Pernikahan Kontrak Ailin

Pernikahan Kontrak Ailin
Kepergok Gibah.


__ADS_3

Adam berjalan menuju ruang kerja Sani, semua pegawai kantor itu menatap Adam dengan wajah kebingungan karna tidak biasanya pria itu menuju ruang kerja Sani, bahkan semua pegawai mulai berkerumun di sudut ruangan itu mereka semua sudah mulai siap bergosip. Adam membuka pintu ruangan Sani dan dia melihat wanita itu sedang sibuk dengan perkerjaannya bahkan wanita itu sampai tidak menyadari jika Adam sudah berada di ruang kerjanya. Maklumlah wanita itu sangat sibuk karna sejak Ailin tidak masuk kerja dialah yang menggantikan posisi Ailin sebagai desainer.


''Sani,'' Panggil Adam sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kosong samping wanita itu.


''Iya.'' Ucap wanita itu gelagapan dengan menatap ke asal suara yang berasa di sampingnya itu. ''Pak Adam kenapa datang ke sini? Dan maafkan saya karna saya kira yang memanggil saya tadi itu adalah anda.'' wanita itu berdiri dari posisi duduknya dan membungkukkan badannya di hadapan Adam sebagai ucapan maaf.


''Sudah duduklah jangan terlalu formal seperti itu, kau adalah sahabat Ailin jadi jika kita sedang berdua sebaiknya kamu panggil saya dengan sebutan Kak Adam saja,'' Pinta pria itu dengan senyum terbit di bibirnya.


''Tapi,''


''Tidak ada kata tapi! Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan yang sama dengan Ailin.'' Adam menyambar ucapan wanita itu.


''Ada masalah apa sampai Pak, eh Kak Adam datang ke sini?'' Kembali mendudukkan tubuhnya di kursi yang tadi sempat dia duduki.

__ADS_1


''Ailin tadi menghubungimu tapi dia bilang kau tidak mengangkat panggilan telpon darinya?'' setelah mendengar ucapan Adam, Sani langsung menyambar tas jinjingnya dan dia meraih ponsel yang ada di dalam sana.


Sani melihat memang ada banyak panggilan telpon masuk dari sahabatnya itu, ''Maaf aku tadi lupa membunyikan dering telpon karna aku sedang sangat sibuk hari ini.'' Bicara dengan wajah menunjukkan penyesalan.


''Tidak masalah, Ailin mengajakmu makan siang di restoran dekat kantor ini. Apa kau bisa?''


''Ya, tentu saja! Apakah Kak Adam akan ikut juga bersamaku?''


''Ya! Berangkat menggunakan mobilku saja!'' Tanpa menjawab Sani hanya bisa menganggukkan kepalannya saja.


Luar ruangan Sani.


Para wanita itu sampai bergantian mengintip ke dalam ruang kerja Sani, bahkan tak jarang dari mereka sampai mengumpat karna merasa iri akan kedekatan Adam dengan Sani. ''Hei lihatlah itu setelah jalangg Ailin sakit ganti sahabatnya Sani yang sekarang menggoda Pak Adam. Mereka berdua benar-benar tidak tau mau dan tidak punya harga diri karna kerjaan mereka hanya mengganggu para presdir. Dan aku juga sangat bersyukur saat mengetahui jika Ailin sempat sekarat.'' Sahut para wanita itu bersahut-sahutan bahkan mereka bicara dengan penuh kebencian yang sangat dalam.

__ADS_1


Para wanita itu tidak bisa berpikir dengan jernih lagi saat mengetahui akan hal tersebut mereka memaki, dan bicara dengan sangat kasar seperti wanita yang tidak memiliki pendidikan saja. Namun itu adalah kenyataannya tidak yang tua ataupun yang muda mereka semua bergosip dengan mata menatap ke dalam kantor Sani. para wanita itu sudah lama mengincar presdir mereka namun malah Sani dan Ailin yang bisa bicara sangat akrab seperti itu pada Adam. Pantaslah mereka sangat murka saat mengetahui Adam memasuki ruang kerja Sani. Mereka tak bisa mendengarkan apa yang Adam dan Sani bicarakan namun mereka sudah begitu heboh sepeti ada sesuatu hal yang di curi dari mereka. Bahkan mereka tak memikirkan apa akhibat dari ucapan mereka itu jika sampai di dengar oleh Pak Ray.


''Anda akan sering datang ke kantor ini jika sudah resmi menjalankan bisnis dengan kami.'' Bicara dengan melirik ke arah kerumunan para wanita itu.


''Tentu saja saya akan dengan senang hati.'' Bicara dengan menjawab tangan Pak Ray dan kemudian tamu itu segera melangkah pergi.


Pak Ray berjalan mendekati para wanita yang sedang fokus mengintip ke dalam ruang Sani dengan bibir tak berhenti mengoceh seenak jidat mereka, mereka belum mengetahui jika Pak Ray datang dari alah belakang dengan tubuh di selimuti api. Ya jika dilihat dari rahang pria itu yang mulai mengeras sangat menujukan jika para wanita itu sedang dalam ancaman besar.


''Mau di pecat!''


Seolah bagaikan ada suara petir yang langsung menendang di gendang telinga mereka, Wajah pucat Pasih kini sedang terlihat dari raut muka para wanita penggosip itu tubuh mereka bergetar dengan wajah langsung tertunduk saat mendengar suara yang sangat tidak asing di telinga mereka.


Mereka langsung mengarahkan pandangannya ke asal suara itu namun masih dengan wajah yang tertunduk, tak ada satu orang pun dari mereka yang berani mengangkat wajahnya.

__ADS_1


''Kenapa diam! Jika satu kali lagi saya melihat kalian bertingkah memalukan seperti ini maka aku tidak segan-segan akan memecat kalian semua!'' Bicara dengan pandangan menyapu para wanita itu satu persatu. ''pergi!''


Tanpa mengangkat wajahnya para wanita itu langsung pergi dari hadapan Pak Ray.


__ADS_2