
Plap, mata Ailin mulai terbuka perlahan, dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Mata Ailin masih terasa berat hingga dia menutup matanya lagi untuk beberapa waktu Ailin mulai membuka matanya untuk yang kedua kalinya, dia merasakan sebelah tangannya ada yang memegangi dan Ailin menatap kearah tangan tersebut. Dia melihat Radja yang masih tertidur pulas di sana. Ailin mulai mengarahkan pandangannya menyapu seisi ruangan tersebut dia melihat sebuah ranjang pasien yang tidak jauh dari tempatnya. Ya itu adalah Lani wanita yang sangat Ailin sayangi, mata Ailin mulai berlinang air mata dia kebingungan bagaimana bisa Bibi nya itu satu ruangan dengan ya.
Apa yang terjadi, Bagaimana mungkin Bi Lani bisa satu ruangan denganku, apakah Radja sudah mengetahui semuanya Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan, aku takut dia menceraikan ku karna aku sudah berbohong dengan ya apa yang harus aku lakukan jika hal itu sampai terjadi dari mana aku mendapatkan uang untuk biaya berobat Bi Lani.
Bermacam pertanyaan yang berterbangan liar didalam pikirannya terus terbayang kasihan sekali wanita itu dia bahkan tak memiliki waktu untuk memikirkan dirinya sendiri, yang ada didalam pikirannya hanyalah bagaimana dia bisa membayar biaya perawatan Lani jika sampai sang suami menceraikannya nanti.
Ailin mulai merasakan berat di bagian kepalanya dia baru saja sadar dari tidur panjangnya, wanita itu sudah memikirkan banyak hal pantas saja jika dia mulai kesakitan.
"Host. . host. . Host. ." Bunyi nafas Ailin yang di beri selang oksigen.
Ailin mulai menarik pelan tangannya yang di pegang oleh Radja, sontak pria itu langsung bangun dari tidur saat merasakan tangannya ada yang menarik. Radja mengarahkan pandangannya pelan ke wajah Ailin. .Mata Radja langsung melotot saat melihat istrinya telah membuka matanya.
__ADS_1
"Sayang kau sudah bangun?" Radja langsung menekan tombol pasien yang ada di samping Ailin. Tak butuh waktu yang lama beberapa dokter datang dan memeriksa kondisi Ailin. Radja menunggu di belakang dokter Jef yang sedang memeriksa kondisi istrinya itu.
Kini pemeriksaan sudah selesai, perawat lebih dulu keluar dari ruangan itu namun Dokter Jef masih ada di samping Ailin.
"Ailin, kau tidak boleh berpikir sesuatu yang berat, lihat ini kau tidak terlihat cantik jika sedang sakit seperti ini." Goda Dokter Jef, dan Ailin tersenyum tipis setelah mendengar candaan itu.
"Apa yang terjadi dokter Jef? Kenapa,"
"Ailin apakah kepalamu masih pusing?" Tanya Dokter ganteng itu sembari menyunggingkan senyumannya.
"Masih sakit Dok," Ucap Ailin sembari meringis kesakitan.
__ADS_1
"Setelah kau minum obat ini, sakit kepalamu akan berangsur berkurang." Ucap Dokter Jef sembari menaruh beberapa macam obat di atas nakas yang tak jauh dari ranjangnya.
Mereka berdua sibuk berbicara antara pasien dan dokter namun mereka tak menyadari ada seorang lelaki yang sedang terbakar api cemburu. Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dari belakang.
Radja menatap Ailin dan dokter Jef bergantian, Rasa cemburu jelas sekali terlihat dari raut wajahnya, lebih lagi saat melihat Ailin mencoba memaksakan senyuman di wajahnya di tengah rasa sakitnya. Radja semakin terbakar api cemburu bahkan kini pria itu mulai tak bisa menguasai emosinya lagi. Rahangnya mulai mengeras rasa cemburu itu mulai merasuk kedalam pembuluh darahnya.
Hahaha! Kau baru merasakan rasa cemburu hanya karna Ailin membalas senyuman pria lain tepat di depan matamu sendiri, bayangkan bagaimana rasa sakitnya hati Ailin saat melihatmu menghabiskan malam pertama bersama wanita lain yang berhati iblis seperti Keren.
"Jika sudah selesai cepatlah pergi !" Ucap Radja sembari mengeser posisi berdiri dokter tersebut yang sangat dekat dengan Ailin.
Dokter ganteng itu sedikit menjauhi Ailin, karna Radja yang mengeser posisinya berdiri dengan kasar. Ailin hanya melihat kedua pria yang sedang berada di hadapannya itu dengan wajah kelihatan kebingungan karna baru kali pertama Ailin melihat sikap Radja yang seperti ini. Atau bisa di bilang pria yang biasanya selalu memarahinya itu saat ini sedang menunjukkan sikap yang kekanak-kanakan sekali.
__ADS_1