Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Berakhir


__ADS_3

“Gimana ?”


“Satpam dan resepsionis bilang Gaby udah lama nggak kemari.”


“Gue udah hubungi Danu. Hanya dia dan Bimbim yang ada di Jakarta dan nggak kontak dengan Gaby seminggu ini. Yang tiga lainnya sedang keluar kota, liburan sama keluarga.”


Jonathan kembali meremas rambutnya sambil berdiri di samping mobil. Pikirannya buntu, bingung mencari Gaby kemana lagi.


“Apa Gaby pulang ke rumah ?” tanya Kendra.


“Kita coba pulang. Tapi bukannya siang ini ada rapat di kantor ?”


“Gue udah minta tolong Om Sofian mengatur ulang dan alasannya juga udah gue ceritain juga ke beliau.”


Jonathan mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan dia memilih diam sambil menyandarkan kepala pada pintu dan menatap ke samping.


30 menit kemudian mobil Kendra sudah berhenti di depan rumah Jonathan. Tidak ada mobil Gaby terpakir di garasi membuat Jonathan pesimis istrinya ada di rumah.


Kendra ikut mencari ke segala penjuru di lantai 1 dan menyusul Jonathan ke kamarnya karena pria itu belum keluar lagi dan pintu kamar terbuka lebar.


Kendra menghela nafas saat melihat lemari pakaian dan laci-lacinya terbuka. Kemungkinan Gaby buru-buru memasukkan semua pakaiannya. Jonathan sendiri duduk di lantai bersandar pada ranjang sedang memijat pelipisnya.


“Kenapa gue begini tolol ya, Ken ? Seharusnya gue nggak menemui Maya di ruangan gue, sendirian pula. Seharusnya gue mendorong dia kalau perlu menghardiknya juga karena sudah berani menyentuh suami orang,” ujar Jonathan sambil tertawa getir.


“Nggak usah menyesali yang udah terjadi. Sadar atau nggak, mau jujur atau menyangkal, saat Maya mencium lo, hati kecil elo ingin memastikan juga kalau perasaan elo ke dia udah nggak sama. Gue sahabat elo, udah paham dengan sifat lo Nathan. Perasaan bucin ke Maya masih suka mengganggu elo.”


”Nggak begitu, Ken.”


“Gaby mungkin masih polos dan bodoh soal cinta, Nathan, tapi hatinya bisa melihat dan membaca perasaan orang lain hanya lewat tatapan mata. Kenapa dia bisa begitu marah saat elo bersandiwara ? Bukan karena merasa dibohongin atau dipermainkan sama suaminya tapi karena dia melihat jauh ke dalam hati elo. Tatapan elo ke Maya saat di restoran bukan sandiwara.”


“Tapi gue benar-benar nggak merasakan apapun saat Maya mencium gue tadi.”


“Akhirnya itu yang elo rasakan setelah elo memiliki Gaby seutuhnya,” sindir Kendra.

__ADS_1


“Kira-kira Gaby kemana ya, Ken ?”


“Elo itu suaminya, kenapa nanya ke gue ? Mentang-mentang gue asisten lo jadi harus tahu semuanya ? Coba elo cek di internet, ketik Gabriela istrinya Jonathan ada dimana, siapa tahu aja bisa ketemu,” sewot kendra dengan wajah kesal.


Jonathan diam, tidak tersinggung. Ia menatap ke layar handphone dan kembali mencoba menekan nomor Gaby tapi kondisinya masih sama, nomor itu tidak aktif lagi. Terakhir Jonathan berhasil menghubungi nomor itu saat sampai di lobby.


“Kasih tahu nyokap lo dulu sebelum Tante Hani menerima surat gugatan cerai yang kedua kalinya. Siap-siap aja menerima situasi yang terburuk, elo harus menerima perceraian dengan Gaby.”


Kendra pun meninggalkan Jonathan yang masih duduk di lantai dan matanya mulai berkaca-kaca.


*****


Sudah seminggu Gaby menghilang tanpa kabar. Mama Hani pun sudah kembali ke Jakarta dan tidak mengijinkan Jonathan tinggal bersamanya sampai Gaby ditemukan kembali. Akhirnya Jonathan memilih tinggal di apartemen milik Gaby, sambil berharap istrinya akan pulang ke tempat itu entah kapan.


Sidang perkara pembakaran gudang kantor pun sudah digelar untuk pertama kalinya namun Jonathan tidak dihadirkan sebagai saksi meskipun Leo sudah mengungkapkan alasan ia menyuruh orang untuk melakukan pembakaran.


