
Ailin sedang duduk di ruang tamu, Dia sedang membersihkan luka di tangan Wenda dengan sangat hati-hati, Ailin merawat Wenda seperti ibu kandungnya sendiri Radja terus memperhatikan wanita itu tanpa bergeming sedikit pun. Ailin sangat malu dan merasa canggung dengan tatapan Radja pada dirinya namun wanita itu masih bersikap biasa saja karna dia sibuk membalut tangan Wenda dengan perban.
''Ma, jika aku terlalu kasar mengobati luka di tangan anda, maka jangan pernah sungkan untuk bilang.'' Ujar Ailin dengan mengikat perban di tangan Wenda.
''Kau sudah merawat Mama dengan penuh kasih sayang, jadi sakit sedikit itu tidak masalah karna tidak sebanding dengan perhatian yang kau berikan, Ailin sayang.'' Ucap Wenda dengan senyum terbit di wajahnya.
''Syukurlah kalau begitu,'' Tersenyum lembut pada Wenda. ''Ma, tadi maafkan aku karna mungkin sikapku terlalu berlebihan pada Keren. Aku masih bisa terima jika ada yang melukaiku namun aku lepak kendali saat melihat tangan Mama Wenda bercucuran darah seperti tadi.''
Ailin bicara dengan menundukkan kepalanya, dia sangat menyesal karna bisa bersikap sangat kejam seperti itu pada wanita lain. Bahkan kini rasa takut semakin menjalar ke seluruh tubuh Ailin. Wanita itu takut jika Wenda merasa terganggu dengan sikapnya tadi dan menyuruh pengawal membunuh Keren pasti para pengawal itu sudah melakukan tugasnya.
Di kita itu tak ada satu orang pun yang berani melawan perintah Radja bahkan banyak para dewan dan juga kepolisian yang ada di bawah kekuasaannya, bahkan orang tua Keren saja tidak mencari putrinya itu semua bukan tanpa alasan karna Radja membeli nyawa wanita itu dengan harga yang sangat mahal sehingga keluarga Keren hanya bisa pasrah dengan imbalan yang begitu besar. Orang kaya memang bisa melakukan apa pun demi uang dan ini sangat mengerikan menurut Ailin.
''Sayang, aku malah sangat bahagia karna kau bersikap dengan tegas pada wanita itu, kau juga sangat mengkhawatirkan Mama. Aku benar-benar sangat beruntung karna bisa memilki menantu dan juga putri sepertimu.'' Wenda mengangkat pelan dagu Ailin dan mengecup lembut keningnya itu.
__ADS_1
''Aku juga sangat beruntung karna bisa memiliki ibu mertua yang sangat menyayangiku. Bahkan sejak saya bertemu dengan anda, saya tidak pernah lagi merasakan sendirian lagi di dunia ini.'' Ailin memeluk tubuh Wenda dan wanita itu juga membalas pelukan Ailin.
Radja sangat bahagia karna dia bisa menikah dengan wanita sebaik Ailin, Ruang tamu yang berdindingkan kayu dan juga berlantaikan kayu itu terasa sangat sejuk di pandang sangat berbeda dengan daerah kota. Ya rumah di tengah hutan itu terlihat sederhana namun perabotannya sangatlah lengkap bahkan ada pemanas ruang yang terbuat dari api unggun di tengah-tengah ruang tamu itu. sungguh sangat damai dan jauh dari kata mewah namun. Ruangan itu di jaga oleh para pengawal di setiap sudutnya dan para pengawal itu berdiri seperti manekin yang di pajang di sudut toko mereka memasang wajah datar dengan berdiri tegak bahkan jika di lihat sekilas memang seperti manekin sungguhan.
Wenda mengetahui jika Radja dan Ailin masih ada kesalah pahaman yang perlu di luruskan dan Wenda menyuruh Ailin beristirahat di kamar Radja awalnya wanita itu menolah, AIlin berdalih mau menemani Wenda tidur namun Wenda dengan tegas menolak permintaan Ailin sehingga mau tidak mau Ailin hanya bisa memasang senyum di wajahnya dan masuk ke dalam kamar Radja yang ada di lantai bawah. Sedangkan Wenda menuju lantai atas.
Malam Hari.
Setelah masuk ke dalam kamar Ailin langsung menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut, tubuh wanita itu terasa lengket setelah perjalanan panjang tadi lebih lagi terakhir mandi Ailin pagi tadi. Ailin sudah polos tanpa satu helai benang pun yang menutupi tubuh putihnya itu. Ailin sedang berdiri di depan cermin wanita itu mencoba memutar kembali kejadian tadi yang dia alami.
''Sayang, apa kau baik-baik saja?'' Tanya Radja dari depan pintu kamar mandi.
''Ya, aku baik-baik saja.'' Sahut Ailin dengan menyambar handuk yang tergantung di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ailin membuka pintu kamar mandi perlahan dia melihat Radja masih berdiri di sana dengan menatapnya. Tanpa bicara pria itu langsung memeluk tubuh Ailin dengan erat sampai Ailin kaget dengan sikap spontan suaminya itu.
''Hei, ada apa denganmu?'' Tanya Ailin khawatir.
''Aku takut terjadi sesuatu padamu! Kau di dalam sudah hampir satu jam.'' Bicara dengan melepaskan pelukannya pada Ailin.
''Di luar para pengawal mu bahkan berjaga di setiap sudut ruangan ini bagaimana mungkin ada orang yang berani berniat mencelakaiku.''
''Kau benar!'' Jawab Radja. ''bagaimana mungkin aku bisa lupa,'' gumam Radja dalam hati.
''Aku tidak bawa piyama tidur,'' ujar Ailin.
''Di dalam almari ada piyama untukmu.'' Ucap Radja sembari melirik ke arah almari yang ada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
Pak Ray sangat teliti sehingga dia sudah menyiapkan kebutuhan Wenda dan Ailin beberapa hari yang lalu. Ailin segera berjalan menuju Almari dengan handuk yang masih terlilit di tubuhnya itu, Radja masih tak bergeming menatapnya. Ketika Ailin hendak berganti baju di dalam kamar mandi, pria itu mencegahnya dan menyuruh AIlin berganti baju di dalam kamar saja toh pria itu juga sudah melihat setiap inci tubuhnya begitu kira-kira yang ada di dalam pikiran Radja.