
Gaby mengerjapkan matanya dan mencari sumber bunyi. Handphone Jonathan yang ada di nakas menyala dan bergetar, Gaby langsung meraihnya dan terlihat nama Kendra di layar.
“Gudang kebakaran, Nathan. Gue jemput elo sekarang.”
“Ini Gaby, Kak. Mas Nathan tidur.”
”Tolong dibangunin, Gab. Aku jalan ke sana 5 menit lagi.”
Belum sempat Gaby bertanya, sambungan telepon sudah diputus Kendra.
“Siapa, Bi ?” Jonathan membuka matanya perlahan.
“Kak Kendra, kasih kabar kalau gudang kebakaran.”
“Beneran, Bi ?” Jonathan langsung terlonjak dengan mata membelalak dan duduk di atas ranjang.
“Jangan langsung bangun seperti itu. Gaby belum sempat nanya detil, Kak Kendra udah tutup telepon. Kak Kendra akan jemput Mas Nathan.”
Jonathan bergegas turun dari ranjang dan masih sedikit sempoyongan ia keluar kamar untuk membasuh wajah di kamar mandi.
Gaby sendiri bergegas menyiapkan pakaian ganti untuk Jonathan dan dirinya sendiri.
“Kamu mau ngapain ?” tanya Jonathan saat berpapasan dengan istrinya di pintu kamar dan melihat Gaby membawa pakaiannya keluar.
“Ganti baju. Gaby mau ikut.”
Jonathan langsung menggandeng istrinya masuk kembali ke kamar. Diliriknya jam dinding masih pukul 02.30 pagi.
“Hari ini Gaby kan masih ada ulangan semester. Fokus sama urusan sekolah dulu, lagipula kondisi di sana pasti kacau. Aku nggak mau membiarkan kamu sendirian tapi tidak bisa juga menemani kamu terus karena banyak yang harus diurus.”
“Tapi Mas Nathan…” Jonathan mengusap wajah Gaby sambil tersenyum.
“Aku paham kalau perusahaan itu milikmu tapi saat ini aku ingin kamu mempercayakan semuanya padaku. Kita masih belum tahu penyebabnya dan aku pasti akan memberikan kabar terbaru padamu. Dan yang pasti aku membutuhkanmu untuk menenangkan Mama. Beliau pasti terkejut saat bangun kalau sampai kita berdua nggak ada.”
Gaby menghela nafas, meskipun tidak rela tapi ia berusaha percaya kalau keputusan Jonathan untuk kebaikannya juga.
“Semoga bisa konsen mengerjakan soal hari ini,” gumam Gaby sambil menghela nafas.
Jonathan tertawa pelan dan mencium kening lalu kedua pipi dan akhirnya bibir Gaby.
“Ingat yang ini aja supaya semangat mengerjakan soal ulangannya,” ujar Jonathan setelah melepaskan ciumannya.
__ADS_1
Wajah Gaby langsung merona antara malu dan bahagia, apalagi Jonathan lanjut berganti baju di depannya tanpa menyuruh Gaby keluar kamar atau berbalik.
”Udah nggak usah ditutup matanya, belajar mulai membiasakan diri sama suami sendiri,” ledek Jonathan sambil memakai celana panjangnya.
Gaby makin salah tingkah, wajahnya bergerak ke sana kemari menghindari bertatapan langsung dengan Jonathan.
Hingga 10 menit kemudian handphone Jonathan kembali bergetar dan nama Kendra ada di sana.
“Sebentar, gue lagi siap-siap keluar.”
Jonathan melarang Gaby mengantarnya sampai ke gerbang karena suasana di luar sepi dan masih grlap.
“Hati-hati,” ujar Gaby sambil menarik ujung jaket Jonathan yang berjalan ke pintu.
“Kamu juga hati-hati di rumah. Langsung kunci pintu,” sahut Jonathan sambil berbalik badan dan memeluk istrinya.
“Ternyata begini nyaman punya istri perhatian kayak kamu.”
“Sama, ternyata sangat menenangkan punya suami yang sudah dewasa. Selalu tahu apa yang harus dilakukan. Hati-hati.”
Gaby melepaskan pelukannya dan tersenyum, mengantar Jonathan sampai pria itu menutup gerbang depan.
****
“Gudang stok barang terbakar tapi penyebabnya belum diketahui. Jam 1 tim keamanan sempat patroli dan kondisi aman, tidak ada yang mencurigakan dan kondisi jaringan listrik juga baik-baik saja.”
“Sampai kapan urusan ini selesai ?” gumam Jonathan.
“Maksud lo ini semua ada hubungannya dengan Om Harry ?” Jonathan menghela nafas panjang.
