
Sudah seminggu berlalu sejak pembicaraan dengan Kendra dan kegiatan PAS di sekolah pun sudah berakhir. Jonathan tidak terusik dengan ucapan sahabatnya itu bahkan di rumah ia tidak peduli dengan kondisi Gabriela yang tidur di kamar Jenny dengan alasan ingin konsentrasi belajar selama PAS.
Sekali-sekali Maya masih mengirimkan pesan pada Jonathan namun tidak pernah menelepon dengan alasan sedang menemani mommy-nya ke Singapura sekalian mengurus pekerjaan di sana.
“Gaby sudah balik tidur sekamar sama kamu kan, Nathan ?” tanya Mama saat sarapan pagi dan seperti biasa tanpa Gabriela.
“Sudah, Ma,” jawab Jonathan berbohong.
Sejujurnya Jonathan tidak peduli seandainya Gabriela ingin selamanya tidur di kamar Jenny. Malah lebih baik begitu supaya ia tidak terganggu saat melihat gadis SMA itu tidur di lantai hanya beralaskan karpet dan bed cover.
“Mama perhatikan Gaby lebih pendiam belakangan ini. Apa ada masalah di sekolah ?”
“Mungkin karena seminggu kemarin sedang menghadapi PAS, Ma. Dan minggu ini dia sibuk mempersiapkan malam pelepasan kelas 12 sebagai pengisi acara.”
“Kamu sendiri bagaimana, Nathan ? Sudah mulai bisa menerima Gaby sebagai istrimu ?”
“Ma, tolong jangan bahas masalah ini di waktu sarapan begini, aku nggak mau berdebat sama Mama dan akhirnya membuat hariku jadi jelek.”
Mama hanya menarik nafas dan tersenyum tipis.
“Aku berangkat ke sekolah dulu, Ma.”
***
“Kalau ada masalah jangan suka dipendam sendiri. Apa gue udah bukan sahabat elo lagi sampai ogah cerita ke gue ?” tanya Mimi saat keduanya sedang duduk di pinggir aula besar.
Gladi bersih malam pelepasan kelas 12 sudah dimulai sejak jam 8 pagi. Acara yang akan digelar besok mulai jam 4 sore melibatkan sebagian anak kelas 10 dan 11. Gabriela mengisi acara tari tradisional sedangkan Mimi menjadi tim modern dance.
“Nanti otak mesum elo malah jalan-jalan,” cibir Gabriela sambil tertawa.
“Jadi kalian udah MP ?” pekikan Mimi membuat Gabriela melotot dan langsung membungkam mulut sahabatnya.
Beberapa siswa dan guru sempat menoleh termasuk Jonathan yang berdiri tidak jauh dari tempat keduanya duduk.
“Dasar mulut toa, otak mesum !” omel Gabriela dengan wajah kesal,
“Maaf, Gab.. Maaf,” Mimi hanya nyengir kuda. “Begitu elo bilang mesum, otak gue langsung korslet ke MP.”
“Nggak ada MP, malah udah seminggu ini gue tidur di kamar Kak Jenny,” lirih Gabriela. “Pak Nathan lagi CLBK sama mantannya di belakang gue.”
“Fixed elo udah jatuh cinta sama Pak Nathan !”
Gabriela kembali melotot karena volume suara Mimi kembali bertambah meski tidak sekeras tadi.
“Malas banget deh ngomong sama toa kayak elo.” gerutu Gabriela yang langsung berdiri dan merapikan rok abu-abunya.
__ADS_1
“Eh jangan kabur, dong ! Apa elo mau lari ke pelukan pak suami ?” ledek Mimi sambil terkekeh.
Gabriela mencibir dan berjalan ke arah panggung dengan jalan memutar. Sejak tahu Jonathan berbohong soal Maya dan tidak ada penjelasan apapun soal masalah itu, Gabriela mulai menjaga jarak dan mengurangi kontak fisik dengan Jonathan bahkan ia benar-benar berharap kalau guru matematika itu tidak akan mengajarnya lagi di kelas 12 nanti.
Jonathan melirik istri rahasianya yang berjalan menjauh, padahal pintu masuk panggung ada di sisi tempat Jonathan berdiri. Ia sadar kalau Gabriela sedang menghindarinya tapi hatinya biasa saja, tidak ada perasaan bersalah atau ingin bertanya tentang alasannya.
