
Lima hari berlalu dan Gaby hanya bisa menelan rasa kecewanya sendiri. Tidak ada tanda-tanda Jonathan akan menceritakan pertemuannya dengan Maya sampai harus berbohong pada Gaby.
Gaby kecewa karena pria yang sudah memenuhi ruang hatinya masih saja tidak mau terbuka kalau sudah menyangkut masalah mantan kekasihnya itu.
Besok adalah malam pergantian tahun yang pertama untuk Gaby tanpa keluarganya, tapi ia bahagia karena ada mama Hani dan Jenny yang akan sampai di Jakarta sore ini.
Gaby berjalan menuju supermarket dari arah parkiran motor. Jonathan masih bekerja hingga akhirnya ia memutuskan untuk belanja sendiri bahan-bahan keperluan acara makan malam di rumah menyambut tahun yang baru.
“Maaf, Maaf Pak.” Gaby menangkup kedua tangannya, memohon pada pria baya yang ditabraknya karena terlalu fokus pada handphone.
“Maaf, Pak,”’ujar Gaby kembali sambil menganggukan kepalanya sekilas.
Gaby mendongak bertatapan dengan pria baya yang menatapnya dengan dahi berkerut.
“Anna,” desis pria itu.
Sekarang Gaby ikut menautkan alisnya, menatap sosok pria baya di depannya dengan wajah bingung.
“Nama saya Gabriela, Pak. Anna itu nama ibu saya tapi beliau sudah meninggal.”
“Boleh kita bicara sebentar ?” tanya pria itu dengan wajah lebih ramah.
“Saya mau belanja ke dalam, apa Bapak mau menunggu ?”
“Harry, panggil saja Om Harry.” Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Bisa bicara sebentar denganmu ?”
Gaby tidak langsung menjawab, wajahnya terlihat ragu-ragu. Ia sempat melirik Om Harry dan memperhatikannya dengan seksama.
“Saya bukan sugar daddy yang sedang mencari mangsa,” ujar Om Harry sambil tertawa. “Saya hanya ingin kenal dengan putrinya Anna, sahabat saya. Wajah kalian bagai pinang dibelah dua.”
Akhirnya Gaby menganguk dan mengikuti langkah Om Harry menuju kafe ternama yang masih berada di area supermarket.
Adam ikut serta tapi ia tidak duduk satu meja dengan bossnya dan Gabriela.
”Om kenal mami darimana ?”
“Dulu Om bekerja di perusahaan milik opamu dan mengenal mami kamu dengan sangat baik, sejak Anna masih di bangku SMP.”
“Mami sudah lama meninggal.”
“Om tahu. Kamu mungkin lupa kalau Om datang melayat saat Anna meninggal dan kamu masih sangat kecil. Kalau wajahmu tidak mirip dengan Anna, mungkin Om tidak akan mengenali kamu yang sekarang sudah sebesar ini.”
__ADS_1
“Terus sekarang Om mau tanya apa ?” Om Harry tertawa melihat sikap Gaby yang masih saja waspada.
“Om dengar kamu sudah menikah padahal kelihatannya kamu masih sekolah, apa benar berita itu ? Kalau benar, sayang sekali Hendri tidak mengundang Om padahal hubungan kami cukup dekat.”
“Saya memang sudah menikah dengan pilihan mami dan karena status saya masih pelajar sekolah, pernikahan saya masih dirahasiakan.”
“Kenapa kamu buru-buru menikah ? Apa ini semua ada hubungannya dengan perusahaan Om Jerry ?”
“Om kenal baik dengan opa juga ?” tanya Gaby dengan dahi berkerut.
“Tadi kan saya bilang kalau saya pernah bekerja di perusahaan milik keluarga Anna,” sahut Om Harry sambil tertawa lagi apalagi melihat ekspresi wajah Gaby yang lucu sedang mengangguk-angguk..
“Mami tidak mau perusahaan itu jatuh ke tangan istri kedua papi atau anak-anaknya, itu sebabnya saya diminta menikah dengan pria pilihan mami yang sekarang menjadi wali sah saya.”
“Jadi Hendri tidak berhasil menguasai perusahaan dan Gina juga tidak lagi menjadi wali kamu ?”
“Om kenal juga dengan Tante Gina ?” tanya Gaby sambil kembali mengerutkan dahinya. Om Harry hanya tertawa pelan sebagai jawabannya.
“Boleh Om minta nomor handphone kamu ? Siapa tahu suatu hari nanti kita akan bertemu dan berbincang lagi lebih dari sekedar minum kopi.”
“Apa Om kenal benar-benar kenal baik dengan mami ?”
“Ya bahkan sebelum Hendri mengenalnya.”
“Om harus jalan lagi, Gaby. Senang bisa berkenalan denganmu, putrinya Anna.”
Om Harry beranjak bangun diikuti oleh Gaby dan Adam yang duduk di meja lain. Tangannya terulur untuk bersalaman dengan Gaby dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Silakan hubungi Om kapanpun, terutama kalau kamu mau menanyakan soal perusahaan. Meskipun hanya bekerja kurang dari 5 tahun, tapi Om cukup mengenal baik perusahaan peninggalan opamu.”
Gaby mengangguk dan Om Harry menepuk bahu Gaby saat berada di luar kafe.