“Ada masalah penting, Om ?” tanya Jonathan saat Om Sofian memintanya datang ke ruang rapat di lantai 5 usai menghadiri sidang.


“Tergantung dari sisi mana kamu melihatnya.”


Jonathan mengerutkan dahi saat menyusul ke ruang rapat bersama Kendra karena bukan hanya Om Sofian yang sudah duduk di sana tapi juga hadir Pak Iqbal, pengacara keluarga Gaby.


“Om tidak akan bertele-tele, Nathan. Kamu pasti sudah tahu siapa Pak Iqbal ini. Kita akan membicarakan masalahmu dan Gaby.”


“Apa Om sudah bertemu dengan Gaby ? Bagaimana keadaannya, Om ? Apa saya bisa menemuinya, sebentar nggak apa-apa.”


“Om memang sudah bertemu Gaby, Nathan dan maaf kalau keputusan ini terpaksa harus Om jalankan. Gaby sudah memberi ultimatum, pilih Gaby atau kamu. Om sangat tidak ingin memilih salah satu dari kalian tapi mandat yang diberikan Tuan Hendri sebelum meninggal sangat jelas, Om harus mengakhiri pernikahan kalian dan mengambil alih posisimu sebagai wali Gaby jika dalam pernikahan kalian Gaby tersakiti.”


“Jadi saya akan bercerai dengan Gaby ?”


Bagai disambar petir di siang hari, Jonathan nampak terkejut dan lemas begitu kepala Om Sofian mengangguk.


“Gaby tinggal sebatang kara di dunia ini, kalau Om mempertahankan pernikahan kalian maka Gaby akan menghilang dan sulit diminta kembali. Kondisi itu membuat Om harus mengambil keputusan ini. Tolong tandatangani surat permohonan cerai ini dan surat pelepasanmu sebagai wali Gaby.”

__ADS_1


Wajah Jonathan terlihat sedih saat melihat 2 berkas di hadapannya.


“Tolong secepatnya juga kamu buat surat pengunduran diri sebagai CEO di perusahaan.”


Kali ini Kendra ikutan terkejut, tidak menyangka kalau Jonathan akan kehilangan segalanya dalam sekejap mata.


“Om akan mencarikan pekerjaan yang baru untukmu, kamu tinggal pilih mau kembali jadi guru atau kerja kantoran.”


“Tidak usah repot, Om. Saya akan mencari pekerjaan sendiri.”


“Lalu siapa yang akan menggantikan Nathan, Om ?”


“Secara hukum, Om yang akan menggantikan posisinya tapi Gaby memutuskan kalau ia akan kuliah sambil bekerja di perusahaan, jadi Gaby akan menjadi CEO bayangan sampai umurnya cukup.”


“Saya akan menandatangani semua ini dan besok saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya, Om tapi dengan satu syarat, tolong berikan saya kesempatan untuk bertemu dengan Gaby.”


“Maaf Nathan, bukan Om yang memutuskan kamu bisa bertemu dengan Gaby atau tidak tapi dia sendirilah yang memutuskannya. Tidak masalah kamu tidak mau menandatangani surat ini karena Pak Iqbal akan melakukan segala cara untuk meresmikan perceraian kalian dan pemberhentianmu dari perusahaan.”


Jonathan tidak ingin berdebat lagi. Ia hanya sanggup menghela nafas beberapa kali dan menandatangani kedua dokumen yang sudah disiapkan di hadapannya.


“Dan untukmu Kendra, atas permintaan Gaby, kamu boleh memilih tetap bekerja di perusahaan namun dipindahkan ke cabang Kendal atau ikut mengundurkan diri bersama Jonathan.”


Kendra menghela nafas, Gaby sudah memikirkan semuanya. Ia tidak ingin Kendra menjadi mata-mata untuk Jonathan.


“Saya akan ikut mengundurkan diri bersama Jonathan,” tegas Kendra.


“Ken,” ujar Jonathan ingin mencegah keputusan sahabatnya.


“Sekarang atau nanti Gaby pasti akan membuat gue nggak betah dan keluar dari perusahaan,” ujar Kendra dengan senyuman getir.


“Sorry, Ken,” lirih Jonathan.


“Dan yang terakhir, Nathan. Gaby minta supaya kamu tidak menempati apartemen miliknya, jadi silakan kamu mencari tempat tinggal baru secepatnya.”

__ADS_1


Jonathan mengangguk, menerima semuanya dengan pasrah membuat Kendra merasa iba melihat nasib sahabatnya yang berantakan hanya karena ketidaktegasannya sendiri.


__ADS_2