Hingga acara gladi bersih berakhir, keduanya tidak berkomunikasi sama sekali bahkan Jonathan malah sibuk berbincang dengan para siswi kelas 12 termasuk Jihan yang berusaha membuat Gabriela cemburu.
Sayangnya sikap Gabriela seolah tidak terpancing. Sejak pernikahannya dengan Jonathan, Gabriela belum pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah Papi Hendri dan jarang bertegur sapa dengan kakak tirinya itu di sekolah.
“Gaby !”
Bukannya berhenti mendengar seseorang memanggilnya, Gabriela malah mempercepat langkahnya hingga membuat Mimi bingung karena wajah sahabatnya terlihat ketakutan. Langkah Gabriela pun bukan ke tempat parkiran motor malah ke arah gerbang sekolah.
“Gaby !” Mario yang berhasil mengejar langsung menahan lengan Gabriela.
“Lepas !” pekik Gabriela dengan cukup keras membuat Mimi dan beberapa siswa yang ada di dekat situ temasuk 2 teman Mario terkejut.
“Aku mau ngomong sebentar, 10 menit.”
“Nggak ! Nggak ada yang perlu diomongin lagi. Lepasin nggak !” Gabriela berusaha melepaskan cengkraman Mario dengan satu tangannya yang bebas namun Mario malah memegang kedua tangan Gabriela.
“Aku mau minta maaf dan ingin bicara baik-baik denganmu. Tolong beri aku kesempatan, Gab.”
“Tolong lepasin gue Mario, please.”
Wajah Gabriela terlihat memelas dan ia sempat melirik Mimi untuk minta bantuan tapi kedua teman Mario melarang Mimi mendekat.
“Mario !” pekikan Jihan tidak membuat Mario melepaskan cengkeramannya pada Gabriela.
Jonathan dan 2 orang guru tidak jadi langsung balik ke gedung SMA namun juga tidak mendekati ketiga orang yang sedang berseteru,
“Biasa masalah asmara,” ujar Pak Anjasmoro memberitahu Jonathan yang tampak bingung.
“Jadi kalian berdua masih lanjut berselingkuh ?” Jihan sengaja mengeraskan ucapannya. “Apa elo nggak tahu kalau dia….”
Jihan menoleh ke arah Jonathan yang sedang menatap ke arah mereka bersama 2 guru lain. Kedua tangan Jihan mengepal di samping tubuhnya. Kalau saja tidak terhalang oleh perintah Papi untuk tidak mengganggu Gabriela atau hidup mereka akan berakhir di jalanan, rasanya Jihan ingin membuka fakta tentang pernikahan adik tirinya itu dengan guru matematika di sekolah mereka,
Jihan masih menaruh dendam pada Gabriela yang selalu unggul darinya. Bukan hanya soal kekayaan yang didapat Gabriela dari warisan mami Anna, tapi juga masalah pria, Gabriela sudah berhasil merebut hati Mario, kekasih Jihan.
Gabriela sendiri tidak pernah mencari perhatian Mario dan tidak peduli dengan hubungan asmara kakak tirinya itu, tapi Mario yang sempat menjadi kekasih Jihan sejak kelas 11 dan baru putus sebulan yang lalu, tidak bisa membohongi Jihan kalau hatinya lebih suka pada Gabriela.
Gabriela masih berusaha melepaskan tangan Mario dengan wajah menunduk untuk menahan air mata yan sejak tadi ingin menerobos keluar. Rasa takut dan traumanya terhadap Jihan dan Mario membuatnya hanya bisa menangis.
__ADS_1
“Kenapa dengan Gaby ?” tanya Mario dengan tatapan dingin menatap Jihan.
“Dia sudah punya calon suami dan Papi sudah minta supaya gue menjaganya dari cowok brengsek kayak elo !”
“Baru calon suami kan ? Jadi gue masih punya kesempatan untuk memastikan sama bokap lo kalau gue akan menjaganya lebih baik dari siapapun juga.”
“Yakin lo ?” Jihan tersenyum sinis. “Lupa sama perbuatan elo berapa bulan yang lalu ?”
