
Adam segera menyelesaikan ritual mandinya dan bergegas memakai kembali bajunya. Dia sekarang sudah mengenakan baru yang tadi di berikan oleh Pak Ray padanya, Pria itu berjalan keluar dari kamar mandi mata Adam menyapu dengan seksama ruangan tersebut dia tadi tak sempat melihat kamar wanita pujaanya karena dia sudah
terlalu risih dengan bau amis yang menempel pada tubuhnya bahkan Adam sampai
mengulang tiga kali ritual mandinya tadi, karena baru kali pertama ini tubuhnya bau amis seperti tadi.
Adam melihta banyak foto Ailin bersama almarhuma kedua orang tuanya saat wanita itu masih berusia sekitar tiga tahun, di dalam foto Ailin terlihat sangat bahagia dengan
senyuman manis terlihat di bibirnya dan kedua orang tua Ailin mengecup kedua pipinya secara bersamaan. Di sebelah foto tersebut ada foto Ailin waktu bersama dengan almarhuma bibinya di teras rumah. Adam semakin mencintai wanita itu bahkan gejola dalam dirinya yang selama ini
selalu saja dia tahan sudah tidak bisa di kendalikan lagi entah apa yang terjadi namun Adam sangat ingin mnegutarakan isi hatinya pada Ailin karena sangat tidak mungkin dia terus menjadi sahabat wanita itu sampai seumur hidupnya.
Adam melihat ranjang yang biasanya di buat untuk Ailin tidur, dia melihat banyak boneka berbagai macam ada di atas ranjang itu, sprai berwarna putih warna yang sama
dengan selimut dan juga bantal dan gulingnya kamar yang Ailin tempati memang
tidak terlalu besar bukan berarti hidup wanita itu susah namun Ailin dan juga
Sani suka hidup secara sederhana dengan tidak menunjukkan kekayaan yang mereka
miliki.
Entah bagaiman dengan kabar Radja di kota seberang dia seakan menghilang bagaikan di telan bumi namun terdengar kabar pria itu sudah menikah lagi dengan seorang wanita yang berasal dari negara Singapura, entah Ailin mengetahuinya ataupun tidak namun semua itu sudah berlalu bagi Ailin mantan suaminya tidak lebih dari sebuah pengalaman pahit yang harus di lupakan agar dia bisa menjalani hidupnya seperti sekarang.
“Kak Adam, apakah kau sudah selesai mandi?” tanya Ailin dengan mengetuk pintu kamarnya dari luar.
“Ya, masuklah.”
“Kak kau mandi lama sekali aku sudah selesai menyiapkan makanan untukmu,” ucap Ailin dengan masuk ke dalam kamarnya dan membuka pintu itu lebar-lebar.
Adam berada di dalam kamar Ailin sudah lebih dari satu jam tentu saja bukan ritual mandinya yang lama namun karena dia sibuk mengamati setiap sudut kamar wanita yang sekarang sedang masuk dari pintu utama kamar itu.
Sedangkan Pak Ray dan juga Sani sudah menunggu di meja makan. Mereka sedang berbicara dengan di selingi Senda gurau sambil menunggu kedatangan majikan mereka. Mereka berempat sudah seperti sebuah keluarga walaupun tidak ada hubungannya darah di antara mereka semua.
Meja makan itu biasanya terlihat sedikit makanan karena Sani dan juga Ailin tidak mau memasak terlalu banyak sebab itu akan membuat mereka membuang banyak makanan jika tidak bisa menghabiskan semua makananya. Adam masuk ke dalam dapur dan dia melihat meja makan itu kini penuh dengan makanan ada nasi dan beberapa macam makanan lainya memenuhi meja makan itu bahkan suasana meja makan yang biasanya terlihat sepi kini mulai terlihat ramai karena keberadaan Adam dan juga Pak Ray di sana.
“Kau memasak
__ADS_1
banyak makanan siang hari ini?” tanya Adam dengan melirik ke arah Ailin.
“Kak Adam, apakah kau tau ini semua Ailin yang memasaknya special untukmu. Lihatlah itu tanganya sampai melepuh saat terkena cipratan minyak goreng panas dari wajan
tadi.” Sahabat Ailin menyambar ucapan Adam dengan melirik ke tangan Ailin yang
yang terkena minyak panas tadi saat memasak.
