itu sangat menguggah selera siapa saja yang membelinya dan juga aroma bakaran yang sangat jelas tercium di hidung Ailin kala itu. Tapi tetap saja Ailin tak berselera makan bahkan wanita itu hanya melihat ke gelas yang berisikan es jeruk itu


kelihatan mengoda dengan embun menetes di pingir gelas kaca yang berwarna putih transparan itu sangat mengoda namun lagi-lagi Ailin sangat malas untuk meminumya.


     “Aku sedang tidak berselera makan Kak, kalian makan saja,” sambung Ailin dengan memaksakan senyuman di bibirnya.


     “Baiklah aku juga tidak makan, kalian berdua habiskan saja semuanya,” Pak Ray dan Sani saling bertatapan seolah mereka sedang bingung melihat kedua sahabatnya itu.


     “Makanlah, kau psti lapar kan setelah seharian berkerja nanti kau sakit Kak,” Ailin masih memperdulikan orang lain walaupun dia tak memperdulikan dirinya sendiri.

__ADS_1


      Adam mengambil ikan bakar yang ada di piring tepat di depan Ailin dan pria itu memindahkan ikan bakar gurami ke dalam piring yang sudah berada di hadapanya, “Ayo buka mulutmu biar aku suapi,” ucap Adam dengan menyuguhkan satu sendok berisikan


nasi dan juga ikan bakar di depan mulut Ailin.


     “Tapi,”


    “Jika kau tidak makan, maka aku juga tidak akan mau makan!” Wajah pria itu kelihatan


bersungguh-sungguh saat berbicara.


    Mengehela nafas panjang, Ailin membuka mulutnya pria itu langsung memasukkan sendok tersebut ke dalam mulut Ailin. Ailin makan dengan sangat lahap saat di suapi oleh Adam setelah nasi di piring Adam habis Ailin segera mengambil piring kosong dan


mengisinya dnezgan ikan bakar dan juga sambal kemudian wanita itu menyuruh Adam


untuk memakannya. Sani dan juga Pak Ray ikut bahagia melihat Ailin mulai


tersenyum lagi saat kedatangan Adam.


      Rumah Radja.


     Radja dan juga Wenda sedang berada di meja makan di rumahnya, Wenda merasakan ada yang kosong saat melihat ke arah kursi yang biasanya Ailin duduki. Dia merasa sangat kehilangan dengan kepergian Ailin rumah yang tadi kelihatan indan dan kini


di hati keduanya.


      Penyesalan masih jelas terlihat di mata Radja ibarat nasi yang sudah berubah menjadi bubur penyesalan itu kini sudah tidak berguna lagi dan semua yang dia lakukan di masa lalu akan seumur hidup dia sesali karena telah menyakiti hati istrinya. Bahkan


selama satu minggu ini Radja terus berusaha menemui Ailin namun Sani terus


menghalanginya tidak ada yang bisa di lakukan oleh Radja karena Adam selalu ada


untuk membantu Sani jika sedang terkena masalah.


     “Ma, bisakah kau bawa Ailin datang kembali ke rumah ini aku sangat merindukannya,” ucap Radja


denga wajah memelas, Wenda yang hendak memasukkan satu sendok nasi ke dalam


mulutnya segera menaruh sendok tersebut di atas piringnya.

__ADS_1


      “Apa maksudmu Nak, Ailin bukan istrimu lagi,” Wenda mengingatkan putranya itu dengan merasa bersedih.


     “Ma, aku ingin minta maaf padanya, ku mohon bisakah kau membawanya untuk bertemu denganku aku sangat menrindukannya,” ucap Radja menatap ke arah Wenda dengan mata berkaca-kaca.


     Sebagai seorang ibu Wenda mulai merasa bersedih melihat kondisi putranya itu, Wenda tau dengan sangat jelas jika kesalahan Radja di masa lalu memang begitu besar namun tidak ada seorang ibu yang akan bahagia melihat penyesalah di wajah anaknya. Wenda


menitihkan Air matanya menandakan jika hatinya juga sedang terluka melihat pria


di hadapnya memohon dengan seperti ini bahkan Radja sampai bersujud di bawah


kaki ibunya agar mau membawa Ailin datang ke rumahnya.


    “Jangan seperti Radja,” ucap Wenda dengan mengangkat bahu anaknya agar kembali lagi duduk di


kursi meja makan itu.


        Malam hari di rumah Sani.


    Sani dan Pak Ray sedang duduk di depan rumah Sani. Mereka duduk di kursi panjang yang ada di depan halaman rumah Sani, rumah itu memiliki taman mini yang begitu banyak bunganya dan juga ada kolam ikan hias di sana semakin menambah suasana romantis di halaman rumah itu. Sani dan juga Pak Ray sedang duduk di gazebo yang


memiliki atap dari tumpukan jerami dan beberapa pohon yang menjulang


tinggi seakan sedang menari-nari saat hembusan angina menerpa dedaunan pohon


itu. Sani sangat menyukai tanaman maka tidak heran jika halaman rumah wanita itu di penuhi dengan banyak jenis tanaman.


    Pak Ray beberapa melirik ke arah Sani sepertinya pria itu ingin membicarakan


sesuatu hal yang penting jika di lihat dari caranya membuka dan menutup kembali


bibirnya. Pak Ray sedang ragu apakah dia harus mengungkapkan apa yang selama


ini tersimpan di hatinya ataukah dia harus menunggu lagi tapi sampai kapan pria


itu akan menunggu karena Pak Ray takut jika dirinya tidak mempunyai kesempatan lagi


seperti ini.

__ADS_1


     APA YANG AKAN DI UCAPKAN OLEH PAK RAY PADA SANI? JANGAN LUPA BACA TERUS EPISODE SELANJUTNYA,


JANGAN LUPA FOLLOW IG KHAIRIN NISA JUGA YA BIAR KALIAN TAU KHAIRIN MENULIS DI APLIKASI APA AJA DAN IKUTI KARYANYA YA. SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH.


__ADS_2