“Elo dan Gaby sama-sama tahu kenapa gue sampai berani sekasar itu,” sahut Mario sambil tersenyum angkuh menatap Jihan.
“Tolong lepasin gue, Mario,” lirih Gabriela dengan air mata yang mulai mengalir.
“Gab, gue mau minta waktu untuk minta maaf sekaligus ngomong baik-baik sama elo. Kejadian waktu itu nggak akan terulang lagi. Please, kasih gue kesempatan 10 menit aja.”
Gabriela mendongak dan menatap ke arah Jonathan yang tetap berdiri di dekat aula sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Hatinya terasa perih saat melihat tatapan datar dari pria yang berstatus suaminya itu. Tidak ada rasa cemas melihat istrinya diperlakukan kasar oleh pria lain bahkan saat Gabriela menangis, Jonathan malah sibuk berbincang dengan Pak Anjas.
“Gue udah maafin elo dan jangan pernah mengulangi perbuatan seperti itu sama cewek lain. Sekarang tolong lepasin gue karena nggak ada yang perlu kita bicarain. Please ?” Gabriela bicara dengan wajah memohon dan senyuman tulus di bibirnya.
Mario menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan lalu mulai melepaskan cengkramannya. Sekarang tangannya terulur mengajak Gabriela bersalaman. Tangan Gabriela terulur, menjabat tangan Mario sambil tersenyum.
“Terima kasih karena sudah mau memaafkan gue tapi sampai kapan pun nggak akan mudah menghapuskan rasa bersalah itu dari pikiran gue. Gue suka sama elo, Gab dan perasaan ini bukan sekedar cinta monyet. Semoga aja kalau gue boleh memilih, gue akan menjadikan elo jodoh gue.”
“Jodoh di tangan Tuhan dan elo pasti akan dapat yang terbaik. Gue pulang duluan.”
Mario menghela nafas beberapa kali sambil menatap punggung Gabriela yang berjalan ke arah parkiran. Mario menoleh ke arah Jihan yang sedang menatapnya penuh ejekan dan senyuman sinis.
“Jangan terlalu jahat jadi manusia karena karma pasti bekerja pada waktunya. Semoga aja elo nggak sampai merasakan ingin mati tapi harus tetap hidup,” ujar Mario sambil tersenyum sinis lalu meninggalkan Jihan.
“Bener kan, Pak Nathan ? Akhirannya hepi ending ?” ujar Pak Anjas sambil tertawa.
“Iya, Pak Anjas memang lebih berpengalaman dari saya,” sahut Jonathan sambil kembali berjalan menuju gedung SMA.
“Gaby itu anak yang baik meski tidak cantik seperti Jihan, kakaknya, tapi sebetulnya banyak yang naksir sama dia. Bukan hanya teman satu angkatan tapi juga kakak kelas.”
“Yakin dia baik, Pak ? Selama saya mengajar, dia selalu pintar melawan saya dan membuat saya ditertawakan di depan kelas.”
“Gaby memang begitu, Pak. Kritis,” ujar Pak Imam, guru Bahasa Indonesia.
“Dia selalu berani mengungkapkan pendapatnya tapi tetap hormat sama guru. Kalau sampai Pak Nathan dipermalukan di depan kelas, mungkin karena dia sengaja mencari perhatian Bapak,” lanjut Pak Imam sambil tertawa.
“Iya, kan Pak Nathan tahu sendiri kalau banyak siswi di sini yang tertarik dan bersedia jadi kekasih Bapak,” timpal Pak Anjas sambil tertawa.
“Berat punya istri terlalu muda, Pak. Saya sukanya yang sudah matang aja.”
“Kalau mangga indramayu, mengkel lebih enak, Pak,” ledek Pak Imam sambil tertawa yang diikuti oleh Pak Anjas.
__ADS_1
Jonathan hanya tersenyum tipis. Hatinya sempat bersorak melihat Gabriela bisa cemas dan tampak ketakutan saat bertatapan dengannya. Jonathan masih suka sebal karena Gabriela sering melawan dan mendebat ucapannya. Tapi kalau ingat statusnya sebagai suami gadis itu, bukankah seharusnya dia menghampiri istrinya dan membantu mengusir pria yang sudah membuatnya cemas ?