
Adam sedang ada didalam mobilnya dengan wajah terlihat tidak tenang, semenjak Radja mengabarinya tentang kondisi Ailin saat ini pria itu langsung memasang wajah panik dan dia yang sedang tidur nyenyak di kamarnya bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Mobil Adam melaju dengan sangat kencang merajai jalanan pada saat itu. Dia sedang menuju kerumah Sani sahabat baik Ailin dan kini rumah itu berhenti tepat di depan gerbang rumah berlantaikan satu yang sangat sederhana namun tertata sangat rapi. Tapi rumah itu terlihat masih sepi, Adam mematikan mesin mobilnya dan dia segera turun dari mobil mewahnya Tersebut.
"Pak apakah Sani ada didalam?" Tanya Adam pada pria paruh baya yang kebetulan sedang lewat didepan pintu rumah Sani.
"Biasanya hari libur nak Sani akan bangun siang. Dia pasti sedang tidur nyenyak di dalam." Sahut pria itu sebelum akhirnya berlalu pergi.
_ _ _ _
Kini Sani sudah mandi dia mengenakan baju alakadarnya karna terburu ingin menemui Ailin sahabat baiknya. Ya Adam menelpon Sani hampir 20 menit dia menunggu didepan rumahnya hingga akhirnya kini Sani bisa berdiri dihadapannya saat ini. Membutuhkan waktu 30 menit untuk Sani bersiap namun Adam sabar menunggunya karna dia tau jika Sani pasti sama khawatirnya dengan dia.
Sani segera menghampiri Adam didalam mobil, setelah Sani masuk kedalam mobil, Adam segera menyalakan mesin mobilnya dan melesat menuju rumah sakit SWAN tempat Ailin dirawat dan di rumah sakit itu juga Lani sedang dirawat beberapa bulan lamanya.
Beberapa saat kemudian mobil Adam sudah memasuki halaman rumah sakit SWAN. Setelah mendapatkan tempat parkir Adam dan Sani bergegas masuk kedalam rumah sakit dengan ekspresi wajah kelihatan panik. Mereka berlari menuju ruangan yang Radja beritahukan melalui pesan WhatsApp.
_ _ _ _
__ADS_1
Radja masih terlihat cemas dengan baju masih berlumuran darah istrinya. Terlihat Sani dan Adam mulai berjalan mendekati Radja denganedang terburu-buru.
"Bagaimana keadaan Ailin?" Tanya Sani dengan nafas tersengal-sengal.
"Dia masih di ruang operasi." Bicara dengan suara sangat lirih sembari mata masih menatap kearah pintu ruangan yang sedari tadi masih juga belum terbuka.
"Bagaimana dengan Keren?" Tanya Adam pada Radja.
"Pak Ray sedang mencarinya." Bicara sembari berjalan mendekati bangku panjang rumah sakit yang ada didepan ruangan Ailin.
Radja menceritakan semua kejadian saat Keren berada di rumahnya sontak Sani merasa emosi dan dia menarik kasar tubuhnya dari bangku panjang tersebut.
Amarahnya sudah tidak bisa lagi dia kontrol saat mengetahui sahabat baiknya pendapat penyiksaan seperti itu dan sampai harus berakhir di rumah sakit seperti sekarang.
Kini Sani sudah berdiri persis dihadapan Radja, "Sejak menikah denganmu Ailin selalu menderita dan sering di tindak oleh banyak wanita di kantor JISET GROUP." Bicara dengan mata berkaca-kaca karna mengingat penderita yang sempat di alami oleh sahabatnya. "Ailin sering menangis didepan ku. Namun dia tak pernah menunjukkan kesedihannya dihadapan orang lain karena dia lebih suka jika terlihat bahagia. Jika bukan karna Bi Lani,"
"Kenapa kau berhenti? Siapa Bi Lani?" Wajah Radja mulai terlihat serius saat melihat Sani menghentikan ucapannya sembari menutup tangannya dengan kedua bibirnya.
__ADS_1
Habis aku! Kenapa aku bisa keceplosan seperti ini Ailin pasti marah padaku jika sampai aku membongkar tentang kenyataan jika dia menikahi Radja agar bisa membayar biaya berobat Bibi nya yang sedang dirawat di rumah sakit ini.
"Kenapa kau diam Sani! Bicara!" Bentar Radja dengan menarik tubuhnya dari kursi sedangkan Sani mundur beberapa langkah kebelakang saat mengetahui sorot mata Radja yang terlihat sedang tidak bersahabat itu. Adam segera memegang tangan Radja dari belakang.
"Jangan seperti itu, kau membuat Sani ketakutan Radja." Ujar Adam menghentikan langkah sahabatnya itu.
Melirik tajam kearah tangan Adam yang memegangi lengannya, "Singkirkan tanganmu!". Sontak Adam segera melepaskan tangannya dari lengan sahabatnya itu dengan perlahan.
Kini Radja sangat percaya jika Ailin menyembunyikan hal besar darinya lebih lagi saat Radja melihat ekspresi wajah Sani saat ini. Wanita itu tak pandai berbohong sama seperti Ailin. Tubuh Sani gemetaran dia tak bisa membocorkan alasan Ailin menikah dengan Radja. Namun didalam hatinya dia sangat ingin mengungkapkan kenyataan tersebut agar Radja tidak terus-menerus salah paham terhadap sahabatnya.
Sorot mata Radja menatap Sani dengan menajamkan alisnya, wajah tampan itu terlihat sangat menakutkan jika sedang marah seperti sekarang bahkan Adam tak bisa menahan Radja jika sedang marah seperti sekarang ini.
Saat Radja hampir mendekati Sani, terlihat dokter yang menangani Ailin mulai keluar dari ruangan tersebut dengan wajah terlihat sedih.
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE YANG BANYAK YA. SERTA TINGALKAN KOMENTAR KALIAN YANG SEMAKIN MEMANCING MOOD SAYA UNTUK MELANJUTKAN EPISODE SELANJUTNYA.
SETELAH BACA JANGAN LUPA BERIKAN KRITIK DAN JUGA SARAN SUPAYA SAYA BISA MEMBUAT NOVEL YANG LEBIH BAGUS LAGI SELAMA KRITIK DAN JUGA SARAN MASIH DALAM BATAS WAJAR DAN SOPAN MAKA SAYA SANGAT MENGAPRESIASI 😊😊
__ADS_1