Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Kesedihan Part 2.


__ADS_3

Plap!


Perlahan tapi pasti Ailin mulai bangun dari posisi tidurnya. Wanita itu menatap ke arah Wanda yang masih setia menunggunya sedari tadi Wenda tak bergeming menatap ke arah Ailin.  Radja sedang sibuk berbicara dengan orang di dalam telepon entah siapa yang sedang pria itu hubungi. Radja segera mematikan panggilan teleponnya setelah melihat istrinya sudah membuka matanya.


''Sayang, kau sudah sadar?'' Tanya Wenda dengan membantu Ailin mendudukkan tubuhnya di punggung ranjang.


''Ma, apa benar itu? Bi Lani sudah pergi meninggalkan aku?'' Air mata wanita itu jatuh perlahan dari pipinya.


wenda langsung memeluk tubuh yang ada di hadapannya itu, ''Sayang, tabahkan hati mu ini semua sudah kehendak dari tuhan.''


''Apa yang tersisa dariku sekarang, tuhan sudah mengambil kedua orang tuaku sejak aku masih kecil. Dan sejak itu aku di rawat oleh Bi Lani. huhuhu tuhan juga mengambilnya dariku! Bisakah tuhan juga memanggilku agar aku tak merasa sendirian di dunia ini hiks hiks hiks.''


Wanita itu terus meratapi nasibnya hidup memang sedang bersikap tidak adil padanya, wanita itu terus mengalami banyak cobaan dalam hidupnya. Kini tidak ada semangat hidup lagi yang terpancar dari sorot matanya Wenda ikut menitihkan air matanya hati wanita itu sangat sakit melihat putri yang sangat dia cintai sedang terluka seperti ini. Radja berjalan mendekati Ailin, namun langkah kakinya terhenti saat istrinya itu menatapnya dengan pandangan sinis. Seolah Ailin sedang tidak ingin di dekati oleh pria itu kira-kira begitu dari arti tatapan Ailin.


Mencium kening Ailin, ''Sayang, apa kau lupa aku adalah Mama mu.'' Ailin masih diam tanpa menjawab ucapan Wenda.


Rumah sakit Swan.


Ailin sudah berdiri di depan pintu kamar Lani, dengan perlahan Ailin masuk ke dalam ruangan tersebut dia melihat Lani sudah di tutup dengan selimut putih rumah sakit. Semua kenangan masa kecil waktu Lani sedang menyuapi dan selalu memanjakannya bahkan wanita yang sedang terbaring kaku di ranjang pasien itu sering menahan rasa laparnya demi melihat Ailin bisa makan dengan kenyang, ingatan tentang masa lalu itu terus menyayat hatinya.


Ailin sudah melakukan semua yang dia mampu untuk memenuhi kebutuhan Lani selama di rumah sakit namun tuhan berkehendak lain. Mata Ailin kini sudah terlihat bengkak bahkan mata bulat itu kini terlihat sipit, wajahnya polos tanpa makeup bahkan Ailin memakai baju alakadarnya dia tak sempat berganti baju saat ke rumah sakit tak ada yang penting baginya selain bertemu dengan wanita paruh baya yang kini sedang terbujur kaku di hadapannya itu.

__ADS_1


''Hiks hiks hiks, Bi maafkan aku jika aku belum sempat membahagiakanmu namun tuhan sudah lebih dulu memanggilmu.'' Bicara dengan membelai wajah pucat Lani.


Mengusap punggung Ailin pelan, ''Sayang, mungkin tuhan tidak membiarkan Bibimu menderita lebih lama lagi.''


''Ya, Mama memang benar.'' Mengusap pelan air mata yang jatuh di pipinya itu. ''tapi aku tidak memiliki tujuan hidup lagi,'' Memeluk Wenda dengan sangat erat.


Adam mulai masuk ke dalam ruangan tersebut, dia melihat wanita yang sangat dia cintai sedang bersedih hati. Hati Adam juga ikut merasakan rasa sakit yang wanita itu alami, ''Ailin.'' Sapa Adan pelan dengan berjalan mendekati wanita itu yang masih tak bergeming menatap Bibinya itu.


Menatap ke arah Adam dan langsung berhamburan memeluk pria itu, ''Lihatlah kak Adam, Bi Lani pergi, dia. . sudah pergi untuk selamanya.'' Entah mengapa Ailin sangat nyaman dan merasa lebih tenang saat bersama dengan pria itu.


