
Ailin tak menyangka jika Wenda adalah ibu mertuanya yang selama ini selalu dia hindari. Kondisi Lani semakin kritis namun Wenda dan Radja sengaja tidak memberitahunya pada Ailin karna mereka takut jika kondisi Ailin akan memburuk lagi.
1 Minggu kemudian.
Ailin masih di ruang yang sama dengan Lani, kondisi Ailin jauh lebih baik dari sebelumnya bahkan Radja juga menunjukkan perhatian yang tulus pada wanita itu. Walaupun Radja tidak bersikap romantis seperti pasangan yang lainnya namun Radja sudah berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Adam hanya memantau kondisi Ailin dari jauh saja karna Adam tau jika Radja tidak akan membiarkannya mendekati Ailin.
Pagi harinya.
Seorang perawat membawa bubur untuk sarapan Ailin, setelah perawatan itu pergi Ailin langsung mendudukkan tubuhnya karna wanita itu juga sedang lapar rupanya terlihat dari cara dia menelan Saliva nya saat melihat bubur putih itu diatas nakas samping ranjangnya.
"Aku sangat lapar." Ucap Ailin pelan sembari tangannya mulai meraih bubur itu.
"Hentikan!" Ucap Radja dengan berdiri dari sofa kemudian berjalan mendekati Ailin.
__ADS_1
Ailin hanya diam tak berani menatap mata Radja, ternyata wanita itu masih takut Radja ceraikan. Kasihan sekali Ailin karna dia harus mengubur dalam-dalam rasa sedih dan amarahnya di hadapan pria itu. Ya jika berada di hadapan Radja dan Wenda Ailin tidak pernah menunjukkan wajah bersedih hati namun hanya wajah bahagia dan ceria saja yang terpancar dari wajah cantiknya.
"Biar aku suapi!" Bicara dengan wajah datar.
Hei apa yang kau lakukan, mana ada seorang suami yang mau menyuapi istrinya dengan cara ekstrim seperti ini. Jantungku hampir saja berhenti berdetak saat kau berteriak dengan lantang seperti itu. Gerutu Ailin dalam hati.
Haha pantas saja wanita itu masih belum mengerti akan isi hati suaminya, jika di lihat dari cara Radja saat merayu istrinya itu terlihat sangat manis bukan! Atau paling tepatnya kata-kata perintah yang tadi Radja lontarkan saat mau menyuapi Ailin.
"Tapi aku bisa makan sendiri," Mencoba bernegosiasi.
"Ehehe aku mana berani."
Terserah apa yang mau kau bilang, kau mau suapi ya suapi saja jangan menjengkelkan seperti ini dong membuatku takut saja.
__ADS_1
Satu bulan kemudian.
Ailin sudah siap keluar dari rumah sakit itu, bahkan beberapa pelayan Wenda sudah membereskan baju dan barang-barang Ailin, perban di kepala Ailin pun mulai di lepas. Radja dan Wenda menunggu di luar ruangan itu. Selama satu bulan di rumah sakit dokter Jef tak pernah muncul lagi di hadapan Ailin semenjak perbincangan beberapa waktu yang lalu dengan Radja. Sebenarnya Ailin sangat ingin bertanya mengenai dokter Jef yang biasanya selalu merawat Lani setiap harinya namun wanita itu takut jika dia salah bicara jadi dia hanya bisa memendam apa yang ada di dalam pikirannya itu.
Ailin kini sedang berdiri di samping Lani dengan wajah kelihatan sedih. "Bi, aku pulang dulu. Kau cepatlah sembuh dan kita pulang bersama aku akan merawat mu seperti orang tuaku sendiri, kumohon bertahanlah hidup demi aku."
Selesai bicara Ailin langsung keluar dari ruangan itu. Wenda segera menghampirinya saat melihat Ailin sudah berdiri didepan pintu ruangan Lani di rawat. Wenda sangat menyayangi Ailin itu semua terlihat dari cara wanita itu memperlakukan Ailin seperti putrinya sendiri bahkan bisa di bilang Wenda lebih menyayangi Ailin dari pada putranya sendiri.
Ailin masih belum mengetahui tentang kondisi Keren, sebenarnya Ailin sangat dendam pada keren karna wanita itu dia sampai berada di rumah sakit selama satu bulan. Namun lagi-lagi karna takut Radja ceraikan Ailin harus memendam rasa sakit dan kebencian itu dalam hatinya.
Ailin sempat mencintai Radja, namun ketika berkali-kali Radja membelah Keren hak itu membuat Ailin diam-diam membenci pria itu karna tidak pernah mau percaya akan apa yang Ailin ucapkan.
Tanpa Ailin sadari selama ini Radja selalu percaya padanya hanya saja pria itu tidak mau berbicara dengan jujur di hadapan Ailin.
__ADS_1
Ya Radja bukan tipe orang yang romantis karna sebab itu dia tidak pernah bisa menunjukkan rasa cintanya pada Ailin. Ya Radja masih gengsi jika harus mengakui dia telah jatuh cinta pada wanita itu.