
Semua orang yang ada di Lobby menatap ke arah Wenda dan juga Reva yang saling berpelukan. Wenda di kenal dengan ketegasannya yang bahkan bisa di kategorikan kejam dalam memberikan pelajaran pada para perkerjanya namun jika di hadapan Ailin hal tersebut justru tidak pernah terlihat. Ailin bahkan tidak mengerti jika Wenda adalah seorang Nyonya besar yang kejam dan tidak tau ampun jika sedang menghadapi musuhnya.
Semua karyawan kantor itu masih sibuk dengan perkerjaan mereka masing-masing dengan mata sesekali melirik ke arah ke duanya. Kantor itu sepi seketika saat Wenda mulai masuk ke lobby, riuh piuh parah perkerja yang tadinya sedang sibuk berbicara sekejap langsung berubah hening karna empuhnya peruasahaan telah datang.
"Lihat itu mungkin saja Nona Reva adalah kekasih Pak Radja. Selama berkerja di sini aku tidak pernah melihat Nyonya besar sampai bicara dengan seakrab itu dengan seseorang bahkan dia biasanya selalu memasang wajah datar dan angkuh jika sedang berkunjung ke perusahaan." Sahut para perkerja Radja gibah Online dari ponsel mereka masing-masing.
"Mama, kau datang ke sini? Ada masalah apa sampai Mama sepertinya sedang terburu-buru?" Tanya Reva dengan melepaskan pelukannya.
"Tadi Pak Ray menelepon Mama bilang jika Nak AIlin tadi pingsan.'' Jawab Wenda dengan wajah kelihatan khawatir.
"Siall wanita jalangg itu bahkan sekarang merebut hati Mama Wenda." Gumam Reva dalam hati dengan mengegam jemarinya. "Oh. . dia sudah selesai di periksa oleh dokter Ma." Jelas Reva dengan tersenyum manis mencoba menyembunyikan kebencian yang ada di dalam dirinya.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu." Wenda bicara dengan bernafas lega. "lalu dokter bilang apa?" imbuh Wenda yang mulai penasaran.
__ADS_1
"Ailin hamil 2 minggu, itu yang dokter bilang." Jelas Reva dengan menelan Saliva nya yang terasa getir setelah mengucapkan akan bencana yang membuat hatinya terbakar.
Wenda sangat bahagia setelah mendengar penjelasan dari Reva. Setelah Reva berpamitan dengannya untuk pulang, Wenda berjalan menuju eskalator dengan langkah kaki terburu-buru dia sudah tidak sabar untuk melihat calon menantunya itu. Setelah tiba di depan ruangan Radja, Wenda segera memutar gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ailin dan Radja sedang berbincang- bincang sejak tadi Ailin mau melanjutkan perkerjaannya namun Radja melarang istrinya untuk berkerja karna janin yang ada di dalam kandungannya masih dalam kondisi yang sangat rentan akan keguguran. Ailin merengek dan terus memohon agar suaminya mengijinkan dirinya untuk lanjut bererja namun Radja masih juga tidak mengijinkan istrinya untuk meninggalkan ruangannya.
Hingga Wenda masuk ke dalam ruangan tersebut. dia langsung memeluk tubuh Ailin yang sedang duduk dengan menyandarkan punggungnya di ranjang. Wenda bahkan mengecup ke dua pipi menatunya itu karna penantinanya selama ini telah terwujud bahkan Wenda sampai terdiam beberapa saat dengan mengusap perut Ailin yang masih datar. Wenda sudah tidak sabar dengan perkembangan Ailin namun beberapa saat kemudian Ailin mulai merasa perutnya seperti di aduk-aduk dia bangun dari ranjang dan dengan sempoyongan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.
