Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Cemburunya Gaby


__ADS_3

Suasana hati Gaby benar-benar dibuat kesal oleh Jonathan sejak semalam. Setelah berhasil memaksa Gaby tidur seranjang dengannya di tempat yang minimalis, pagi ini pria itu memaksanya ikut ke sekolah untuk membantunya penerimaan raport.


“Tangan kanan Pak Nathan kan masih berfungsi. Penting banget apa saya harus ikut ke dalam kelas ? Orangtua pasti nggak nyaman karena ada orang asing yang mendengar keluh kesah mereka.”


“Pertama : nggak gampang dengan satu tangan mencari raport murid yang datang tidak berurutan. Kedua : kamu bukan orang asing tapi istriku yang sudah pasti akan ikut menjaga rahasia curahan hati para emak-emak itu.”


“Ralat bukan istri tapi mantan.”


“Tahu ! Tapi nggak berlaku sejak kemarin sampai tanganku sembuh total. Aku nggak mau ada orang lain yang meraba-raba tubuhku selain kamu. Sampai saat ini kamu adalah satu-satunya perempuan, tentu aja selain mama, yang aku kasih ijin menjamah tubuhku seenaknya.”


“Yakin ?” Gaby menatap tajam dari sisi kursi pengemudi. “Dari ekspresi Pak Nathan semalam sepertinya ada perempuan lain yang pernah MENJAMAH selain saya.”


Jonathan menghela nafas, lagi-lagi ucapan Gaby mengingatkannya pada kejadian di hotel.


“Nggak usah membahas masalah yang belum jelas !” tegas Jonathan sambil membuka pintu mobil.


Mata Gaby langsung melotot, kakinya hampir saja menginjak gas begitu Jonathan menutup pintu denagn sedikit dibanting tapi akhirnya ia memilih mencabut kunci karena melihat guru sok manis itu baru turun dari mobilnya dan dari bahasa tubuhnya, perempuan itu sudah melihat Jonathan.


“Rese !” gerutu Gaby sambil turun dari mobil.


Gaby bergegas menghampiri Jonathan yang menunggunya di ujung mobil. Pria itu masih belum sadar kalau Andin sudah berjalan ke arahnya dengan wajah sok manisnya.


“Ingat, panggil aku Mas Nathan, bukan bapak dan jangan jauh-jauh dariku terlalu lama. Penampilan kamu hari ini lebih cocok jadi anak kelas 9 daripada mahasiswa semester 2.”


Gaby memutar bola matanya dengan bibir mengerucut.


“Nath.. Pak Nathan.”


Gaby melirik ke sisi kanan dan Andin sedang berjalan ke arah mereka dengan gaya khasnya : SOK MANIS !


Jonathan tersenyum bukan untuk membalas sapaan dan senyum manis Andin melainkan senyum bahagia karena melihat ekspresi wajah Gaby tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


“Selamat pagi Gabriela.”


“Pagi Bu Andin.”


Wajah Andin terlihat keruh saat melihat tangan Jonathan menggenggam jemari Gaby dan pria itu terlihat lebih cerah dan berbinar meski tangannya cedera.


“Kami duluan Bu.”


Gaby tersenyum dan menarik tangan Jonathan, meninggalkan Andin yang masih terpaku menatap keduanya.


“Kamu cemburu, Bi ?” bisik Jonathan.

__ADS_1


“Masih ada gunanya cemburu sama mantan ? Lagipula bukannya Pak… maksud saya Mas Nathan yang minta saya jadi bintang sinetron hari ini ?”


“Bukan bintang sinetron tapi istri beneran dan tidak hanya hari ini tapi selamanya. Mau Bi ?”


Gaby menghentikan langkahnya di ujung tangga.


“Setelah Pak Nathan menjelaskan ekspresi yang semalam,” bisik Gaby.


Jonathan tersenyum tipis, rasanya tidak mudah untuk meluluskan permintaan Gaby yang satu ini. Tanpa memberikan jawaban yang pasti, Jonathan menggandeng tangan Gaby menuju ruang guru.


Rasanya tidak percaya melihat wajah Jonathan begitu bahagia saat memperkenalkan Gaby pada kepala sekolah lanjut ke ruang guru. Gaby jadi teringat dengan ucapan Om Harry tentang kesungguhan Jonathan.


Di ruang guru ini, hanya wajah Andin yang terlihat sendu tapi Gaby tidak peduli. Jonathan tidak berbohong, sejak awal masuk pria itu sudah memproklamirkan dirinya sebagai pria beristri meski status mereka sudah bercerai. Dari kasak kusuk beberapa guru, Gaby sempat mendengar kalau Andin tetap nekad mendekati Jonathan meski sudah ditolak.


“Maaf mengganggu Bu Andin.”


Gaby yang mendadak jahil berhenti di samping meja Andin yang sedang merapikan berkas.


“Saya sampai lupa mengucapkan terima kasih secara khusus karena Ibu sudah repot-repot membawa dan menemani suami saya ke rumah sakit, meskipun maaf sedikit aneh karena Ibu tidak mengajak guru lain untuk menemani. Tidak mudah loh setir mobil sambil menenangkan orang yang sedang kesakitan.”


Suara Gaby yang tidak terlalu pelan membuat Jonathan mendongak. Posisi mejanya memang tidak jauh dari meja Andin.


