Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Menjaga.


__ADS_3

''Ailin cepatlah sembuh, jika ada keluhan silahkan panggil aku.'' Ailin menganggukkan pelan kepalanya menandakan jika dia akan melakukan apa yang pria itu katakan.


Radja menatap sinis ke arah pria itu dengan pandangan hendak menerkamnya. dokter Jef segera pergi karna pria itu tau jika dia sedang tidak aman jika terus berada di hadapan pria yang sedang cemburu buta itu. Kini di dalam ruangan itu hanya ada Ailin dan Radja, ya ini masih larut malam dan Radja tak ingin memberitahukan kabar baik ini pada Wenda karna dia tak ingin mengganggu tidur lelap ibundanya itu.


''Sayang, ayo minum obatnya,'' Ucap Radja sembari tangannya mulai meraih obat yang ada di atas nakas. Tanpa perlawanan Ailin langsung menuruti ucapan pria itu.


Radja membantunya meminum obat bahkan kini mereka berdua kelihatan sangat romantis, Radja mulai menunjukkan rasa cintanya pada wanita itu, namun Ailin masih belum menyadari akan hal itu karna pikiran Ailin masih penuh dengan bayangan tentang wanita yang kini sedang koma di ranjang yang tak jauh dari tempatnya itu.


''Bagaimana kamu tau mengenai, Bibi Lani?''


''Mama yang memberitahukannya padaku!'' Sahut Radja sembari menarik kursi yang sempat dia duduki tadi untuk bisa dekat dengan Ailin.


Ailin mulai kebingungan karna wanita itu masih belum mengerti apa yang suaminya itu ucapkan, ''Maaf sebelumnya, aku tidak mengenal siapa Mama mertua, kan kau sendiri yang tidak memperbolehkanku untuk bertemu dengannya.''

__ADS_1


''Sudah jangan banyak bicara cepatlah tidur,'' Ucap Radja sembari beranjak dari tempatnya berdiri dan mengecup pelan kening Ailin.


Ailin yang sudah terkena efek obat mulai merasakan matanya semakin berat, Tak lama kemudian wanita itu mulai tertidur. Radja mulai menyunggingkan senyumannya karna Ailin sudah lewat dari fase kritis.


Namun jari-jari tangan tangan Radja mulai terlihat mengepal dengan sangatlah kuat karna mengingat akan senyuman istrinya pada dokter Jef.


Radja segera keluar dari ruangan pasien, di luar Pak Ray sedang menunggunya dengan empat pengawal yang sedari tadi berjaga di depan pintu ruangan itu. Pak Ray dan ke empat pengawal itu segera membungkukkan badannya saat mengetahui jika Radja sudah berada di hadapan mereka.


''Ya Tuan,'' Ucap Pak Ray sembari menundukkan pandangannya.


''Cepat panggil dokter yang bernama Jefrin itu!'' Perintah Radja sembari menatap wajah asistennya itu.


''Baik Tuan.'' Sahut Pak Ray sembari mulai beranjak pergi menjalankan titah Radja.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Pak Ray datang bersama dengan dokter Jef.  Rasa takut jelas terlihat dari mimik muka dokter itu, ya siapa yang berani mencari masalah dengan Radja tak terkecuali dokter tersebut.


''Tuan muda, ini dia dokter Jef.'' Setelah bicara Pak Ray segera pergi dari hadapan majikannya itu saat melihat isyarat tangan Radja.


Radja masih di posisinya duduk di kursi panjang rumah sakit itu dengan menaruh tangannya di perut, wajah pria itu sedang tidak menunjukkan persahabatan bahkan sorot maja Radja kelihatan sangat menakutkan.


''Ada hubungan apa antara kau dengan istriku, jawab!'' Teriak Radja dengan rahang mulai mengeras.


''Saya dan Ailin saling mengenal saat pertama kali nyonya Lani di rawat di rumah sakit ini Tuan,'' Jawab dokter Jef dengan menundukkan pandangannya karna pria itu tak berani menatap mata Radja saat bicara.


''Lalu kenapa tadi kalian bicara dengan sangat akrab seperti itu?'' Pertanyaan konyol mulai terlontar juga dari bibir manis pria itu.


Pak Ray yang tadinya sedang menundukkan kepalannya langsung kaget dan menatap ke arah Radja dengan wajah terheran-heran. Pantas saja Asisten itu sangat kaget karna baru kali pertama dia melihat Radja bertanya secara detail seperti itu mengenai seorang wanita.

__ADS_1


__ADS_2