Radja dengan sigap segera memapah istrinya masuk ke dalam kamar mandi, Ailin mengarah menuju wastafel dan tanpa sungkan dia langsung memuntahkan isi di dalam perutnya Radja masih berdiri di belakang istrinya dengan memijat pelan punggung leher wanita itu. Namun yang tak di sangka-sangka Radja malah ikut merasa mual karna melihat Ailin muntah di hadapanya padahal Radja sudah tidak melihat ke arah dalam wastafel itu tapi tetap saja perutnya seakan juga ikut di aduk-aduk. Ailin melirik ke arah pria tersebut yang mulai berkeringat dingin bahkan tangan Radja juga sampai terasa dingin karna menahan rasa mual di perutnya.
"Hei, keluarlah sana aku masih ingin di sini," Ujar Ailin dengan melirik ke arah Radja yang terlihat menyeka pelan keringat di jidatnya.
"Aku tidak mau kita muntah bersama nanti!" Ejek Ailin dengan menarik salah satu senyumanya. Ailin masih memperhatikan suaminya padahal dia sendiri masih merasa sangat mual.
Dari luar Wenda mendengarkan perdebatan keduanya dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi mengantikan Radja untuk menjaga AIlin, Radja menuruti keinginan Wenda dengan berat hati. Sebenarnya Radja sangat ingin menemani istrinya di saat kondisi seperti ini namun apalah daya dia memang tidak terbiasa dengan hal seperti itu bahkan Radja pernah sakit panas semalaman karna teman satu kelasnya, muntah tepat di sepatunya. Radja yang waktu itu masih kecil langsung ikut muntah dan sampai sakit selama dua hari.
__ADS_1
Radja sudah terbiasa dengan lingkungan yang bersih sehingga dia sangat membenci sesuatu yang kelihatan kumuh dan juga tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Itu karna sejak kecil Radja telah menjadi anak kolong merat jadi dia tak pernah hidup susah ataupun menjamah tempat yang terbilang kotor ataupun bisa di bilang kumuh. Bahkan waktu di rumah Ailin saja Radja sampai merinding bukan main padahal dengan jelas rumah Ailin walaupun kecil tapi juga sangat bersih dan juga sederhana.
_ _ _ _
Di luar kantor Radja.
"Hei apakah kalian tau, Aku tadi tak sengaja dengar jika Ailin sedang hamil. Itu pasti anak haram dia dengan banyak pria di luar sana." Ucap Intan pada teman kantor AIlin.
"Benarkah, wah dia benar-benar tidak tau malu dia bahkan mencari perhatian pada presdir. Aku sangat yakin jika Nyonya besar datang kemari karna masalah tersebut." Sahut teman lainnya dengan sangat antusias untuk bergosip.
"Pasti sebentar lagi wanita ****** itu akan segera di depak dari kantor ini kita lihat saja nanti." Sahut Intan dengan wajah berapi-api.
Ketika mereka sedang asyik gibah Pak Ray melirik ke arah mereka dari eskalator. Sontak mereka semua langsung kabur dan kembali melanjutkan perkerjaan mereka masing-masing. Dengan melihat sorot mata Pak Ray itu sudah membuat meraka merinding seolah-olah sedang ada makluk tak kasat mata yang sedang menguntit mereka yang sedang bergibah. Pak Ray sangat ramah dan murah senyum tapi jika sedang marah dia akan berubah menjadi malaikan pencabut nyawa dan karna sebab itulah para pegawai itu lebih memilih aman dari pada harus terkena ceramah Pak Ray yang bisa membuat mereka berubah menjadi gelandangan dengan sekejap mata.
__ADS_1
Pak Ray menarik salah satu senyumnya setelah melihat para wanita itu kocar kacir kabur menyelamatkan diri dari amukannya. Pak Ray sedang merasa bahagia karna mendengarkan jika majikanya akan memiliki seorang bayi jadi dia dengan sengaja membiarkan semua orang lolos kali ini.
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KHAIRIN YANG BERJUDUL. "MARRIED WITH MY ENEMY."