“Gaby sempat bilang kalau ini semua mungkin saja bukan perbuatan Om Harry tapi Maya.”
“Jangan bicara apa-apa dulu sebelum kita mendapatkan bukti, Nathan. Bisa-bisa mereka malah menuntut elo balik dengan alasan pencemaran nama baik.”
“Hmmmm.”
45 menit kemudian mobil Kendra memasuki kawasan pergudangan. Sudah banyak polisi yang berjaga di sana. Tidak lama mobil yang membawa Om Sofian sampai juga di lokasi.
Beberapa manajer perusahaan yang datang ke lokasi dan penanggungjawab gudang langsung mengadakan rapat di gedung operasional bersama Jonathan, Om Sofian dan Kendra.
Terlihat Jonathan beberapa menghela nafas dan memijat pelipisnya dengan tangan menopang di atas meja saat mendengar laporan dari para peserta rapat.
__ADS_1
Apapun penyebab musibahnya belum bisa dipastikan karena harus menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.
Satu hal yang membuat kepala Jonathan langsung sakit adalah gangguan stok untuk memenuhi pesanan para pelanggan yang harus segera dipenuhi. Untuk masalah ini tidak mungkin mengambilnya dari pabrik lain seperti kejadian di perkebunan.
“Kalau begitu, untuk beberapa saat ini minta pabrik meningkatkan angka produksi namun jangan sampai melebihi kapasitas mesin,” ujar Jonathan.
“Buat rencana pengiriman berdasarkan data pemesanan yang masuk dan laporannya kirim ke saya sebelum melakukan distribusi sementara bagian gudang memastikan sisa stok yang tersedia.”
Om Sofian tersenyum arif sambil menutup mulutnya. Bukan menertawakan Jonathan yang sedang kepusingan menghadapi musibah ini, tapi bangga karena Jonathan adalah pria cerdas yang cepat beradaptasi dengan posisi yang dipercayakan kepadanya.
Rapat usai karena masih banyak yang harus dilakukan di lokasi. Semua orang keluar ruangan, hanya tersisa Jonathan, Kendra dan Om Sofian.
“Kenapa ?” tanya Om Sofian saat melihat Jonathan bersandar di kursi sambil menyugar rambutnya.
“Hanya kepikiran kalau kejadian ini disebabkan oleh orang yang sama dengan pengacau di perkebunan,” sahut Jonathan.
“Jangan buru-buru ambil kesimpulan dan membebani pikiran terhadap yang belum pasti. Fokuslah pada hasil penyelidikan polisi dulu sambil memikirkan masalah distribusi.”
“Iya, Bro. Elo bakal pusing banget kalau bertahan dengan dugaan yang belum pasti. Kalau sudah terbukti ada sabotase, kita pikirkan lagi langkah selanjutnya,” timpal Kendra.
Jonathan mengangguk-angguk dan beranjak dari kursinya.
“Kita lihat lokasi, semoga apinya sudah bisa dipadamkan dan tidak merembet ke gudang lainnya.”
Om Sofian dan Kendra mengikuti Jonathan keluar dari ruang rapat. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan begitu sampai di lokasi ketiganya bernafas lega karena api sudah berhasil dipadamkan.
Satu gudang barang siap kirim hilang dari pandangan mata, hanya terisa beberapa bagian tembok yang masih kokoh berdiri.. Sebagian stok berhasil dikeluarkan, tapi jumlahnya kurang dari setengah isi gudang.
Jonathan menghela nafas dan ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Begitu banyak masalah yang membuat perusahaan goyang sejak ia memegang tanggungjawab sebagai pimpinan di sini.
“Jangan terlalu terbebani dengan semua masalah ini. Soal perkebunan, kita sama-sama tahu penyebab yang sebenarnya. Dan dugaan soal kebakaran ini jangan membuat akal sehatmu terpecah untuk sesuatu yang belum pasti,” nasehat Om Sofian sambil menepuk-nepuk bahu Jonathan.
Pria itu tersenyum kecut dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Entah benar atau salah dugaan saya kali ini, sepertinya sudah waktunya saya mengambil langkah untuk menyudahi tindakan gila ini.”
“Maksudmu ?”
Jonathan melirik ke arah Kendra yang sedang berbicara dengan seorang polisi. Ia menggeser posisinya mendekati Om Sofian dan setengah berbisik pada petinggi senior itu.
“Kamu yakin, Nathan ?” Mata Om Sofian sampai membola mendengar ucapan Jonathan.
__ADS_1
“Yakin, Om,” tegasnya sambil mengangguk. “Tolong jangan beritahu Kendra dulu.”
Om Sofian terdiam, memikirkan rencana Jonathan dan belum bisa memutuskan mendukungnya atau melarang pria itu.