“Akhirnya Bu Andin harus berhadapan langsung sama pawangnya Pak Nathan,” celetuk Pak Tino, guru fisika yang mejanya persis di sebelah Jonathan. Tentu saja suaranya pelan, tidak bisa didengar yang lainnya.


“Dia murid saya yang paling jago debat, Pak,” sahut Jonathan ikut tertawa pelan sambil memperhatikan Gaby dari tempat duduknya.


“Kemarin saya panik dan buru-buru membawa Pak Nathan supaya cederanya tidak makin parah,” sahut Andin berusaha memasang wajah tenang.


“Saya dengar suami saya jatuh saat lagi main futsal dengan anak-anak. Apa Ibu yang membawanya juga dari lapangan sampai ke mobil ?”


Raut wajah Andin mulai berubah merasa dirinya sedang diinterogasi apalagi ia sempat melirik beberapa guru menatap ke arah mereka.


“Saya menunggu di mobil. Ada Pak Rama dan 2 anak futsal yang membawa Pak Nathan ke mobil.”


“Dan Ibu nggak berniat mengajak salah satu dari mereka bertiga untuk menemani ke rumah sakit ?”


“Karena saya pikir….” Andin mulai panik sampai bingung menjawab pertanyaan Gaby. Mau berbohong, Pak Rama ada di ruangan


Kemarin Pak Rama sempat menawarkan diri karena Jonathan tampak kesakitan dan mungkin saja butuh dipapah saat turun dari mobil, tapi Andin bilang di rumah sakit banyak perawat yang bisa membantunya.


“Ini bukan lagi ulangan semesteran kok, Bu, nggak perlu remedial juga, jadi nggak ada jawaban benar salah,” ujar Gaby sambil terkekeh.


Andin masih diam, bingung mencari jawaban yang pas supaya tidak di skak balik oleh Gaby.

__ADS_1


“Biar bagaimanapun saya tetap berterima kasih atas kebaikan Ibu yang begitu perhatian pada suami saya .”


Gaby sampai membungkukkan badannya sedikit sebagai ucapan terima kasih, tidak lupa senyum manis dan tatapan tajamnya membuat Andin makin salah tingkah.


“Oh iya hampir saya lupa, apa Ibu ada niat menyimpan dompet, handphone dan cincin kawin suami saya ?”


“Tentu saja tidak !”


Andin langsung menjawab spontan dengan nada tinggi. Emosinya mulai terpancing selain karena panik, ia merasa pertanyaan Gaby bertujuan untuk membuatnya malu. Buru-buru Andin mengambil tasnya dan mengeluarkan satu persatu barang milik Jonathan yang Gaby tadi sebutkan satu persatu.


Dari mejanya Jonathan tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Jiwa berdebat dengan guru ternyata masih kuat dalam diri istrinya.


“Terima kasih atas perhatian Ibu sampai menyempatkan waktu mengisi baterai handphone suami saya sampai penuh,” ujar Gaby saat menyentuh layar handphone Jonathan dan tanda daya baterainya terisi sempurna.


Jonathan yang tidak ingin Gaby memperpanjang aksinya akhirnya bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Gaby.


“Sudah waktunya ke kelas untuk siap-siap, Bi. Bantu aku ambil raport dulu di Tata Usaha ya.”


Gaby mengangguk dan tersenyum sekilas pada Andin yang terlihat kesal dan senyum terpaksa.


”Kamu kelihatan kayak istri yang lagi cemburu, Bi. Aku senang banget melihatnya.”


“Asal Mas Nathan beneran aja nggak ada hubungan sama dia. Jangan-jangan….” Gaby menoleh dan matanya menyipit, menelisik wajah Jonathan yang sedang menggeleng.


“Kalau aku beneran ada apa-apa sama dia, mana mungkin aku membiarkan kamu mempermalukan dia di ruang guru gitu. Bisa-bisa rahasiaku langsung dibongkarnya.”


“Saya nggak berniat mempermalukan Bu Andin. Saya hanya mengucapkan terima kasih dan menanyakan langsung karena keputusannya mengantar Mas Nathan sendirian memang aneh kan ?”


“Jiwa debatmu ternyata sudah mendarah daging ya ? Aku jadi ingat dengan perdebatan kita di kelas kalau ada soal matematika yang menurut kamu dalam tanda petik tidak masuk akal.”


“Memangnya Mas Nathan nggak mikir sampai ke sana pas Bu Andin bawa Mas Nathan sendirian ?”


“Bi, rasa sakitnya tuh sukit diucapkan dengan kata-kata. Mana aku mikir pergi sama siapa, yang penting aku bisa segera mendapat pertolongan. Malah yang aku takuti gimana kalau ada yang putus dan tidak bisa balik lagi, aku bakal cacat seumur hidup dan semakin nggak punya keberanian untuk mengajak kamu balik lagi.”


“Gombal recehnya keluar deh, baru dibelain sedikit.”


“Beneran Bi, kamu boleh tanya sama guru yang mana aja. Mereka tahunya aku sudah menikah dengan mantan muridku pula.”


“Asli gombalan Mas Nathan receh banget !” cibir Gaby sambil tertawa pelan.


Langkah Gaby terhenti saat matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk di depan kelas yang Jonathan masuki. Meski wajahnya sedang menunduk karena sibuk dengan handphone, tapi Gaby sangat kenal dengan wajah itu.


“Doni ?” Pria itu mendongak dan matanya membelalak saat melihat Gaby berdiri di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2