Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Merasa Terganggu.


__ADS_3

Ailin masuk ke dalam kantor tersebut, Semua wanita menatap Ailin dengan pandangan sinis. Mereka sangat terganggu dengan kedatangan Ailin tentu saja mereka mengingat jika Ailin telah menjadi asisten Radja dengan cara yang instan. Banyak dari mereka yang mengira jika Ailin menjual dirinya untuk berada di posisi sekarang. Namun para pegawai pria menyapa Ailin dengan penuh perhatian dan senyum terbit di bibir Mereke. Ailin begitu cantik jadi tak heran jika banyak pria yang tergila-gila padanya.


 


Ailin sedang berbicara dengan salah satu pegawai pria kantor itu yang bernama Dani. Semua orang serentak membungkukkan badannya dari posisi mereka berdiri tak termasuk Sani. Ailin dan Dani ikut menatap ke arah pintu masuk perusahaan itu.


"Ailin, cepat membungkuklah CEO sedang melihat ke arah kita!" Perintah Dani dengan menarik tangan Ailin agar ikut membungkukkan badan dengannya.


"Eh, ya ya." Sahut Ailin gugup sembari ikut membungkukkan badannya.


Radja langsung melotot dengan mengepalkan jari-jari tangannya saat melihat Dani menyentuh tangan Ailin. Pak Ray yang berada di belakang Radja mengetahui dengan jelas jika majikanya sedang terbakar api cemburu.


Kau harus belajar lebih sabar Radja, karna hal itu sangat wajar lagi pula Dani tidak mencium Istrimu tapi kau sudah bertingkah seolah-olah wanita itu sedang ketahuan berselingkuh. Bahkan Pak Ray sampai tersenyum getir melihat sikapmu yang masih membeku di depan pintu masuk perusahaan. Bahkan semua pegawai hampir saja merasa sakit pinggang karna membungkuk selama 10 menit.


Radja sudah berjalan melewati Ailin dengan mata melirik ke arah istrinya itu, Ailin masih membungkukkan badannya. Kini mereka semua terlihat lega karna CEO perusahaan itu sudah masuk ke dalam kantornya.


Di luar kantor CEO.


 


"Hei apa yang tadi CEO lakukan? tidak biasanya dia berdiri selama itu di depan pintu masuk?" Tanya Feni pada Intan.


 


"Entahlah aku sendiri kurang tau," sahut intan dengan mengangkat kedua pundaknya.


"Atau mungkin CEO tadi sedang memperhatikan salah satu dari kita? Entahlah aku harus berjuang untuk mendapatkan hatinya." Ujar Feni dengan merapikan rambutnya yang sudah kelihatan rapi.

__ADS_1


"Jangan berani berfikir seperti itu Feni! Jika kau masih ingin berkerja di perusahaan ini." Intan mengingatkan wanita centil itu agar tak bernasib sama dengan orang yang pernah menganggu Ailin.


"Ailin ayo!" Ujar Sani dengan mengandeng tangan Ailin memasuki ruang kerja mereka. Ailin tanpa membantah langsung mengikuti langkah kaki sahabatnya.


Ruang kerja Ailin.


"Saniii! Apa yang sudah kau lakukan pada meja kerjaku?" Ujar Ailin dengan membuang sisah Snack yang berceceran di atas meja kerjanya dengan wajah di tekuk.


"Ayolah kawan! Kau jangan bersikap berlebihan kau kan tingal membuang sisah Snack itu." Sahut Sani dengan entengnya.


"Huff! Dasar kau ini sungguh menjengkelkan sekali." Gerutu Ailin dengan membersihkan kerusuhan di atas mejanya.


"Ailin aku mau keluar mengantar berkas ini pada intan dulu ya," ucap Sani dengan memasang senyum di wajahnya.


Ailin hanya diam namun dia menganggukkan pelan kepalanya. Selang beberapa waktu setelah Sani pergi Adam mengetuk pintu ruangan itu dari luar. Ailin yang sedang sibuk membereskan mejanya tanpa menatap ke arah pintu dia menyuruh orang yang mengetuk pintu tersebut agar masuk.


"Kak Adam, aku kira tadi Sani yang mengetuk pintu." Sahut Ailin dengan menatap Ke arah Adam.


"Perlu bantuan?" Adam menawarkan jasa karna melihat Ailin sibuk membereskan meja.


"Tidak perlu, ini sudah selesai kok Kak."


 


 


Ailin dan Adam berbincang-bincang di dalam ruang kerja Ailin, selang beberapa menit Sani datang dan mereka bertiga sedang mendiskusikan tentang tender yang akan Ailin kerjakan di awal bulan. Karna sang pemilik perusahaan itu sangat misterius dan juga di kenal kejam dan sangat jarang di kota itu ada orang yang melihatnya, jadi Ailin harus berhati-hati dalam menjalankan misinya agar bisa memenangkan hati pemilik perusahaan itu. Selesai mendiskusikan tentang perkerjaan mereka berbincang renyah dengan di selingi canda tawa di sela-sela perbincangan mereka.

__ADS_1


Luar ruangan Ailin.


 


Radja yang kebetulan sedang lewat di depan ruangan kerja Ailin mendengar tawa renyah sahabat baiknya dari ruang kerja istrinya. Refleks Radja segera menghentikan langkahnya dan melihat dari balik kaca yang ada di pintu ruang kerja Ailin.


Semua pegawai saling berhadapan dan menarik ke dua pundak mereka. Mereka sangat heran dengan sikap CEO perusahaan itu hari ini. Namun mereka tidak mau kena sangsi berat karna ingin kepho jadi mereka melanjutkan kerjanya lagi.


"Menjengkelkan sekali melihat Adam bisa sedekat itu dengan istriku!" Gerutu Radja dalam hati dengan kembali melanjutkan jalannya.


 


Malam hari di kamar Radja.


 


Sudah larut malam namun Radja masih belum pulang juga. Ailin merasa sangat mengantuk terlihat dari beberapa kali wanita itu menguap. Ailin mematikan lampu tidurnya dan segera menarik selimutnya sampai ke dada tak butuh waktu lama Ailin segera tertidur pulas.


Satu jam kemudian Radja pulang, dia membuka pelan pintu kamarnya dan menyalakan sakral lampu yang ada di samping pintu. Radja melihat Ailin sedang tidur di bawah selimut. Tanpa membangunkan istrinya Radja segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bergegas tidur di bawah selimut di samping Ailin. Radja melihat wajah cantik Ailin yang sedang tertidur dengan membuka sedikit mulutnya.


 


Radja ingin sekali mencium bibir wanita itu namun dia masih sangat marah jika mengingat kejadian tadi siang. hingga akhirnya Radja segera tidur dan mengurungkan niatnya tadi.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2