Sejak awal Adam memang selalu bersikap baik pada wanita itu jadi tak heran jika kedatangan Adam mampu membuat wanita itu stabil kondisinya bahkan air mata wanita itu mulai berhenti.


''Lepaskan tanganku, sakit...'' Gerutu Ailin dengan mencoba menarik kasar tangannya dari genggaman kasar suaminya itu. Namun Radja malah menggenggam tangan wanita itu semakin erat seolah takut kehilangan.


''Jangan berani kau dekat dengan Adam lagi! Apa lagi sampai berpelukan seperti ini!'' Maki Radja dengan menajamkan pandangannya.


Wenda sudah mulai geram melihat sikap putranya yang sudah keterlaluan itu menurutnya. Seharusnya Radja sedikit bisa bertoleransi karna keadaan Ailin sekarang sedang tidak stabil namun pria itu tetap saja tidak perduli. Ya Radja sudah di landa rasa cemburu yang semakin membakar akal sehatnya itu.


''Lepaskan!'' Perintah Wenda pada Radja dengan menajamkan pandangannya.


dengan berat hati Radja segera melepaskan pegangan tangannya itu, Ailin kembali menitihkan air matanya. Wenda berjalan dan segera memeluk tubuh Ailin.

__ADS_1


3 jam kemudian.


Pemakaman Lani Sudha selesai di lakukan, Ailin masih terus menangis di busara bibinya itu tanpa henti, air mata itu seolah tiada habisnya dan terus jatuh di kedua pipinya. Lani sudah berusaha membujuk Ailin beberapa kali agar pergi meninggalkan pemakaman itu namun Ailin masih saja duduk dengan memeluk batu nisan Bibinya itu. Radja sudah mencoba membujuknya namun Ailin juga masih tidak mau menggubris ucapan pria itu. Kini rasa benci pada Radja semakin bertambah besar dia sudah merasa pernikahan itu sudah tidak perlu di lanjutkan lagi.


Orang yang membuat Ailin terus melakukan pernikahan palsu itu telah tiada, kini tidak ada gunanya lagi Ailin melanjutkan pernikahan yang sudah salah sejak awal. Ailin memang memiliki perasaan cinta pada suaminya itu namun melihat cara Radja yang selalu menyakiti hatinya hal itu semakin membuat Ailin tidak mau ikut pulang kembali dengannya.


Namun wanita itu tak tega karna melihat Wenda yang sangat mengkhawatirkannya. ''Ma, aku ingin pulang ke rumah ku, boleh ya.'' Bicara dengan nada suara terdengar memelas.


Wenda melihat mata sembab dan wajah pucat putrinya itu membuatnya tidak tega menolak permintaan wanita itu. ''Baiklah Nak,'' Selesai bicara Wenda lansung meninggalkan pemakaman itu.


Kini hanya tinggal Radja, Adam dan Ailin di tengah-tengah pemakaman itu. Cuaca hari itu sedang terik bahkan sengatan matahari semakin membakar ke dua pria yang mencintai satu wanita itu, bahkan terpaan angin seakan terasa panas saat menerpa ketiga orang itu bahkan debu-debu yang ikut terbang saat tertiup angin itu semakin menambah suram wajah ketiga orang itu.


Sani sudah mengetahui akan kabar meninggalnya Bibi Ailin namun apalah daya wanita itu sedang tidak berada di Indonesia  jadi Sani tidak bisa ikut menghadiri pemakaman Lani.


''Ayo kita pulang!'' Ajak Radja dengan melingkarkan tangannya di pundak wanita itu.


''Aku bisa jalan sendiri.'' Ailin menjauhkan tangan Radja dari pundaknya dan berjalan mendahului pria itu masuk ke dalam mobil.


Radja menyiniskan pandangannya ke arah Adam dan berlalu pergi mengikuti langkah kaki Ailin yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. Sedangkan adam hanya bisa melihat punggung wanita yang dia cintai itu mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Selama di dalam mobil Ailin tidak banyak bicara namun wanita itu mencoba untuk mengatur emosinya agar tidak meledak di hadapan Pak Ray. Radja diam-diam masih memperhatikannya, Ailin terus menatap keluar jendela wanita itu sangat pintar dalam menyembunyikan emosinya.

__ADS_1


__ADS_2