Tangan Ailin terlihat memerah bahkan kulit putihnya kelihatan terbakar, Ailin bahka belum sempat mengobati tangannya yang terluka karena dia memangil Adam setelah semua makanan itu selesai dia masak.
Bagi Ailin sudah hal biasa terkenal cipratan mintak goreng panas saat dia sedang memasak di dapur. Namun sangat berbeda dengan Adam karena pria itu kelihatan cemas saat melihat punggung tangan Ailin berwarna kemerahan.
“Ini tidak sakit, ayo kita makan lebih dulu,” Ailin menimpali ucapan Sani barusan dia
menahan rasa nyeri yang ada di bagian jari dan juga punggung tanganya. Walaupun sudah terbiasa dengan luka bakar itu tapi tetap saja masih terasa nyeri.
“Kalian makanlah lebih dahulu.” Printah pria itu dengan menarik tangan Ailin kemudian berjalan menuju ruang tamu rumah itu.
Meraih kembali tangan Ailin, "Aku mohon bisakah satu kali saja, tolong dengarkan ucapan ku."
Wajah Adam saat ini kelihatan sedang cemas dan wajah memohon juga kelihatan jelas dari raut mukanya saat ini.
Dari dulu sampai sekarang dia selalu saja memperhatikan aku, entah apa yang aku rasakan saat ini kenapa ada perasaan yang tiba\-tiba timbul dalam hatiku bahkan jantungku juga ikut berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Ailin sedang merasa kebingungan dengan apa yang dia rasakan saat ini, ada perasaan yang sangat aneh setiap wanita itu berada di jarak yang sangat dekat dengan Adam entah perasaan apa namun seiring dengan berjalannya waktu perasaan itu semakin hari semakin bertambah besar.
__ADS_1
Ailin mendudukkan tubuhnya di sofa yang berwarna hitam sedangkan Adam segera berjalan menuju nakas yang ada di samping televisi, pria itu sudah paham dengan letak semua barang di dalam rumah itu karena dia sering berkunjung ke rumah ini jadi tak heran jika tanpa bertanya terlebih dahulu. Pria itu sudah mengerti letak P3k di rumah ini.
"Biar aku yang obati," ucap Adam dengan tangannya meraih tangan Ailin yang sedang terluka dan tangan kiri pria itu sedang memegangi salep luka bakar yang tadi sempat dia ambil dari nakas.
"Kak Adam, kau tidak perlu repot biarkan aku sendiri saja yang mengobati luka ini," pinta Ailin dengan wajah tersipu malu bahkan pipi gadis itu juga berubah menjadi merah seperti tomat.
Adam tidak mengubris apa yang di ucapkan oleh Ailin pria itu membuka tutup salep dan menuangkan sedikit salep tersebut di punggung tangan Ailin yang terkenal luka bakar. Dengan penuh perhatian pria itu sesekali meniup pelan luka di tangan Ailin dengan sangat telaten.
"Apakah sakit?" tanya Adam dengan mengangkat wajahnya menatap Ailin.
"Tidak," sahut Ailin dengan wajah tersipu malu dan juga rasa canggung yang sedang dia rasakan saat ini.
Pak Ray dan juga Sani sejak tadi mengintip dari balik pintu ruang tamu. Mereka sedang tersenyum lebar saat melihat keromantisan kedua sahabatnya kini sedang tersaji di hadapan mereka. Namun di sisi lain Pak Ray dan juga Sani juga merasa sedih jika mengingat kenyataan jika kedua sahabatnya hanyalah sebatas teman saja.
Keempat orang itu memang sudah seperti saudara walaupun tidak ada ikatan darah di antara mereka namun persaudaraan malah terjalin sangat erat melebihi saudara kandung sendiri.
"Apakah kalian kurang perkerjaan sampai mengintip seperti itu!" Tandas Radja pada Sani dan juga Pak Ray.
Adam yang baru menyadari jika ada orang yang sedang memperhatikan mereka dari balik pintu yang berada tak jauh dari tempat duduk mereka.
__ADS_1