
Wenda masih kebingungan dengan apa yang putrinya itu coba jelaskan, ''Nak Ailin, apa maksud dari ucapanmu itu. Dan siapa pria yang kau maksud itu.'' Wenda menatap ke arah Radja yang sekarang sedang merasa geram dengan sindiran istrinya itu.
''Dia Ma, siapa lagi!'' Tersenyum kecut dengan melirik ke arah Wenda.
''Kau sangat beruntung Nak, karna bisa membuat Radja memasuki dapur sejak kecil Radja tidak pernah mau masuk ke dalam dapur,'' jelas Wenda dengan mengusap lembut rambut panjang Ailin yang terurai rapi.
''Memangnya kenapa Ma?'' Wanita itu mulai penasaran kenapa suaminya tidak mau masuk ke dalam dapur karna setahu Ailin pria itu bolak-balik keluar masuk dapur sejak menikah dengannya.
''Masalah ini kau tanya saja padanya Nak,'' Bicara dengan menarik bokongnya dari kursi.
Ailin dan Radja ikut manarik tubuhnya dari posisinya berdiri dan mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah di dalam rumah Wenda menyuruh Ailin untuk istirahat di kamar Radja, karna menurut Wenda sudah melihat kondisi putrinya baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup bagi wanita paruh baya itu. Ailin tidak mungkin mengungkapkan akan pertengkarannya semalam di hadapan Wenda.
Wanita paruh baya itu pasti sedih jika tau, Ailin meminta cerai pada Radja dan Ailin tidak sejahat itu sehingga dia bisa melukai hati wanita yang sudah dia angap seperti ibunya sendiri.
__ADS_1
Ailin sudah masuk ke dalam kamar Radja, wanita itu duduk di sofa dengan menatap suaminya yang kini baru sja menutup pintu kamar itu, ''Kenapa kau tidak pernah masuk ke dalam dapur sejak kecil?'' Wajah penasaran kini sedang terlihat dari sorot matanya.
''Tidak usah tau!'' Bicara dengan mendudukkan tubuhnya di ruang kosong samping Ailin.
''Terserah! Tidak mau cerita ya sudah jangan bersikap berlebihan.'' Maki Ailin karna merasa geram dengan sikap dingin suaminya itu, sehingga wanita itu tak bisa berdiam diri begitu lama jika terus di tindas.
Ailin hendak menarik duduknya dari sofa namun Radja segera menarik tangan wanita itu sehingga mau tidak mau Ailin kembali terduduk di sofa. Ailin yang sedang marah segera menarik kasar tangannya dari gengaman suaminya itu. Radja hanya bisa melepaskan tangan itu karna pria itu takut melukai tangan istrinya.
Hingga wanita itu hanya bisa diam dengan berdecak kesal. Kini nafas mereka saling beradu Jantung kedua insan tuhan itu sama-sama berdetak dengan sangat kencang seperti genderang yang mau perang. Kira-kira seperti itu ya jika bisa di umpamakan.
''Aku pernah hampir terbakar waktu masih kecil, dan sejak saat itu aku selalu menghindari dapur. Namun saat menikah denganmu entah mengapa trauma akan kebakaran itu semakin lama semakin samar dari benakku.'' Bicara dengan nada suara sangat lembut di telinga Ailin. Dan hal tersebut semakin membuat Ailin tidak bisa mengendalikan dirinya.
Ada rasa simpati yang mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya bahkan kini tangan wanita itu hendak bergerak membalas pelukan Radja namun segera Ailin urungkan niat tersebut. Ailin masih menganggap Radja tidak mencintainya hal tersebut yang membuat Ailin tidak mau menaruh harapan terlalu banyak pada suaminya itu. Namun besok Ailin akan mengetahui semuanya akan perasaan pria itu padanya saat melihat Keren sudah menerima siksaan selama satu bulan lebih entah bagaimana kondisi wanita itu sekarang.
__ADS_1
''Kenapa kau bisa berubah karna aku?'' Masih berada di pelukan suaminya.
Melepaskan pelan pelukannya, ''Entah mengapa mungkin karna aku mulai men,'' Menghentikan ucapannya saat menyadari apa yang hendak dia ucapkan entah mengapa rasa egois yang kini sedang bertahta dalam hatinya seakan menahan pria itu untuk tidak mengucapkan akan isi hatinya itu. ''Sudahlah kau tidak perlu tau.'' Berdiri dari posisi duduknya.
''Terserah!'' Teriak Ailin dengan nada suara tak kalah juteknya. Ada apa dengannya tiba-tiba marah kadang sangat baik, apakah diam-diam kau itu memiliki penyakit plin plan sejak dulu terserahlah aku tidak mau terus memikirkannya itu tidak baik untuk kesehatan hatiku dan jiwaku.
Dengan berdecak kesal Ailin langsung berdiri dari posisi duduknya dan dia membuka kasar pintu kamar itu sedangkan Radja hanya menatap wanita yang dia cintai menghilang di balik pintu itu. Ailin menuruni anak tangga dengan mulut komat Kamit baca mantra.
Wenda yang ada di bawa tangga rumah itu tersenyum melihat sikap Ailin yang sedang marah dengan menundukkan kepalanya menatap langkah kakinya dengan wajah merah padam.
Namun bibir Ailin seakan bisu setelah melihat Wenda sudah berdiri di bawah tangga dan menatapnya dengan seulas senyuman.
"Bagaimana ini, Mama sudah ada di sana sejak kapan? Semoga saja dia tak mendengarkan apa yang aku ucapkan barusan bisa mati kutu aku jika Mama mendengar ku memaki anaknya" Gumam Ailin dalam hati sembari memaksakan senyuman di wajahnya.
__ADS_1