“Boleh Om memelukmu seperti dulu kamu sering Om gendong-gendong saat kita bertemu ?”
Om Harry langsung memeluk Gaby saat gadis itu mengangguk. Tangannya kembali menepuk-nepuk punggung Gaby dengan penuh kasih sayang.
“Ingat, jangan pernah ragu menghubungi Omkalau kamu sedang dalam kesulitan.” Gaby kembali mengangguk.
Gaby masih bergeming di dekat kafe sambil memandangi punggung Om Harry dan asistennya yang akhirnya menghilang masuk ke dalam mobil.
Ada sedikit perasaan lega dalam hati Gaby, entah kenapa ucapan Om Harry membuatnya semakin optimis untuk membantu Jonathan mengatasi masalah yang sedang dihadapi perkebunan.
”Hentikan semua aktivitas di perkebunan namun jangan kasih kesempatan pada petani sekitar untuk menjual panenan mereka pada Yuanyang. Kita lihat perkembangannya lagi,” perintah Tuan Harry pada Adam saat mobil mereka perlahan meninggalkan parkiran.
__ADS_1
“Baik Tuan,” sahut Adam yang langsung mengeluarkan handphonenya.
*****
“Jo, tolong pertimbangkan permintaanku. Daddy sudah bersedia menghentikan sementara kekacauan di perkebunan dan acara malam pergantian tahun di rumah adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan penyesalanmu. Siapa tahu kedatanganmu membuat Daddy langsung menarik semua orangnya dari perkebunan kalian,” pinta Maya dengan wajah memohon.
Keduanya kembali bertemu atas permintaan Maya, tapi kali ini tidak mendatangkan Gaby untuk membuat gadis itu salah paham lagi.
“Jadi benar ada penyusup suruhan Om Harry di perkebunan kami ?”
“Nggg…maksudku mungkin saja begitu, Jo. Mereka harus masuk ke dalam perkebunan untuk membuat kekacauan, kan ?” sahut Maya dengan sedikit gugup.
“Berapa banyak orang yang ditempatkan untuk menyusupi perkebunan ?” cecar Jonathan dengan suara sedikit meninggi.
Maya menarik nafas panjang dan wajahnya langsung berubah penuh sandiwara.
“Aku tidak tahu pastinya, Jo. Aku tidak berani bertanya detilnya, tapi paling tidak Daddy bilang akan mempertimbangkannya demi aku.”
“Aku tidak lupa dengan janjiku, Maya, tapi maaf tidak mungkin aku datang menemui keluargamu besok malam. Aku sudah berjanji akan menghabiskan malam pergantian tahun dengan keluargaku.”
“Apa istrimu itu yang mengharuskannya ? Aku yakin kalau dia semakin berambisi mengatur hidupmu setelah berhasil membuatmu menikahinya dan sekarang mengurus perusahaan milik keluarganya,” gerutu Maya dengan wajah kesal, persis seperti kekasih yang cemburu dengan wanita lain.
“Gaby tidak pernah mengatur hidupku dan menuntut apapun sebagai istri. Belakangan ini aku selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan yang sangat menyita waktu hingga kurang memperhatikan mereka.”
“Tapi kedatanganmu besok adalah sesuatu yang penting bukan hanya untuk dirimu sendiri tapi terlebih untuk perusahaan milik istrimu itu.”
“Aku yakin kalau kedatanganku besok bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah pekerjaan dengan Daddy-mu. Kalau memang kamu sungguh-sungguh ingin membantu, tolong berikan aku kesempatan untuk bertemu Om Harry di kantor. Aku sudah mencobanya beberapa kali saat beliau meeting di luar tapi selalu gagal dan ditolak.”
“Tapi yang harus kamu temui bukan hanya Daddy tapi juga Mommy. Kamu lupa kalau Mommy-lah yang merasa sangat marah dan kecewa padamu. Kamu lupa bagaimana Mommy begitu membelamu saat aku berada di rumah sakit ? Mommy bahkan berjanji akan membuat Daddy menerimamu sebagai calon menantunya dan kamu tidak menyanggahnya, Jo.”
“Aku tidak lupa, Maya dan untuk semuanya itu aku hanya bisa bilang maaf termasuk juga dengan permintaanmu hari ini. Maaf Maya, aku tidak bisa dan firasatku mengatakan kalau besok bukanlah waktu yang tepat.”
Jonathan beranjak bangun karena merasa kalau percakapannya ini hanya akan berakhir dengan pertentangan dua kepentingan.
“Aku pulang dulu. Terima kasih atas segala niat baikmu untuk menolongku.”
“Jo,” lirih Maya dengan wajah sedih.
“Aku harus menemani istriku berbelanja hari ini, Maya. Aku pamit.”
Maya menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya saat Jonathan berlalu, meninggalkannya sendirian di kafe.
Bukannya kecewa, Maya malah merasakan emosi di hatinya semakin ingin meledak. Berani-beraninya Jonathan bernegosiasi dengannya dan sekarang memilih pulang demi istrinya itu.
__ADS_1
“Jangan berharap cintamu cukup dalam untuk mengatasi semua ini. Kalau kamu tidak bisa goyah maka istrimu yang akan aku buat meninggalkanmu,” geram Maya pada dirinya sendiri.